RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Karier tak selalu dimulai dari tempat nyaman. Bahkan, bisa juga diawali dari posko keamanan. Dari situlah langkah awal Zulbadi membawanya ke perubahan yang lebih besar sebagai Direktur PTAM Bandarmasih.
****
Perjalanan karier Zulbadi dimulai dari titik yang jauh bayangan banyak orang. Sekitar awal 2000-an, pria kelahiran Jambi, 10 September 1974 ini mengawali pekerjaan sebagai satpam di PTAM Bandarmasih. “Pekerjaan pertama saya satpam di PTAM Bandarmasih. Sekitar satu setengah tahun. Bahkan saya juga sempat membantu mengatur lalu lintas,” ujarnya.
Saat itu, ia masih berstatus lulusan SMA. Namun sedang menyelesaikan pendidikan D3 Informatika. Meski bekerja sebagai satpam, semangat belajarnya tidak pernah padam. Waktu senggang, terutama saat shift malam, ia manfaatkan untuk membaca buku di pos satpam. “Saya tidak mau bengong. Jadi setiap jaga malam, saya bawa buku untuk dibaca,” kenangnya.
Waktu kian berlalu, kesempatan pun datang ketika PTAM membuka lowongan di bidang IT. Berbekal ilmu yang dipelajarinya di kampus, Zulbadi mencoba dan berhasil lolos.
Dari sanalah kariernya perlahan menanjak. Ia memulai sebagai staf IT. Lalu dipercaya menjadi koordinator, hingga menduduki berbagai posisi strategis. Mulai dari Supervisor Infrastruktur dan Jaringan IT selama tiga tahun. Supervisor Aplikasi IT tiga tahun. Supervisor Siber Security IT selama satu setengah tahun, hingga Manager IT selama lima tahun.
Perjalanannya berlanjut ke sektor operasional sebagai Manager Transmisi dan Distribusi selama tiga tahun. Kemudian menjadi Senior Manager Produksi dan Distribusi, hingga akhirnya menjabat Senior Manager Sekretaris Perusahaan. Pengalaman lintas bidang itu membentuk pemahamannya terhadap sistem perusahaan secara menyeluruh. “Tidak terlalu sulit beradaptasi, karena sejak menjadi supervisor kami sudah membuat SOP dan alur kerja yang dituangkan ke dalam sistem aplikasi. Jadi memahami proses di tiap departemen,” jelasnya.
Salah satu peran pentingnya adalah saat terlibat dalam transformasi digital PTAM Bandarmasih pada 2013–2015. Perubahan dari sistem manual ke digital menjadi titik balik perusahaan. Namun, proses tersebut tidak berjalan mulus. Tantangan terbesar justru datang dari dalam.
Menurutnya, saat itu masih terdapat pihak-pihak yang merasa terganggu. Perubahan sistem menghilangkan praktik-praktik tidak sehat. Seperti percaloan layanan hingga manipulasi pembayaran. “Dulu ada yang bermain di situ. Ketika sistem digital diterapkan, celah itu hilang. Pasti banyak yang tidak suka saya,” ungkapnya.
Namun, ia memilih tetap fokus pada tujuan perbaikan. Hasilnya, sistem pelayanan menjadi lebih transparan, terintegrasi dan dapat dikontrol lebih masif dan detail.
Aduan pelanggan kini terhubung melalui enam kanal layanan yang langsung masuk ke portal dan diteruskan ke petugas lapangan. Lengkap dengan sistem navigasi layaknya aplikasi transportasi daring. “Kita ubah sistem yang rumit jadi lebih mudah, terkontrol dan terintegrasi. Dampaknya produktivitas meningkat, laba juga naik,” jelasnya.
Bagi Zulbadi, tantangan terbesar dalam transformasi bukanlah membangun sistem, melainkan mengubah pola pikir manusia agar mau mengikuti perubahan. “Manusia bisa menolak, tapi sistem tidak. Tantangannya bagaimana kita konsisten mengawal perubahan itu sampai jadi budaya,” katanya.
Di balik kesibukannya, ia menjaga disiplin hidup. Bangun pagi, Salat Subuh, lalu berolahraga menjadi rutinitas yang tak pernah dilewatkan. Menurutnya, kondisi fisik dan pikiran yang sehat menjadi kunci dalam menghadapi tekanan pekerjaan. “Kalau pikiran jernih, kita bisa menghadapi apapun tanpa emosi atau iri. Itu yang saya jaga sampai sekarang,” tuturnya.
Pria 51 tahun ini juga menekankan pentingnya terus belajar dan terbuka terhadap orang lain. “Saya selalu mau belajar dan berguru. Ambil yang positif, negatif ditinggalkan,” sampainya.
Pengalamannya di bidang transmisi dan distribusi juga membuatnya memahami secara teknis kebutuhan air masyarakat. Mulai dari jaringan perpipaan, intake, Instalasi Pengolahan Air (IPA), hingga kapasitas distribusi. Semua itu menjadi bekal penting dalam memimpin perusahaan daerah penyedia air bersih tersebut.
Editor : Arief