Bagi Renny, menjadi guru bukan pekerjaan yang hasilnya bisa langsung terlihat. Lelah itu baru terbayar ketika melihat murid tumbuh menjadi pribadi yang berhasil.
****
Pagi belum sepenuhnya ramai, Renny Purwasari melangkah ke ruang kelas dua di SDN 2 Bangkal, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru.
Beberapa murid mulai berdatangan dengan seragam merah putih yang masih tampak kebesaran. Ada yang berlari kecil sambil tertawa, ada pula yang sibuk menunjukkan buku tulisnya kepada teman sebangku.
Di tengah suasana itu, Renny berdiri di depan kelas dengan senyum tenang yang sudah akrab bagi murid-muridnya. Selama sekitar 22 tahun, ruang kelas seperti itulah yang menjadi bagian dari hidupnya.
Renny mengaku, pilihannya menjadi guru berawal dari pengalaman sederhana semasa kecil. Saat itu, ia pernah bertemu seorang guru yang membuatnya percaya diri di tengah rasa mindernya.
“Dulu waktu sekolah ada guru yang bikin saya merasa mampu padahal saya minder. Dari situ saya kepikiran, kalau nanti bisa jadi orang yang bikin anak lain merasa bisa juga, itu keren,” katanya sambil tersenyum.
Sejak mulai mengajar pada 2004, Renny telah menjadi wali kelas di berbagai tingkatan, mulai kelas enam, lima, empat, hingga kini kembali mendampingi anak-anak usia dini di kelas dua.
Baginya, menjadi guru bukan pekerjaan yang hasilnya bisa langsung terlihat. Ia menyebut profesi ini seperti investasi jangka panjang. “Capeknya hari ini, tapi hasilnya baru terasa lima sampai sepuluh tahun lagi pas lihat murid sudah sukses,” tuturnya.
Perkembangan Teknologi Jadi Tantangan
Selama lebih dari dua dekade mengajar, Renny merasakan sendiri bagaimana suka dan duka datang silih berganti.
Kebahagiaan paling sederhana baginya justru muncul dari perkembangan kecil murid-muridnya. “Sukanya itu pas lihat anak yang awalnya enggak bisa baca jadi lancar, atau anak pendiam tiba-tiba berani maju presentasi,” ujarnya.
Namun di balik kebahagiaan itu, ada pula tantangan yang kerap menguras kesabaran. Mulai dari murid yang sulit memahami pelajaran meski sudah dijelaskan berulang kali, hingga menghadapi orang tua yang sepenuhnya menyalahkan guru. “Duka itu yang bikin saya belajar sabar dan cari cara ngajar yang beda,” katanya.
Rasa jenuh pun bukan hal asing baginya. Tumpukan administrasi dan suasana kelas yang sulit dikendalikan kadang membuat tenaga dan pikirannya terkuras.
Meski begitu, ia memilih mencari cara agar semangat mengajarnya tidak padam. “Kalau jenuh biasanya saya ganti metode ngajar, bikin game, ajak belajar di luar kelas, atau ngobrol sama rekan guru. Jenuh itu sinyal buat istirahat sebentar, bukan buat berhenti,” ucapnya.
Di tengah perkembangan teknologi dan hadirnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), Renny menilai tantangan pendidikan saat ini jauh berbeda dibanding masa sebelumnya.
Anak-anak tumbuh di tengah banjir informasi yang bisa diakses hanya lewat layar telepon genggam. Karena itu, menurutnya, tugas guru hari ini tidak cukup hanya menyampaikan materi pelajaran.
“Anak-anak sekarang hidup di era HP dan AI. Jadi tugas guru bukan cuma ngasih nilai, tapi ngajarin cara berpikir, cara milih informasi, dan cara jadi manusia yang tetap punya empati,” tuturnya.
Bagi Renny, pendidikan bukan sekadar soal angka di rapor. Ia percaya karakter, keberanian mencoba, dan rasa penasaran jauh lebih penting untuk masa depan anak-anak.
Pesan itu pula yang selalu ia sampaikan kepada murid-muridnya. “Kalian enggak harus jadi ranking satu terus. Tapi tolong jadi anak yang mau nyoba, mau gagal, dan mau bangun lagi,” pesannya.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief