Kontingen LPPD Menuju Pesparawi Nasional (Bagian-1)
Penundaan karena Efisiensi Jadi Berkah
Tertunda setahun karena efisiensi, kontingen LPPD Kalsel justru makin solid. Mereka membidik medali di Pesparawi Nasional 2026.
SHEILLA FARAZELA, Banjarbaru
Ruang tamu utama Kantor Gubernur Kalimantan Selatan mendadak bergemuruh, Selasa (9/6). Komposisi nada khas mengalun merdu dan rapi. Puluhan pasang mata di ruangan itu tahu: rombongan ini sudah siap bertarung.
Mereka adalah Kontingen Lembaga Pengembangan Paduan Suara Gerejawi (LPPD) Kalimantan Selatan.
Tim beranggotakan 65 orang tersebut membawa pundak nama baik Banua ke ajang bergengsi Pesparawi (Pesta Paduan Suara Gerejawi) Tingkat Nasional 2026 di Manokwari, Papua Barat.
Perjalanan menuju Manokwari sejatinya adalah penantian yang tertunda. Sesuai siklus tiga tahunan, setelah gelaran di Yogyakarta pada 2022 lalu, panggung akbar ini harusnya digelar pada 2025.
Namun, badai efisiensi anggaran di Kementerian Agama memaksa kalender bergeser. Mundur ke Juni 2026.
"Persiapan kami sudah berjalan empat hingga lima bulan, sejak Februari lalu," ujar Ketua Umum LPPD Kalimantan Selatan Andi Widyarto.
Penundaan setahun tersebut, ujar Andi, ternyata menjadi berkah tersamar. Waktu latihan yang panjang membuat harmonisasi vokal antar-personel kian solid.
Padahal, tantangan tahun ini jauh lebih pelik dibanding saat berlaga di Yogyakarta. "Geografi dan keterbatasan fasilitas akomodasi di Manokwari harus benar-benar memutar otak. Keberangkatan 65 personel terpaksa kami bagi menjadi dua gelombang demi menyiasati keterbatasan tempat di sana," ujarnya. (bersambung)
Editor : Muhammad Rizky