RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, AMUNTAI – Jemari kecil itu bergerak lincah. Helai demi helai eceng gondok yang telah dikeringkan disusun rapi, dianyam dengan penuh ketelatenan.
Di sudut sebuah stand pameran Amuntai Expo 2026, Syakira Nur Afifah tampak tenggelam dalam dunianya sendiri, dunia anyaman yang kini tak sekadar hobi, tapi juga sumber penghasilannya.
Siapa sangka, di usianya yang baru 12 tahun, murid kelas 5 SD asal Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) ini sudah mampu menghasilkan ratusan produk kerajinan.
Tas-tas cantik berbahan eceng gondok menjadi karya yang paling banyak diminati. “Biasanya ulun (saya, red) membuat tas,” ucap Syakira pelan, tanpa menghentikan tangannya yang terus menganyam.
Perjalanan Syakira tak datang tiba-tiba. Sejak kelas 1 SD, ia sudah akrab dengan anyaman. Di rumah, ia belajar langsung dari orang tuanya yang juga perajin. Awalnya hanya untuk mengisi waktu luang. Sekadar ikut-ikutan, bermain sambil belajar.
Namun, dari kebiasaan kecil itu tumbuh ketekunan. Tahun demi tahun, keterampilannya semakin terasah. Di saat anak-anak seusianya sibuk dengan gawai dan permainan digital, Syakira memilih duduk tenang, merangkai serat alam menjadi produk bernilai.
Menariknya, ia mampu menjaga keseimbangan. Sekolah tetap jadi prioritas, waktu bermain tetap ada, dan anyaman menjadi ruang kreativitas yang menyenangkan. Dari situlah, perlahan tapi pasti, hobi itu berubah menjadi peluang.
Kini, hasil karyanya tak hanya dipuji, tapi juga dibeli. Eceng gondok yang selama ini dianggap tumbuhan liar, disulap menjadi tas bernilai ekonomi.
Dari sana, Syakira mulai mengumpulkan uang hasil jerih payahnya sendiri. Langkah kecilnya pun menarik perhatian banyak pihak.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) HSU, Romeir Emma Ramadayanti Revilla, terkesan saat melihat langsung aktivitas Syakira di stand pameran.
“Syakira ini potret penerus yang langka. Di usianya, tidak banyak anak yang mau menekuni kerajinan seperti ini,” ujarnya, Sabtu (25/4/2026).
Emma menegaskan pihaknya siap mendukung agar bakat Syakira terus berkembang. Baginya, kehadiran anak seperti Syakira bukan hanya membanggakan, tetapi juga memberi harapan bagi keberlanjutan kerajinan lokal.
Tak berhenti di situ, Syakira juga mulai merambah dunia digital. Ia memasarkan produknya melalui media sosial, membuka peluang pasar yang lebih luas. Sentuhan tradisional berpadu dengan cara modern, kombinasi yang jarang dimiliki anak seusianya.
Di tengah arus modernisasi, kisah Syakira menjadi oase. Ia membuktikan kekayaan alam lokal seperti eceng gondok bisa bernilai tinggi, jika disentuh kreativitas dan ketekunan.
Lebih dari sekadar menghasilkan uang, Syakira sedang merajut masa depan. Dari tangan kecilnya, lahir pesan besar, bahwa mimpi bisa dimulai dari hal sederhana, bahkan dari sebatang eceng gondok yang kerap dianggap tak berarti.
Editor : Fauzan Ridhani