Mampir ke Warung Bulek Mie SMK YPK (bagian-3)
Saling Lempar Guyonan dengan Panggilan Aneh-aneh
Di balik meja racik, seorang perempuan paruh baya berjilbab hitam mengamati interaksi para pelanggannya dengan senyum jernih.
M FADLAN ZAKIRI, Banjarbaru
Dia adalah Bulek Mie, begitulah para anak-anak gaul zaman itu memanggilnya.
Kerutan halus di sudut matanya adalah penanda ribuan mangkuk mi yang telah ia sajikan berganti tahun.
Bagi Bulek Mie, riuh rendah anak sekolah bukanlah sebuah gangguan. Justru, itulah nyawa dari warungnya yang sederhana ini.
Ketika ditanya bagaimana perasaannya melihat anak-anak didiknya tumbuh dewasa dan sesekali kembali datang, matanya berbinar menyiratkan kerinduan mendalam.
"Ya, rindu sih. Kalau tidak ada kanakan (anak-anak) kan sepi," ucap Bulek Mie dengan logat Banjar yang kental, lalu tersenyum hangat.
Baginya, atmosfer ramai, tawa lepas, hingga celetukan-celetukan usil para siswa SMK adalah bagian hidup yang tidak bisa dipisahkan dari kedai kayunya.
Bahkan, ia sangat merindukan momen-momen saat anak-anak tersebut mulai bercanda dan saling melempar guyonan dengan panggilan-panggilan yang tak biasa.
"Ramai, bisa bercandaan... dengan nama yang aneh-aneh," kenangnya sembari tertawa lepas, mengingat betapa kreatif dan jenakanya tingkah polah anak-anak sekolah zaman dulu saat menghabiskan waktu di warungnya. (bersambung)
Editor : Muhammad Rizky