Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Berawal dari Suami Kena PHK, Raup Omzet Rp20 Juta Per Bulan, Begini Kisah Ani Kembangkan Produk Sabun

Sheilla Farazela • Sabtu, 9 Mei 2026 | 10:26 WIB
PRODUK: Irwaningsih (kanan) bersama Wali Kota Banjarbaru Lisa Halaby saat menunjukkan produk sabun miliknya. 
(Foto: Sheilla Farazela/ Radar Banjarmasin)
PRODUK: Irwaningsih (kanan) bersama Wali Kota Banjarbaru Lisa Halaby saat menunjukkan produk sabun miliknya. (Foto: Sheilla Farazela/ Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Bagi Irwaningsih, 2021 bukan sekadar angka dalam kalender. Tahun itu adalah badai.

               ***

IRWANINGSIH masih mengingat bagaimana pandemi Covid-19 pada 2021 mengguncang ekonomi keluarganya. Sang suami, Fitriansyah, terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Di titik itulah, perempuan yang akrab disapa Ani ini dipaksa memutar otak agar asap dapur di rumahnya di Jalan A. Yani Km 19, Banjarbaru tetap mengepul.

Awalnya, Ani mencoba peruntungan di dunia kuliner. Namun, usahanya hanya bertahan seumur jagung. Ganasnya pembatasan sosial membuat bisnis makanannya layu sebelum berkembang.

Alihalih meratapi nasib, Ani justru merenung. Ia mencari sesuatu yang akan terus dibutuhkan manusia, bahkan dalam kondisi krisis sekalipun. “Kami berpikir, produk apa yang tetap dipakai setiap orang dalam keadaan apa pun, termasuk pandemi. Jawabannya adalah sabun,” kenang Ani saat ditemui di Rumah Produksi Big Fast Banjarbaru di Liang Anggang, baru-baru tadi.

Memulai bisnis sabun rumahan tidaklah semudah membalik telapak tangan. Ani harus berjibaku dengan formula sabun cuci piring dan sabun cuci tangan yang pas. Tantangan terberatnya bukanlah proses produksi, tapi memasarkannya. Di pasar, masyarakat sudah terlanjur “setia” pada merekmerek besar yang iklannya berseliweran di televisi .

Menawarkan produk lokal di tengah dominasi brand raksasa butuh nyali dan strategi ekstra. “Tidak semua orang bisa menerima produk lokal. Mereka lebih paham dengan brand yang sudah familiar,” tutur Ani.

Raup Omzet Rp20 Juta Sebulan

Bukannya menyerah, Ani justru memutar strategi. Ia membidik celah yang jarang disentuh oleh produk sabun terkenal. 

Ani tak hanya menjual sabun, tapi menawarkan solusi bagi masalah sampah plastik yang kian menumpuk.

Ia berkomitmen memprioritaskan konsep isi ulang, guna menekan penggunaan botol plastik sekali pakai yang menjadi momok bagi lingkungan. 

Visi inilah yang kemudian dilirik oleh berbagai pihak. Bantuan mesin dari Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI) pun datang, memperkuat lini produksinya.

"Permasalahan sampah jadi atensi kami. Kami ingin orang tidak sekadar bersih tangannya, tapi lingkungannya juga tetap terjaga," kata Ani. 

Kini, perjuangan itu mulai membuahkan hasil manis. Rumah produksi Big Fast sudah memiliki tiga varian produk unggulan: sabun cuci piring, sabun cuci tangan, dan pembersih lantai. Tak main-main, omzet yang diraupnya kini menyentuh angka Rp20 juta per bulan

Meski sudah merambah suplai ke perusahaan-perusahaan dengan sistem kontrak, Ani tidak melupakan akar rumput. Ia tetap membuka pintu rumah produksinya bagi warga sekitar dengan harga yang sangat miring. "Kalau isi ulang ke rumah produksi kami, harganya hanya Rp2.000 per liter," jelas Ani.

Bagi Ani, Big Fast bukan sekadar bisnis pembersih. Namun bukti bahwa di tangan seorang perempuan yang pantang menyerah, sisa-sisa badai ekonomi bisa diubah menjadi peluang yang berkilau sebersih busa sabun produksinya.

Kedepannya, ia berencana terus menambah varian produk, membuktikan bahwa produk lokal Banjarbaru mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Editor : Arief
#sosok inspiratif #kalimantan selatan #UMKM #banjarbaru #phk