Dulu ia nyaris mengubur mimpi karena keterbatasan ekonomi. Kini, anak penjual gorengan itu memimpin Banjarmasin Barat dengan disiplin dan empati.
*****
Di balik meja kerja seorang camat, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan, kerja keras, dan tekad yang tak pernah padam. Begitulah perjalanan hidup Amrullah, Camat Banjarmasin Barat, yang tumbuh dari keluarga sederhana hingga kini memimpin salah satu wilayah penting di Kota Banjarmasin.
Lahir di Banjarmasin pada 13 Juli 1979, Amrullah tumbuh dalam kondisi ekonomi pas-pasan. Ibunya berjualan gorengan. Sementara sang ayah bekerja sebagai sopir. Sebagai anak ketiga dari lima bersaudara, ia sudah akrab dengan tanggung jawab sejak kecil.
Masa sekolahnya tak hanya diisi pelajaran di kelas. Sejak SD hingga SMA, Amrullah terbiasa membantu orang tua menjaga warung keluarga di kawasan Jalan Belitung Darat. Rutinitas itu membentuknya menjadi pribadi yang tangguh dan terbiasa bekerja keras.
Namun hidup nyaris membawanya ke jalan berbeda. Saat duduk di bangku kelas 12 SMA, Amrullah sempat berniat menghentikan pendidikan. Keterbatasan ekonomi membuatnya berpikir realistis: bekerja lebih dulu demi membantu keluarga.
Kala itu, ia bahkan sempat mempertimbangkan tawaran bekerja di koperasi simpan pinjam dari seorang temannya. “Tadinya saya pikir setelah lulus langsung kerja saja,” kenangnya, Jumat (10/4).
Titik balik hidupnya datang tanpa direncanakan. Setiap pagi, Amrullah rutin mengantar kakaknya bekerja dengan motor. Kakaknya merupakan ASN di lingkungan Pemko Banjarmasin. Dari obrolan ringan dengan rekan-rekan sang kakak, muncul saran yang mengubah hidupnya: mencoba mendaftar Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN).
Tanpa banyak tahu soal kampus itu, Amrullah nekat ikut tes. “Yang saya pikir waktu itu sederhana, kalau lulus berarti bisa langsung kerja,” ujarnya.
Keputusan spontan itu menjadi pintu besar dalam hidupnya. Dari sekitar 800 peserta seleksi nasional, hanya 300 orang yang diterima. Amrullah berhasil lolos, bahkan menjadi satu dari 13 orang asal Banjarmasin yang diterima.
Persaingan saat itu tidak mudah. Banyak peserta berasal dari guguran akademi militer dan kepolisian. “Mungkin ini memang rezeki dan doa orang tua,” katanya.
Di STPDN, Amrullah menemukan makna disiplin yang sesungguhnya. Bukan sekadar soal aturan keras, tetapi bagaimana membentuk karakter, mental, dan tanggung jawab.
Bekal itu kemudian menuntunnya dalam perjalanan birokrasi. Usai lulus pada 2002, Amrullah mengawali pengabdian di Kabupaten Barito Kuala. Ia menghabiskan waktu cukup lama di sana, termasuk sembilan tahun di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Kariernya terus bertumbuh. Ia pernah dipercaya menjadi ajudan Bupati Barito Kuala saat dijabat Eddy Sukarma, lalu menangani bidang kehumasan dan protokol.
Pengalaman panjang di lapangan membuatnya semakin peka terhadap persoalan sosial masyarakat. Pada 2017, Amrullah berusaha kembali ke kampung halaman. Setahun kemudian, ia dipercaya menjadi Lurah Belitung Utara.
Jabatan itu menjadi salah satu titik penting dalam kariernya. Selama tiga tahun memimpin, Amrullah sukses membawa Kelurahan Belitung Utara meraih juara pertama lomba kelurahan tingkat Provinsi Kalimantan Selatan pada 2021.
Prestasi itu membuka jalan lebih luas. Ia dipercaya menjadi Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial di Dinas Sosial Kota Banjarmasin.
Sempat berpindah ke Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata sebagai Kabid Pariwisata, Amrullah justru merasa panggilan jiwanya tetap di bidang sosial. “Saya rasa lebih menjiwai di sosial,” ucapnya.
Ia pun kembali ke Dinas Sosial sebagai Kabid Pemberdayaan Sosial, sebelum akhirnya dilantik sebagai Camat Banjarmasin Barat pada 5 Februari 2026.
Meski kini berada di posisi strategis, Amrullah tetap menjaga kebiasaan yang membentuk dirinya sejak dulu: disiplin.
Bagi pria 47 tahun itu, menjaga kebugaran sama pentingnya dengan menjalankan tugas. Di tengah padatnya agenda pemerintahan, ia rutin berolahraga sepulang kerja, termasuk pergi ke gym.
Ia juga menjaga pola makan dengan disiplin. Setiap pagi, Amrullah terbiasa membawa jus buah racikan sendiri ke kantor.
Baginya, menjaga tubuh tetap sehat bukan sekadar kebutuhan pribadi, tetapi juga bentuk tanggung jawab terhadap pekerjaan.
“Kalau tidak bugar, kerja juga susah,” katanya.
Tak hanya soal fisik, Amrullah juga percaya penampilan adalah bagian dari pelayanan publik. “Berpakaian rapi itu penting. Kita ini melayani masyarakat. Kesan pertama itu menentukan,” tegasnya.
Dari warung kecil di Belitung Darat hingga ruang kerja camat, perjalanan Amrullah menjadi bukti bahwa kerja keras, disiplin, dan niat tulus mengabdi bisa membawa siapapun melampaui batas keadaan.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief