Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Dari Rumah Sederhana Tembus Pasar Nasional, Begini Kisah Hanidah Si Perajin Sasirangan Bordir

Sheilla Farazela • Senin, 18 Mei 2026 | 10:02 WIB
SASIRANGAN: Hanidah saat mengolah sasirangan bordir di rumahnya di Kecamatan Cempaka, Banjarbaru. 
(Foto: SHEILLA FARAZELA/RADAR BANJARMASIN) 
SASIRANGAN: Hanidah saat mengolah sasirangan bordir di rumahnya di Kecamatan Cempaka, Banjarbaru.  (Foto: SHEILLA FARAZELA/RADAR BANJARMASIN) 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Hampir 15 tahun sudah Hanidah mengolah kain sasirangan. Ia tak ingin sekadar mengekor pakem, namun memilih jalan yang lebih berani. 

             ****

Suara mesin jahit dan aroma khas pewarna kain langsung menyambut siapa saja yang bertandang ke rumah nomor 03, di Jalan Firdaus, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru. 

Di bangunan sederhana itulah,  kreativitas Hanidah mengolah kain sasirangan tak pernah padam. 

Lewat label Hani Sasirangan, perempuan gigih ini membuktikan bahwa warisan budaya Banua tak harus kaku, namun bisa tampil trendi tanpa kehilangan jati diri.

Hampir 15 tahun sudah Hanidah bergelut dengan kain sasirangan. Namun, ia enggan sekadar mengekor pakem. Hanidah memilih jalan yang lebih berani.

Ia dikenal sebagai spesialisasi sasirangan bordir dan motif kontemporer. Inilah yang menjadi pembeda sekaligus kunci suksesnya menembus pasar yang lebih luas.

“Selain sasirangan biasa, kami memang fokus pada bordir. Produknya kami perluas, mulai dari kemeja, kaos, jilbab, hingga tunik,” ujar Hanidah.

Sentuhan bordir yang presisi di atas motif sasirangan kontemporer memberikan dimensi baru pada kain tersebut. Tak heran jika produk UMKM asli Banjarbaru ini seringkali "terbang" ke pameran-pameran bergengsi di Jakarta hingga Bandung. 

Kualitas jahitan dan keunikan desainnya membuat pembeli dari luar daerah jatuh hati pada pandangan pertama. 

PRODUK: Kain sasaringan yang diproduksi Hanidah di rumahnya di Kecamatan Cempaka, Banjarbaru. 
(Foto: SHEILLA FARAZELA/RADAR BANJARMASIN) 
PRODUK: Kain sasaringan yang diproduksi Hanidah di rumahnya di Kecamatan Cempaka, Banjarbaru.  (Foto: SHEILLA FARAZELA/RADAR BANJARMASIN) 

Raup Omzet Rp50 Juta Sebulan

Kesuksesan yang kini dirasakan Hanidah tidak datang langsung dari langit. Ia mengenang masa-masa awal belajar menyunting kain saat masih duduk di bangku sekolah. 

Berawal dari pelatihan yang difasilitasi Dinas Perdagangan Banjarbaru, langkah pertama Hanidah justru diwarnai kegagalan.

“Awalnya gagal. Warnanya kurang pas, tapi saya coba terus. Pantang menyerah kalau belum jadi yang saya mau. Alhamdulillah, berkat ketekunan itu bisa sampai seperti sekarang,” kenangnya sembari tersenyum.

Kegigihan itu kini berbuah manis. Omzet rata-rata yang diraupnya kini menembus angka Rp50 juta per bulan. 

Angka tersebut bahkan bisa melambung berkali-kali lipat saat musim pameran tiba. Produk seperti blus dan one-set menjadi primadona yang paling diburu pelanggan, baik melalui etalase fisik di Mess L Banjarbaru maupun galeri digital di media sosial. 

Hanidah menyadari, eksistensi Hani Sasirangan tak lepas dari dukungan penuh Pemerintah Kota Banjarbaru. Mulai dari penyediaan wadah pemasaran hingga kesempatan ikut serta dalam event besar menjadi "bensin" bagi usahanya untuk terus melaju.

Meski begitu, Hanidah masih menyimpan satu asa. Ia berharap rantai produksi di Banjarbaru bisa semakin lengkap. 

"Harapan kami ke depan, semoga bahan baku seperti kain putih bisa tersedia langsung di Banjarbaru. Jika bahan bakunya dekat, kami para perajin tentu lebih enak lagi dalam berproduksi,” imbuhnya.

Editor: Sutrisno

Editor : Arief
#sasirangan #sosok inspiratif #kalimantan selatan #UMKM #banjarbaru