Membaca Sekaligus Membangun Interaksi, Menumbuhkan Cinta Baca dari Suara Nyaring

Sheilla Farazela • Dipublikasikan Senin, 13 April 2026 | 17:31 WIB
MEMBACAKAN: Relawan Read Aloud Kalimantan Selatan saat membacakan buku untuk para siswa SDN Guntung Manggis 1, baru-baru tadi. 
(Foto: EKA UNTUK RADAR BANJARMASIN)
MEMBACAKAN: Relawan Read Aloud Kalimantan Selatan saat membacakan buku untuk para siswa SDN Guntung Manggis 1, baru-baru tadi.  (Foto: EKA UNTUK RADAR BANJARMASIN)

Hari itu, tema yang diangkat adalah tumbuhan. Setelah membaca, kegiatan berlanjut ke praktik sederhana membuat ecoprint dari daun dan ranting.

           ****

Suara tawa anak-anak sesekali pecah di salah satu ruang kelas SDN Guntung Manggis 1. Mata mereka tertuju pada sebuah buku cerita yang dibacakan dengan penuh ekspresi. Tak sekadar mendengar, mereka ikut menebak alur cerita, bahkan berebut menyampaikan pendapat.

Pagi itu, ruang kelas di SDN Guntung Manggis 1 tak sekadar jadi tempat belajar. Namun juga berubah menjadi ruang cerita. Di depan kelas, relawan dari Read Aloud Kalimantan Selatan membacakan buku dengan intonasi naik turun. 

Sesekali mereka berhenti, melempar pertanyaan, memancing rasa penasaran. Anak-anak pun larut bukan hanya mendengar, tetapi ikut masuk ke dalam cerita.

Di situlah metode membaca nyaring atau read aloud menemukan kekuatannya. Bukan sekadar membacakan teks, melainkan membangun interaksi. “Kira-kira seperti itulah gambaran kegiatan kami,” ungkap Ketua komunitas, Eka Rahmawati. 

Ia menyebut, inti dari metode ini ada pada keterlibatan anak. “Read aloud itu membaca dengan menciptakan interaksi. Jadi tidak hanya menambah kosa kata, tapi juga membantu anak-anak berpikir kritis,” ujarnya.

Sesi membaca menjadi pintu masuk. Setelah itu, anak-anak diajak bergerak. Buku ditutup, kegiatan berlanjut ke praktik sederhana membuat ecoprint dari daun dan ranting.

Tangan-tangan kecil itu sibuk menyusun daun, menekan, lalu melihat hasilnya muncul di atas kertas. 

Belajar tak lagi terasa seperti kewajiban. Namun berubah jadi pengalaman. “Metode seperti ini memang dirancang seperti itu,” ungkap Eka. 

MENYIMAK: Sejumlah siswa mengikuti kegiatan membaca nyaring bersama relawan Read Aloud Kalimantan Selatan di SDN Guntung Manggis 1, baru-baru tadi. 
(EKA UNTUK RADAR BANJARMASIN)
MENYIMAK: Sejumlah siswa mengikuti kegiatan membaca nyaring bersama relawan Read Aloud Kalimantan Selatan di SDN Guntung Manggis 1, baru-baru tadi.  (EKA UNTUK RADAR BANJARMASIN)

Anak Punya Imajinasi Masing-masing

Anak tidak hanya membaca, tetapi juga belajar mendengar, memahami, hingga berinteraksi secara sosial.

Tak heran, hampir di setiap sesi, antusiasme anak selalu terlihat. Tak lagi pasif, mereka bertanya, menjawab, bahkan menebak alur cerita sebelum halaman terakhir terbuka. 

“Setiap anak punya jawaban berbeda, karena mereka punya imajinasinya masing-masing,” kata Ketua Read Aloud Kalimantan Selatan, Eka Rahmawati. 

Di balik suasana yang cair itu, ada tujuan yang lebih besar. Membaca nyaring diyakini mampu menumbuhkan kecintaan terhadap buku sejak dini. Dari sana, kemampuan bahasa, imajinasi, hingga cara berpikir anak ikut berkembang.

Eka menegaskan, minat harus hadir lebih dulu sebelum kemampuan. Tanpa itu, anak akan kesulitan mengikuti pembelajaran, apalagi kini banyak materi disajikan dalam bentuk narasi.

“Sekarang soal pelajaran banyak berbentuk cerita. Kalau anak tidak punya kegemaran membaca, mereka akan kesulitan memahami,” ujarnya.

Perubahan itu, kata dia, sudah mulai terlihat. Anak-anak yang awalnya hanya mendengar, perlahan ingin membaca sendiri. Bahkan, tak jarang mereka menjadi “ketagihan”. “Dari situ muncul inisiatif untuk membaca sendiri,” tambahnya.

Komunitas ini berdiri sejak Juli 2021, berawal dari lima orang yang sama-sama mengikuti pelatihan Training of Trainer membaca nyaring. Dari sana, gerakan kecil itu tumbuh.

Kini, anggotanya datang dari berbagai latar belakang, dari guru, dosen, mahasiswa, hingga ibu rumah tangga.  Mereka bergerak secara sukarela, membawa misi yang sama: menanamkan budaya membaca sejak dini.

MEMBACA: Sejumlah siswa mengikuti kegiatan membaca nyaring bersama relawan Read Aloud Kalimantan Selatan di SDN Guntung Manggis 1, baru-baru tadi. 
(EKA UNTUK RADAR BANJARMASIN)
MEMBACA: Sejumlah siswa mengikuti kegiatan membaca nyaring bersama relawan Read Aloud Kalimantan Selatan di SDN Guntung Manggis 1, baru-baru tadi. (EKA UNTUK RADAR BANJARMASIN)
 

Sediakan Buku Terbaik untuk Anak

Selain rutin mengunjungi sekolah, relawan Read Aloud Kalsel juga menggelar pelatihan dan kampanye membaca. 

Kegiatan para relawan  terus berjalan, bukan hanya luring tapi juga ada yang secara daring atau online. 

Momentum World Read Aloud Day yang digelar rutin setiap Rabu pertama bulan Februari pun dimanfaatkan untuk memperluas gaung gerakan ini.

Meski begitu, jalan mereka tidak selalu mudah. Luasnya wilayah Kalimantan Selatan menjadi tantangan tersendiri bagi relawan. 

Dari Banjarmasin hingga Kotabaru, akses dan jarak kerap menjadi hambatan. Namun, bagi mereka, perubahan tidak harus dimulai dari hal besar.

Cukup dari kebiasaan sederhana, yaitu rutin membacakan buku 10 hingga 15 menit setiap hari. “Jangan pernah lelah menyediakan buku terbaik untuk anak-anak,” ujar Ketua Read Aloud Kalimantan Selatan, Eka Rahmawati. 

Sebab, bagi Eka, dari halaman-halaman yang dibacakan itu, bukan hanya cerita yang tumbuh. Tapi juga kebiasaan, keberanian, dan kenangan yang kelak bisa mereka bawa hingga dewasa.

“Buku yang kita bacakan bakal jadi kenangan terbaik bagi mereka, jadi jangan lelah untuk membacakan buku untuk anak-anak,” tutupnya. 

Editor: Sutrisno

Editor : Arief
kalimantan selatan banjarbaru Komunitas Literasi