Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Bahasa Indonesia Itu Susah, Tapi Tiba-Tiba Tulisan Rapi Berjemaah

Zulvan Rahmatan • Senin, 8 Juni 2026 | 18:12 WIB
Silviana Pemimpin Redaksi LPM Sukma UIN Antasari Banjarmasin 22 Tahun
Muhammad Fadel Fahlevi Pemimpin Umum LPM INTRO FISIP Unlam Banjarmasin 21 Tahun
Muhammad Husain Pemimpin Umum LPM Lentera Uniska MAB Banjarmasin 23 Tahun
Silviana Pemimpin Redaksi LPM Sukma UIN Antasari Banjarmasin 22 Tahun, Muhammad Fadel Fahlevi Pemimpin Umum LPM INTRO FISIP Unlam Banjarmasin 21 Tahun, Muhammad Husain Pemimpin Umum LPM Lentera Uniska MAB Banjarmasin 23 Tahun

 

ZPEAK UP!!!

Masyarakat Indonesia kerap dikaitkan dengan literasi membaca yang minim. Jangan-jangan, bukan hanya literasi baca, namun juga literasi menulis dan berbahasa.

“Bahasa Indonesia itu susah.” Kalimat itu terlontar dari seorang yang sempat menjadi redaktur saya di kantor.

Sekilas terdengar sederhana. Coba pikirkan lebih jauh, jangan terkejut jika ada benarnya.

Bahasa Indonesia yang dimaksud bukan pecahan kata yang setiap hari dilontarkan, melainkan cara penyebutan dan penulisan yang benar sesuai kaidah.

Kata “acuh” kerap dimaknai sebagai tidak peduli. Padahal kenyataannya, sesuai kaidah baku, kalimat tersebut memiliki makna peduli.

Selama ini, masyarakat Indonesia sering dikaitkan dengan minat baca yang rendah.

Kata lain, minim leterasi dan budaya membaca.

Jangan-jangan, persoalannya bukan hanya membaca, melainkan juga menulis. Contohnya, penggunaan tanda baca yang sering diabaikan.

Kalimat dibuat terburu-buru. Bahkan, membedakan kata baku dan tidak baku pun tidak tahu.

Bahasa akhirnya dipakai sekadar agar cepat dipahami, bukan lagi agar tepat makna.

Padahal, menulis bukan sekadar merangkai kata. Ada logika, ketelitian dan kemampuan berpikir di dalamnya.

Tulisan yang baik mencerminkan cara seseorang memahami sesuatu. Sebelum ada AI, ruang pekerjaan untuk penulis itu terbuka lebar.

Tentu, skill menulis yang baik masih diperlukan. Bayangkan, sebuah produk yang menyertakan detail penjelasan justru ditulis asal-asalan.

Pasti ada alasan, dasar dan aturan. Profesi tersebut kerap disebut sebagai writer perusahaan.

Padahal, Bahasa Indonesia digunakan setiap hari, namun belum tentu benar-benar dikuasi.

Atau jangan-jangan, banyak yang belum tahu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) padahal telah ada, menjadi rujukan dalam menentukan kaidah yang benar.

Fenomena ini tentu sangat ironi. Terutama jika terjadi di kalangan akademis.

Mahasiswa dekat dengan penulisan. Namun sekarang, tulisannya mendadak rapi berjemaah, menuai keheranan yang jarang dipikirkan.

Baik di makalah, proposal, presentasi maupun skripsi. Coba tanya sedikit saja, misal, apa perbedaan “di” dipisah dan “di” digabung.

Atau kenapa bagian ini bisa diawali dengan huruf kapital? Jika tak bisa memberikan dasar yang cukup, maka bisa diyakini itu hasil bantuan AI.

Apakah Kamu masih merasa bahwa Bahasa Indonesia itu mudah ?

Apa pendapat Kamu tentang literasi menulis yang benar?

Pernahkah Kamu mencoba mengerjakan tugas dengan benar, menulisnya tanpa mengandalkan AI? Bagaimana rasanya?

Bagaimana pendapat Kamu setelah mengetahui bahasa dan penulisan yang benar terdapat kaidahnya?

Pemimpin Umum LPM Lentera Uniska, Muhammad Husain mengakui hal tersebut. Bahasa Indonesia nampak mudah, karena setiap hari digunakan.

Masalahnya muncul jika mulai mencermati lebih dalam. Seperti halnya membahas aturan penulisan, penggunaan tanda baca, pemilihan kata baku, serta makna kata yang sesuai kaidah.

“Ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan,” ungkapnya. Minggu (7/6/2026).

Ia menilai, banyak kata yang digunakan nyatanya memiliki makna yang berbeda dari yang dipahami masyarakat selama ini.

Hal tersebut menunjukkan, menguasai Bahasa Indonesia tidak hanya sekadar bisa berbicara, tetapi juga memahami aturan dan penggunaannya secara tepat.

Membahas literasi menulis, pria 23 tahun ini menyoroti pentingnya kemampuan alami, setidaknya, hal tersebut dinilai dapat mencerminkan cara seseorang berpikir.

“Ketika seseorang mampu menulis dengan baik, biasanya ia juga mampu menyusun gagasan secara teratur dan logis,” jelas Husain.

Sebaliknya, tulisan yang kurang terstruktur sering kali membuat pesan yang ingin disampaikan menjadi sulit dipahami.

Selain itu, tambahnya, kemampuan menulis juga membantu mengurangi kesalahpahaman dalam komunikasi.

“Karenanya, literasi menulis bukan hanya soal mengikuti aturan bahasa, tetapi juga tentang bagaimana menyampaikan ide dan informasi secara jelas kepada orang lain,” tukasnya.

Ia mengaku, tetap memiliki pengalaman menulis secara alami. Namun, prosesnya memang terasa lebih lama dan kadang cukup melelahkan.

Alasannya, memang terdapat proses yang lebih panjang, mencari referensi sendiri, membaca berbagai sumber, memahami materi, lalu menyusunnya menjadi tulisan yang utuh.

Namun, dari proses tersebut, Husain merasa pemahaman terhadap materi menjadi lebih mendalam karena setiap bagian harus dipikirkan dan ditulis sendiri.

Selain itu, kemampuan menulis, menganalisis dan menyusun argumen juga lebih terlatih secara otomatis.

Meski begitu, menurutnya, AI juga tetap dapat menjadi alat bantu yang bermanfaat.

Tetapi, proses belajar dan berpikir tetap harus dilakukan oleh diri sendiri agar tetap memiliki kemampuan sendiri.

Setelah masuk LPM, Husain menyebut baru mengetahui bahwa bahasa dan penulisan yang benar memiliki kaidah.

“Bahasa dan kaidah penulisan ternyata bukan alat komunikasi biasa. Di dalamnya terdapat aturan yang berfungsi untuk menjaga kejelasan dan ketepatan makna,” katanya.

Ia menekankan, mengetahui aturan bahasa bukan berarti membuat bahasa menjadi kaku, melainkan membantu untuk menggunakan bahasa secara lebih tepat dan efektif.

Sementara itu, Pemimpin Redaksi LPM Sukma, UIN Antasari Banjarmasin, Silviana berpendapat Bahasa Indonesia terasa mudah. Sebab digunakan setiap hari, termasuk ia sendiri.

Namun, jika bicara terkait penulisan sesuai dengan kaidah yang benar, Silviana menekankan rasanya tetap tidak semudah yang dibayangkan.

“Ada banyak aturan yang perlu dipahami, mulai dari ejaan, tanda baca, pemilihan kata, hingga susunan kalimat agar maknanya tepat,” tekannya.

Menurutnya, literasi menulis yang benar sangat penting. Pasalnya, dapat membantu individu menyampaikan gagasan dengan jelas dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.

“Kemampuan penulis ini juga menunjukkan ketelitian dan cara berpikir kita. Bukan hanya kebutuhan akademik, tapi juga keterampilan yang bermanfaat dalam keseharian maupun dunia kerja,” jelasnya.

Menerapkan penulisan yang benar tanpa menggunakan tools AI memang butuh waktu dan usaha lebih. Seperti halnya mencari referensi, memahami materi, lalu menyusunnya menjadi tulisan yang runtut.

Meski terasa lebih sulit dan melelahkan, ia merasa lebih memahami isi tugas yang dikerjakan.

“Rasanya itu beda dengan kita menggunakan AI dan ada kepuasan tersendiri karena hasilnya benar-benar pikiran dan usaha sendiri,” ungkapnya.

Setelah mengetahui bahasa dan penulisan memiliki kaidah yang jelas, wanita 22 tahun ini menjadi lebih sadar bahwa menulis itu tidak bisa dilakukan sembarangan.

Kaidah dibuat untuk membantu agar pesan yang disampaikan lebih tepat dan mudah dipahami oleh orang lain.

“Saya juga merasa perlu untuk terus belajar dan memperbaiki kemampuan berbahasa agar dapat menulis dengan lebih baik dan lebih bertanggung jawab,” tandasnya.

Di sisi lain, Pemimpin Umum LPM INTRO, FISIP Unlam Banjarmasin, Muhammad Fadel Fahlevi menilai mudah atau tidaknya Bahasa Indonesia tergantung konteks penggunaannnya.

Dalam konteks sehari-hari, ia rasa cukup mudah dipahami. Terutama pada kosa kata yang umum digunakan.

Meski pada kenyataannya, tetap masih terdapat marak kekeliruan kesesuaian kata baku dan arti sebenarnya yang dialami ditengah masyarakat.

“Saya rasa, memang tidak semua orang dapat memahami dan menghasilkan kata atau penulisan yang benar sesuai kaidah,” tuturnya.

Meski demikian, Fadel menegaskan, literasi menulis yang benar harus menjadi hal mendasar untuk dikuasai, terlebih mahasiswa itu sendiri.

 

Karena menurutnya, literasi menulis yang benar akan membuat seseorang memiliki berbagai cabang kemampuan mendasar yang cukup detail.

Seperti cara berpikir yang runut, terstruktur dan pemahaman yang jauh lebih baik dalam memahami suatu teks atau keadaan.

Dengan mencoba mendisiplinkan hal tersebut, pria 21 tahun ini merasa lebih personal dalam hal penyelesaian pekerjaan, seperti tugas kuliah.

Rasanya tentu lebih puas dibandingkan selalu mengandalkan tools AI secara instan, apalagi tanpa mengetahui dasar yang jelas dari hasil pekerjaan tersebut.

Menariknya, kata Fadel, bahasa dan penulisan yang merujuk pada kaidah sebenarnya sudah menjadi mata pelajaran yang diperkenalkan dan diajarkan sejak duduk di bangku SD.

“Saya rasa kaidah memang diperlukan untuk menjaga standar umum pada konteks akademis. Padahal itu pelajaran mendasar di SD,” cetusnya.

Untuk itu, penggunaan kaidah yang sudah ditetapkan dapat menghindari dibuatnya tulisan atau penyebutan yang sembarangan tanpa struktur yang jelas.

Editor : Muhammad Rizky
#ZPEAK UP #bahasa indonesia