Dulu turun ke jalan, sekarang ramai di timeline. Mahasiswa berubah, atau cuma cara bersuaranya yang beda?
***
Masih kebayang jelas. Tahun 2020, Jalan Lambung Mangkurat, Banjarmasin penuh lautan almamater. Mahasiswa dari berbagai kampus turun ke jalan, teriak bareng nolak Omnibus Law Cipta Kerja. Spanduk dibentang, orasi bergema, aksi gede-gedean jadi pemandangan biasa.
Tapi sekarang? Sunyi.
Bukan berarti enggak ada aksi sama sekali. Masih ada. Tapi skalanya jauh lebih kecil. Massa makin sedikit, gaungnya juga enggak sekeras dulu.
Padahal, mahasiswa selama ini dikenal sebagai agent of change. Dari organisasi kampus—mulai himpunan, BEM, sampai organisasi ekstra—gerakan itu biasanya lahir dan membesar.
Lalu kenapa sekarang meredup? Ada yang bilang, kondisi negara lagi “aman-aman aja”, jadi enggak banyak yang bikin mahasiswa turun ke jalan.
Tapi, ada juga yang punya sudut pandang lain. Minat berorganisasi di kampus mulai turun. Banyak yang merasa organisasi sudah enggak se-“worth it” dulu. Isu senioritas, tekanan, sampai cerita-cerita kurang enak yang viral di media sosial bikin sebagian mahasiswa mikir dua kali buat gabung. Organisasi yang dulu dikenal sebagai ruang belajar, sekarang kadang dipandang sebagai tempat yang “ribet”.
Di sisi lain, cara bersuara juga berubah. Kalau dulu turun ke jalan, sekarang cukup buka HP. Aspirasi bisa disuarakan lewat media sosial. Lebih cepat, lebih luas, dan enggak perlu panas-panasan di jalan. Tapi, efeknya beda. Enggak selalu bisa bikin tekanan kolektif sebesar aksi langsung.
Akhirnya, muncul kesan: mahasiswa makin apatis. Padahal belum tentu.
Bisa jadi, mereka masih peduli. Cuma caranya saja yang berubah. Atau memang ada “realitas baru” di dunia kampus yang bikin mereka lebih memilih diam.
Yang jelas, sejarah sudah berkali-kali membuktikan. Perubahan besar sering lahir dari keberanian mahasiswa buat bersuara.
Sekarang pertanyaannya, kenapa aksi makin sepi?
Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin, Ahmad Munawir Sazali menilai para mahasiswa sebenarnya masih punya kepedulian. Tapi, juga terdapat beberapa perubahan dalam menyuarakan aspirasi. “Mahasiswa kini lebih pragmatis, selektif dalam memilih isu, dan memilah bagaimana cara terlibat,” ujarnya, Minggu (12/4).
Munawir menambahkan, mahasiswa mengalami pergeseran secara kultural. Kolektivitas dan mental mahasiswa melemah, sementara orientasi pada pengembangan diri lebih diproritaskan. “Akhirnya aktivisme tidak lagi selalu identik dengan turun ke jalan,” mahasiswa jurusan Tadris Fisika dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan ini.
Mahasiswa cenderung lebih fokus pada hal yang berdampak langsung ke karier, seperti magang, skill dan penghasilan. Di sisi lain, citra organisasi juga kerap dianggap penuh senioritas atau kurang sehat.
Ditambah keterbatasan waktu dan banyaknya alternatif pengembangan diri di luar kampus. “Organisasi tidak lagi pilihan utama,” singgungnya.
Selain itu, ruang digital juga turut andil membentuk persepsi yang sangat berpengaruh. Menyebarkan pengalaman baik ataupun buruk sering jadi pengganti aksi langsung. Meski dampaknya tidak selalu sekuat gerakan kolektif di lapangan.
Ketua BEM Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al Banjari (Uniska MAB), Muhammad Arifin melihat organisasi mahasiswa bukan benar-benar menurun, tapi lebih ke arah perubahan prioritas dan cara pandang yang berubah. Menurutnya, organisasi kampus masih punya peran penting sebagai tempat belajar hal-hal yang tak didapat di kelas seperti leadership, komunikasi, sampai cara menghadapi konflik. “Banyak juga mahasiswa yang setelah ikut organisasi justru jadi lebih siap menghadapi dunia kerja,” ungkap mahasiswa Ilmu Komunikasi dari Fakultas FISIP ini.
Arifin tak menampik soal stigma senioritas. Itu masih bisa ditemui di sejumlah organisisasi. Tapi sekarang, juga sudah banyak organisasi yang mulai berbenah. “Sistemnya lebih terbuka, lebih fleksibel dan lebih memperhatikan kenyamanan anggota,” katanya.
Meski demikian, tak sedikit organisasi yang justru jadi ruang aman untuk berkembang. Bukan lagi tempat tekanan seperti yang sering dibayangkan. “Jadi sebenarnya masalahnya bukan di organisasinya secara keseluruhan, tapi di oknum atau budaya lama yang perlahan mulai ditinggalkan,” jelas Arifin.
Selain itu, ruang digital memang mempermudah mahasiswa untuk bersuara. Tapi organisasi tetap punya keunggulan yang tidak bisa digantikan, yaitu kerja kolektif yang nyata. Ia menekankan di organisasi, ide tidak sekadar berhenti di opini. Tapi, bisa diwujudkan jadi aksi, program atau gerakan yang lebih terstruktur. “Menurutku, organisasi tetap relevan. Tinggal bagaimana mahasiswa dan pengurusnya bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman, tanpa kehilangan esensi gerakannya,” tukasnya.
Ketua BEM Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Ahmad Zidan Satrio Utomo mengakui pola gerakan mahasiswa di Kalsel mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, mahasiswa saat ini tidak sepenuhnya pasif, namun cenderung selektif dalam merespons isu. “Mahasiswa masih mau turun ke jalan, tapi biasanya ketika isu yang muncul berskala besar dan menyentuh secara emosional. Kalau isu regional, relatif jarang, meski mereka tetap bersuara di media sosial,” ujarnya.
Ia mencontohkan sejumlah aksi dalam dua tahun terakhir yang mampu menggerakkan massa. Seperti gerakan Peringatan Darurat pada pada 2024, Kembalikan TNI ke Barak dan aksi 17+8 pada 2025.
Menurutnya, isu-isu tersebut berhasil memantik respons luas, karena dinilai menyentuh rasa keadilan mahasiswa. Mulai dari polemik putusan Mahkamah Konstitusi hingga peristiwa yang memicu empati publik. “Kalau isu itu menyentuh hati dan keresahan mereka, mahasiswa akan turun langsung, tidak hanya bersuara di media sosial,” jelasnya.
Zidan juga menyoroti perubahan kultur mahasiswa pascapandemi Covid-19. Ia menilai, terhentinya proses pengkaderan secara langsung serta pengaruh tren digital turut membentuk pola pikir mahasiswa saat ini. “Sekarang banyak narasi yang berkembang bahwa organisasi tidak penting, tidak menjamin pekerjaan. Akhirnya mahasiswa lebih memilih program seperti MBKM yang dianggap memberi manfaat langsung, baik pengalaman maupun bantuan biaya hidup,” kata mahasiswa Bimbingan dan Konseling dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ini.
Ia menilai, kondisi tersebut perlahan menggeser fungsi kampus. Dari ruang pembentukan karakter dan idealisme, menjadi sekadar tempat mencetak tenaga kerja. “Kampus seperti menjadi pabrik pekerja, bukan lagi ruang melahirkan pemikir yang punya empati sosial dan keberanian bersikap,” tegasnya.
Ia menyebut organisasi kemahasiswaan sejatinya merupakan ruang belajar yang tidak tergantikan. Di dalamnya, mahasiswa dapat bereksperimen, berinovasi dan belajar dari kesalahan tanpa tekanan. “Organisasi itu laboratorium kehidupan. Di sana kita bisa mencoba, gagal, lalu belajar. Tidak ada konsekuensi seperti di dunia kerja. Tapi sekarang banyak yang membandingkan organisasi dengan magang dari sisi materi,” ujarnya.
Padahal, lanjut dia, nilai utama dari organisasi adalah keikhlasan dalam berproses, dan kontribusi terhadap sesama. “Yang mulai hilang hari ini adalah keikhlasan untuk memberi. Padahal dari situlah karakter dan kepemimpinan terbentuk,” pungkasnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief