Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Saat Cerita Menjadi Pengalaman, Membaca yang Dihidupkan di Ruang Kelas SDN 1 Guntung Manggis

M Fadlan Zakiri • Jumat, 3 April 2026 | 12:54 WIB
ANTUSIAS: Siswa kelas 4 SDN 1 Guntung Manggis mengikuti kegiatan read aloud bersama Komunitas Read Aloud Kalimantan Selatan. (Foto: FADLAN/ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)
ANTUSIAS: Siswa kelas 4 SDN 1 Guntung Manggis mengikuti kegiatan read aloud bersama Komunitas Read Aloud Kalimantan Selatan. (Foto: FADLAN/ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)

Program read aloud di SDN 1 Guntung Manggis mengubah cara siswa memaknai membaca, dari sekadar mendengar menjadi pengalaman belajar yang hidup dan interaktif.

        ******

Suara cerita mengalun dari depan kelas SDN 1 Guntung Manggis, pagi itu. Buku bergambar diangkat tinggi, memperlihatkan ilustrasi warna-warni kepada puluhan siswa yang duduk rapi.

Mata mereka mengikuti setiap halaman yang dibuka. Sesekali terdengar tawa kecil saat bagian cerita terasa lucu. Suasana kelas terasa cair, jauh dari kesan kaku seperti pembelajaran pada umumnya.

Namun, kegiatan itu tidak berhenti pada mendengar. Siswa diajak terlibat aktif. Pertanyaan dilontarkan, jawaban pun mengalir. Bahkan, beberapa siswa mulai mengaitkan cerita dengan pengalaman mereka sehari-hari.

“Seru, soalnya nggak cuma dengar cerita, tapi juga diajak ngobrol,” ujar seorang siswa dengan wajah antusias.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program literasi sekolah yang menggandeng Komunitas Read Aloud Kalimantan Selatan. Sebanyak 55 siswa kelas 4 terlibat, terbagi dalam dua kelompok. Sebagian mengikuti sesi di ruang kelas, sementara lainnya di perpustakaan dengan dukungan layar interaktif.

Metode membaca nyaring atau read aloud menjadi pendekatan utama. Bukan sekadar membacakan teks, tetapi menghadirkan interaksi yang membuat cerita terasa hidup.

Ketua komunitas, Eka Rahmawati, menjelaskan bahwa membaca nyaring dirancang untuk membangun keterlibatan anak secara menyeluruh.

“Membaca nyaring tidak hanya mengajak anak membaca, tetapi juga memahami, mendengar, dan berinteraksi secara sosial,” ujarnya.

Pendekatan ini membuka ruang bagi siswa untuk berpikir, berpendapat, sekaligus melatih keberanian menyampaikan ide. Dari yang awalnya hanya pendengar, mereka perlahan menjadi bagian dari cerita itu sendiri. 

KREATIF: Siswa melakukan aktivitas kreatif membuat karya dari bagian tumbuhan secara berkelompok. (Foto: FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)
KREATIF: Siswa melakukan aktivitas kreatif membuat karya dari bagian tumbuhan secara berkelompok. (Foto: FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)

 

Dari Buku ke Pengalaman Nyata

Kegiatan literasi di SDN 1 Guntung Manggis tak berhenti pada membaca, tetapi berlanjut menjadi pengalaman belajar yang menyentuh praktik, kolaborasi, dan pembentukan karakter siswa.

Usai sesi membaca, suasana belajar berpindah ke luar kelas. Di atas terpal biru, siswa duduk berkelompok sambil memegang daun, ranting, dan berbagai bahan alam.

Mereka tampak serius, namun tetap antusias. Tangan-tangan kecil itu mulai menyusun, menata, lalu mencetak bagian tubuh tumbuhan di atas kertas.

Kegiatan ini merupakan bagian dari bookish play, lanjutan dari cerita yang sebelumnya dibacakan. Dari cerita, siswa diajak masuk ke praktik.

“Biasanya cuma baca, ini bisa langsung praktik. Jadi lebih paham,” ujar siswa lainnya.

Pendekatan ini memadukan literasi dengan pembelajaran lain, seperti sains. Cerita yang disimak tidak berhenti sebagai imajinasi, tetapi dihubungkan dengan materi pelajaran, dalam hal ini bagian tubuh tumbuhan pada mata pelajaran IPAS.

Kepala SDN 1 Guntung Manggis, Waluyo Agus Widodo, menyebut metode ini sebagai upaya menghadirkan pembelajaran yang lebih menyenangkan.

“Kami menggandeng komunitas literasi untuk memperkuat program pembiasaan membaca yang lebih kontekstual,” ujarnya.

Menurutnya, literasi tidak lagi sebatas membaca teks, tetapi mencakup memahami, berdiskusi, hingga merefleksikan pengalaman belajar.

Program ini telah berjalan sejak Januari 2026 dan rutin menghadirkan pegiat literasi. Meski demikian, tantangan masih ada, terutama dalam membiasakan siswa menulis refleksi.

Untuk mengatasinya, sekolah melibatkan orang tua dan melakukan pendampingan berkala.

Perlahan, kebiasaan itu mulai tumbuh. Dari mendengar, memahami, hingga mengekspresikan kembali dalam karya.

Bagi Waluyo, literasi yang menyenangkan akan lebih mudah melekat. Tidak lagi menjadi kewajiban, tetapi tumbuh sebagai kebutuhan dalam keseharian siswa.

 Editor: Ramli Arisno

Editor : Arief
#Sekolah #kalimantan selatan #banjarbaru #Literasi