Media sosial membuat informasi menyebar dalam hitungan detik. Tapi, tidak semua yang viral dibicarakan otomatis benar.
****
Di era media sosial seperti sekarang, informasi datang tanpa jeda. Baru buka ponsel beberapa menit, timeline sudah dipenuhi kabar terbaru. Mulai dari isu pemerintahan, kebijakan publik, gosip tokoh, sampai dugaan kasus yang belum tentu jelas ujung pangkalnya.
Masalahnya, sekarang siapa saja bisa jadi “penyampai berita”. Yang bikin makin rumit, banyak akun anonim ikut bermain. Identitas tidak jelas, sumber informasi belum tentu kuat. Tapi, unggahannya bisa mendapat ribuan komentar dan dibagikan berkali-kali.
Banyak yang aktif membahas isu-isu panas, lalu mengemasnya dengan gaya yang bikin orang langsung berhenti scrolling. Judulnya heboh, potongan informasi, ditambah narasi yang mengundang emosi. Itu langsung bikin kolom komentar ramai.
Contohnya saat muncul kabar soal dugaan pengadaan barang bernilai fantastis oleh pejabat tertentu. Belum jelas duduk persoalannya, potongan informasi sudah lebih dulu menyebar ke mana-mana. Netizen bergerak cepat. Ada yang marah, ada yang kecewa, ada juga yang langsung ikut membagikan ulang. Padahal, yang beredar belum tentu informasi utuh.
Di tengah budaya serba cepat dan kebiasaan membaca singkat, banyak orang akhirnya lebih mudah terpancing emosi duluan dibanding mencari tahu fakta sebenarnya. Akibatnya, ruang digital sering dipenuhi prasangka, kemarahan, sampai debat panjang yang belum tentu berangkat dari informasi lengkap. Fenomena ini menjadi tantangan besar buat generasi muda yang tumbuh di tengah banjir informasi.
Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Banjarmasin, Noorhani mengingatkan anak muda agar tidak gampang terpancing informasi viral tanpa cek fakta lebih dulu. Menurut perempuan 22 tahun itu, derasnya arus informasi sekarang membuat opini publik sering terbentuk terlalu cepat.
“Yang viral dianggap benar, dan yang emosional lebih cepat dipercaya,” ujarnya, Minggu (24/5).
Fenomena itu makin terasa di era media sosial sekarang. Informasi bisa menyebar dalam hitungan detik, sementara proses memahami fakta sering tertinggal jauh di belakang.
Padahal, tidak semua unggahan menampilkan fakta secara utuh.
Ada informasi yang dipotong sebagian, ada yang dibingkai dengan sudut pandang tertentu. Bahkan ada yang sengaja dibuat untuk menggiring opini publik. “Mungkin lupa bahwa media sosial bukan ruang yang selalu menampilkan fakta secara utuh,” jelas Noorhani.
Menurutnya, banyak orang langsung percaya suatu isu hanya karena terasa dekat dengan kehidupan mereka, atau terlihat masuk akal. Padahal belum tentu semua fakta sudah terbuka. Akibatnya, orang lebih cepat bereaksi daripada memahami persoalan sebenarnya.
Fenomena itu dinilai menjadi alasan penting kenapa literasi digital harus makin diperkuat. Terutama di kalangan generasi muda yang sehari-harinya akrab dengan media sosial. “Literasi digital hari ini sangat penting. Bahkan harus lebih masif daripada derasnya arus informasi itu sendiri,” katanya.
Noorhani menilai kemampuan berpikir kritis menjadi “tameng” penting agar masyarakat tidak gampang diprovokasi, diadu domba, atau termakan hoaks.
Caranya pun sederhana. Jangan langsung percaya. Cek dulu siapa yang membagikan informasi. Pastikan sumbernya jelas, medianya kredibel, dan datanya bisa dipertanggungjawabkan. “Lihat siapa yang mempublikasikan, apakah medianya terverifikasi, dan apakah informasinya memiliki dasar yang jelas,” ujarnya.
Di tengah banjir informasi yang bergerak super cepat, Noorhani mengingatkan satu hal penting buat generasi sekarang. Tidak harus selalu jadi yang paling cepat bereaksi. Tapi jadilah yang paling teliti memahami. Karena di era digital sekarang, tenang, kritis, dan tidak gampang terpancing jauh lebih keren daripada sekadar ikut ramai di kolom komentar.
Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Banjarmasin, M Eldi Bajasosa juga menilai derasnya arus informasi saat ini memang sulit dibendung. “Melalui internet siapapun bisa meng-upload dan mengakses apa yang mereka lihat dan inginkan,” ujarnya.
Tapi di tengah banjir informasi itu, Eldi menilai tidak semua orang gampang ikut arus. Masih banyak masyarakat yang tetap berusaha berpikir sebelum mengambil kesimpulan. “Tidak juga, karena masih ada beberapa yang objektif dalam menilai,” katanya.
Meski begitu, ia mengingatkan pentingnya menghadirkan informasi yang aktual dan faktual di tengah derasnya dunia digital. Karena di zaman sekarang, bukan cuma cepat yang dibutuhkan, tapi juga benar.
Menurut pria 25 tahun itu, salah satu kebiasaan yang perlu dibangun anak muda adalah menahan diri agar tidak langsung berkomentar ketika belum memahami persoalan secara utuh.
Kadang, satu potongan video atau satu unggahan viral belum tentu menggambarkan kejadian sebenarnya. “Lebih baik diam daripada mengetik atas ketidaktahuan terhadap apa yang sebenarnya terjadi,” sarannya.
Eldi menilai kemampuan literasi digital saat ini menjadi “skill wajib” yang perlu dimiliki generasi muda. Bukan cuma soal bisa menggunakan teknologi, tapi juga kemampuan memilah informasi, mengecek fakta, sampai membagikan informasi secara lebih objektif. “Sangat penting agar kita dapat memfilter, menilai, dan membagikan apa yang kita temukan secara objektif,” jelasnya.
Lalu bagaimana supaya tidak gampang termakan isu viral? Menurut Eldi, caranya sederhana, tapi sering diabaikan. Baca informasi sampai selesai.
Jangan cuma lihat judul atau potongan video. Setelah itu, bandingkan beberapa sumber informasi lain sebelum membuat kesimpulan. “Baca isu hingga akhir narasinya, membedah sumber-sumber terkait, lalu membuat kesimpulan dari kumpulan sumber tersebut,” ungkapnya.
Ketua Kopri PC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Banjarmasin, Tiara Nuur Aziizah juga menilai derasnya arus informasi digital saat ini mengubah cara masyarakat membentuk pandangan politik dan sosial. Menariknya, Tiara juga menilai kemunculan akun anonim yang sering membahas isu pemerintahan atau dugaan persoalan publik tidak bisa langsung dipandang buruk. Menurutnya, kondisi itu muncul karena sebagian masyarakat merasa ruang kritik formal belum cukup didengar. Akhirnya, media sosial berubah menjadi jalur alternatif. “Ketika masyarakat merasa ruang formal kritik tidak cukup didengar, media sosial akhirnya menjadi ruang alternatif untuk membuka isu-isu yang selama ini dianggap tertutup,” jelasnya.
Namun ada sisi lain yang perlu diwaspadai. Algoritma media sosial, kata Tiara, memang cenderung “menyukai” emosi. Konten yang memancing kemarahan, konflik, atau kecurigaan biasanya lebih cepat muncul di beranda dibanding penjelasan panjang yang berbasis data.
Akibatnya, orang lebih mudah terpancing untuk bereaksi cepat daripada berpikir lebih dalam. “Orang merasa cukup hanya dengan melihat screenshot, potongan video atau narasi satu pihak, lalu langsung membentuk penghakiman kolektif,” katanya.
Menurut Tiara, kondisi itu bisa berbahaya. Ruang digital berpotensi berubah menjadi arena saling menyerang jika masyarakat terlalu gampang percaya tanpa memahami konteks persoalan secara utuh. Karena itu, literasi digital dinilai menjadi kemampuan penting buat generasi sekarang.
Bukan cuma soal pintar pakai media sosial. Tapi juga soal kemampuan berpikir kritis, memilah informasi, dan membedakan mana kritik yang lahir untuk kepentingan publik, mana sekadar propaganda atau punya agenda tertentu. “Tidak semua yang viral otomatis benar dan tidak semua yang dibungkus narasi membela rakyat benar-benar murni untuk kepentingan rakyat,” ujarnya.
Lalu bagaimana supaya nggak gampang terbawa arus? Tiara punya cara sederhana. Baca informasi sampai tuntas. Cek sumber awal. Bandingkan dengan media lain.
Jangan buru-buru mengambil kesimpulan saat emosi masih menguasai. Karena di zaman sekarang, kemampuan paling keren bukan cuma cepat komentar. Tapi juga mampu tetap tenang di tengah banjir informasi.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief