Minggu Raya (MGR) bukan sekadar ruang publik di Banjarbaru. Dari titik singgah tanpa atap, kawasan ini tumbuh menjadi pusat pergerakan anak muda sejak 1970-an.
****
Suasana Minggu pagi di Banjarbaru saat ini mungkin tak jauh berbeda dengan kota-kota lain yang sarat makna keramaian dan dipenuhi aktivitas warga.
Namun bagi Rico Hasyim, ada satu ruang yang menyimpan lebih dari sekadar keramaian, yaitu Minggu Raya, atau yang akrab disebut MGR.
Tak banyak yang tahu, kawasan yang kini riuh setiap Minggu pagi di Banjarbaru itu pernah hanya berupa tanah kosong tanpa atap, tanpa bangunan, tanpa nama besar.
Di tempat itulah, sejarah panjang Minggu Raya (MGR) bermula. Bahkan kawasan tersebut jadi saksi bisu sebagian besar perjalanan hidup Rico bermula.
“Saya ini dari dulu sudah di MGR, dari zaman lampu petromaks,” ungkapnya sembari membuka kembali lembaran ingatan yang nyaris setengah abad lalu.
Bagi Rico sebagai warga Banjarbaru yang sering beraktivitas di tempat itu, MGR bukan sekadar lokasi berkumpul. Namun ruang tumbuh, tempat pertemanan, seni, dan dinamika anak muda Banjarbaru berkelindan dalam kesederhanaan.
Jauh sebelum dikenal sebagai pusat keramaian anak muda, kawasan Minggu Raya hanyalah titik singgah sederhana.
Tak ada bangunan, bahkan atap. Hanya hamparan tanah terbuka yang menjadi tempat orang menunggu kendaraan menuju Hulu Sungai. “Dulu orang nunggu bus atau taksi di situ. Kayak halte, tapi tidak ada atapnya,” kenang Rico.
Berawal dari Warung Roti Bakar
Sekitar tahun 1974-1975, kawasan MGR mulai hidup. Letaknya yang strategis membuat lokasi ini jadi titik transit penting. Orang datang dan pergi, membawa cerita masing-masing.
Di seberang MGR saat itu berdiri rumah Van der Pijl, perancang Kota Banjarbaru, seolah menjadi saksi bisu perubahan kawasan tersebut.
Tak jauh dari sana, pernah pula berdiri kebun binatang kecil. “Ada burung, monyet, sampai buaya. Walaupun tidak besar, tapi cukup jadi hiburan waktu itu,” ujar Rico.
Namun denyut baru benar-benar terasa saat aroma kuliner mulai hadir. Seorang anggota Brimob bernama Didik Suwardi, yang juga dikenal sebagai seniman di Banjarbaru membuka warung roti bakar.
Dari warung sederhana itu, kebiasaan baru lahir. Anak-anak muda mulai berkumpul. Gitar dipetik, lagu dinyanyikan. Tawa pecah hingga larut malam, hanya diterangi lampu petromaks.
Berawal dari sanalah, cikal bakal kejayaan MGR bermula. Sekitar 1978, kebersamaan itu menemukan bentuknya.
Di teras rumah Dewa Pahuluan, sejumlah pemuda berkumpul. Nama-nama seperti Om Abul, Om Abir, dan Om Iras menjadi bagian dari lingkaran awal itu.
Dewa Pahuluan adalah nama gelar milik Fitri Zamzam, yang selalu disebut ketika membicarakan MGR.
Dari pertemuan sederhana itulah, lahirlah sebuah komunitas Minggu Raya (MGR). “Waktu itu Om Abul yang paling jago gambar, jadi disuruh bikin lambang MGR,” cerita Rico. (bersambung)
Kepergian Dewa Jadi Kehilangan Besar
Logo MGR berbentuk segitiga pun dipilih. Simbol itu melambangkan kecintaan pada alam dan semangat petualangan.
Namun lebih dari sekadar simbol, MGR menjadi ruang ekspresi dan identitas anak muda Banjarbaru. Dan di tengah semua itu, ada satu sosok yang tak terpisahkan. Yakni Dewa Pahuluan.
Dewa Pahuluan adalah nama gelar milik Fitri Zamzam, yang selalu disebut ketika membicarakan MGR.
Bagi Rico, Dewa bukan hanya pemimpin. Namun juga jiwa dari komunitas itu sendiri. “Orangnya berani dan setia kawan,” ujarnya.
Di masa muda yang penuh dinamika, Dewa kerap berdiri di garis depan. Namun di balik ketegasannya, ia dikenal dermawan. “Ada orang datang tengah malam minta bantuan, langsung dibantu,” kenang Rico.
Di bawah kepemimpinan Dewa, MGR tak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga wadah kegiatan positif. “Mulai dari seni, olahraga, hingga kegiatan sosial ada di MGR,” lugasnya
Perjalanan Dewa kemudian meluas ke berbagai bidang, dari organisasi hingga politik. Namun kedekatannya dengan masyarakat, terutama anak muda, tak pernah luntur. “Beliau itu rohnya Minggu Raya,” tegas Rico.
Kepergian Dewa pada November 2017 menjadi kehilangan besar. Sepeninggal tokoh Banjarbaru itu, kekhawatiran sempat muncul: akankah MGR ikut meredup? “Waktu itu kami langsung berpikir, jangan sampai MGR ini hilang,” kata Rico.
Tongkat estafet kemudian beralih ke Hifni, sahabat lama Dewa. Di bawah kepemimpinannya, semangat kebersamaan tetap terjaga.
Namun ujian kembali datang saat Hifni wafat pada 2021, di masa pandemi. Komunitas sempat berjalan tanpa arah yang jelas. “Lumayan lama kosong waktu itu,” kenang Rico. (bersambung)
Bukan Sekadar Lokasi, tapi Warisan Sosial
Setelah dua kali ditinggal pemimpin, generasi baru Komunitas MGR akhirnya muncul pada 2023.
Melalui proses sederhana namun sarat makna, bahkan sempat “diuji” secara informal di rumah Rico, terpilihlah Putra Qomaluddin Attar Nurriqli sebagai pemimpin baru.
Di tangan generasi muda ini, MGR kembali bergerak. Kegiatan sosial tetap berjalan: sunat massal, berbagi dengan anak yatim, hingga kegiatan keagamaan. “Kita ingin MGR tetap hidup dan bermanfaat,” ujar Rico.
Kini, Minggu Raya mungkin telah berubah wajah. Dari tanah terbuka tanpa atap, menjadi ruang publik yang ramai dan modern. Namun bagi Rico Hasyim, kejayaan MGR bukan hanya soal masa lalu.
MGR adalah cerita yang terus hidup selama masih ada yang mengingat, menjaga, dan melanjutkannya. “Cerita itu jangan sampai hilang,” katanya pelan.
Seiring perkembangan kota, Minggu Raya tak lagi hanya dimaknai sebagai ruang fisik, melainkan juga ruang kultural yang merekam perjalanan generasi.
Dari titik transit sederhana, tempat ini menjelma menjadi simbol kebersamaan, kreativitas, dan solidaritas warga Banjarbaru.
Bagi Rico, Transformasi itu menunjukkan bahwa MGR bukan sekadar lokasi, tetapi warisan sosial yang terus hidup, beradaptasi, dan diwariskan lintas zaman.
“Selama masih ada yang mau berkumpul, berbagi, dan menjaga kebersamaan, MGR itu tidak akan pernah benar-benar hilang,” tutup Rico.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief