Sendok, garpu, hingga talenan itu bukan sekadar peralatan makan biasa. Dari sanalah jejak kreativitas Irfan mengolah limbah kayu ulin bermula.
****
Irfan Adi Siswanto yang merupakan perantauan dari Malang, Jawa Timur tak pernah menyangka, limbah kayu ulin yang dulu dianggap tak bernilai, justru bisa membawanya menembus pasar internasional.
Semua berawal pada 2018. Saat itu, Irfan melihat fenomena yang mengusik pikirannya. Kayu ulin yang dikenal kuat dan tahan lama justru lebih sering berakhir sebagai limbah. Potongan sisa hanya dijual murah, bahkan tak jarang dibakar menjadi arang.
Baginya, itu ada yang keliru. “Kayu sebagus ini, masa cuma jadi bahan bakar,” kenangnya.
Berbekal kepekaan dan kreativitas, Irfan mulai bereksperimen. Ia mencoba mengolah limbah tersebut menjadi barang yang lebih fungsional.
Sendok, garpu, hingga talenan menjadi karya awalnya. Sederhana, tapi memiliki nilai tambah.
Langkah itu tentu tidak mudah. Di masa awal merintis, justru bahan baku menjadi tantangan terbesar. Limbah kayu ulin tidak selalu mudah didapat.
Irfan bahkan pernah mendatangi lahan pertanian di wilayah Jaro, Tabalong. Di sana, ia menggali tunggul-tunggul ulin yang tertanam di tanah. Bagi petani, tunggul itu mengganggu. Namun bagi Irfan, itu adalah peluang. “Petaninya malah senang, karena lahannya jadi lebih bersih,” ujarnya.
Seiring waktu, rantai pasok mulai terbentuk. Kini, ia mendapatkan bahan baku dari berbagai sumber. Mulai dari supplier seperti Ojek Ulin hingga sisa potongan perajin kusen di Banjarbaru.
Tembus Pasar Luar Negeri
Tak hanya soal produksi, Irfan juga memikirkan pemasaran. Ia memanfaatkan berbagai cara, dari membuka display di galerinya hingga menjajakan produknya melalui marketplace.
Hasilnya mulai terlihat. Produk olahan kayu ulin buatannya tak hanya diminati pasar dalam negeri, tetapi juga berhasil menembus pasar luar negeri. Korea, Jepang, Singapura, hingga Malaysia menjadi tujuan ekspor.
Salah satu kerja sama bahkan terjalin dengan Bank Indonesia untuk pasar Singapura.
Namun di balik pencapaian itu, Irfan mengakui pasar lokal masih menjadi tantangan.
Di Kalimantan Selatan, produk berbahan kayu untuk kebutuhan makan belum menjadi pilihan utama. “Mungkin masyarakat masih lebih memilih yang ekonomis seperti keramik, kaca, atau plastik,” katanya.
Meski demikian, semangatnya tak surut. Bagi Irfan, ini bukan sekadar bisnis. Ia ingin mengubah cara pandang terhadap limbah, bahwa sesuatu yang dianggap tak berguna, bisa memiliki nilai tinggi jika diolah dengan kreativitas.
Ke depan, ia memimpikan sesuatu yang lebih besar. Bukan hanya produksi, tetapi juga jaringan distribusi.
Ia ingin memiliki coffee shop kecil dengan konsep display produk di berbagai kota besar. Sehingga, pembeli tak perlu lagi terbebani ongkos kirim yang mahal dari Banjarbaru.
“Kalau ada cabang di kota-kota besar, pengiriman jadi lebih mudah dan murah,” ujar pria yang membuka galeri di Jl. Wijaya Kusuma, Loktabat Utara ini.
Editor: Sutrisno
Editor : AriefSumber : RADAR BANJARMASIN edisi cetak