Tak sekadar bekerja di rumah sakit. Sam Renaldy mengolah kegelisahan intelektual menjadi tulisan dan buku yang mengulas layanan kesehatan dari perspektif hukum.
****
Latar belakang hukum membentuk cara pandangnya dalam membaca layanan kesehatan sebagai ruang norma, aturan, dan potensi persoalan hukum. Di sana, ia melihat jarak antara idealitas dan praktik yang kerap tak sejalan.
Kegelisahan itu tidak berhenti di kepala. Pria 30 tahun asal Banjarbaru ini mengolahnya menjadi tulisan yang teruji secara ilmiah. Sejak menempuh magister hukum, ia mulai menulis di jurnal nasional terakreditasi SINTA. Dari sana, ia melatih ketelitian argumentasi sekaligus disiplin dalam menyusun kerangka ilmiah.
Momentum penting datang saat lahir Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023 dengan pendekatan omnibus law. Bagi Sam, regulasi tersebut bukan sekadar perubahan aturan, tetapi juga menghadirkan kompleksitas baru yang perlu dibaca secara lebih luas dan kritis.
Pengalaman itu mendorongnya menulis buku. Karya pertamanya, Akuntabilitas dan Mutu Layanan Pasien, lahir dari kegelisahan yang lama ia rawat. Ia membedah bagaimana rumah sakit dituntut meninggalkan pola lama yang tertutup menuju sistem yang lebih transparan.
Menurutnya, akuntabilitas bukan sekadar kewajiban administratif. Lebih dari itu, akuntabilitas merupakan strategi etis untuk membangun kepercayaan antara pasien dan penyedia layanan secara berkelanjutan. Transparansi informasi dan tata kelola yang rapi menjadi fondasi penting dalam relasi tersebut.
Ia juga menyoroti pentingnya keberanian institusi kesehatan untuk terbuka terhadap evaluasi. Termasuk dalam menghadapi potensi sengketa yang muncul dari celah layanan. Bagi Sam, hukum kesehatan tidak hanya berfungsi sebagai alat sanksi, tetapi juga sebagai instrumen untuk memperbaiki sistem.
Melalui tulisan, ia berupaya menjembatani dunia regulasi dengan praktik di lapangan. Ia ingin agar kebijakan tidak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar hadir sebagai perlindungan nyata bagi pasien.
Di tengah dinamika perubahan, ia memilih konsisten merawat kegelisahan sebagai energi berpikir. Baginya, rumah sakit bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga ruang belajar tanpa henti. Dari sana, ia berharap lahir layanan kesehatan yang lebih terbuka, akuntabel, dan berorientasi pada keselamatan pasien di masa depan.
Buku Kedua dengan Perspektif Lebih Komprehensif
Sam Renaldy kembali menulis buku kedua, memperdalam gagasan tentang konflik rumah sakit dengan pendekatan yang lebih menyeluruh.
Gagasan Sam Renaldy berlanjut dalam buku keduanya, The Hospital Shield. Kegelisahannya kini terasa lebih tajam, terutama dalam membaca konflik yang kerap muncul di lingkungan rumah sakit. Dari pengalaman empiris, ia menyadari perlindungan hukum saja tidak cukup.
Ia menawarkan pendekatan yang lebih utuh melalui konsep perisai integratif. Pendekatan ini menggabungkan etika, tata kelola, dan komunikasi sebagai satu kesatuan. Menurutnya, konflik tidak hanya disebabkan lemahnya aturan, tetapi juga buruknya pengelolaan dan komunikasi.
Ia merangkai berbagai elemen, mulai dari penguatan aturan internal rumah sakit, manajemen risiko klinis, hingga cara berkomunikasi dengan pasien. Semua itu diarahkan untuk mencegah sengketa sejak awal.
Di tengah kesibukan bekerja, Sam tetap menjaga konsistensi menulis. Ia menempatkan pekerjaan utama sebagai prioritas. Sementara menulis dilakukan di sela waktu senggang tanpa jadwal kaku, namun tetap disiplin.
Ia juga terus mengumpulkan referensi terbaru untuk memperkaya perspektif. Pengalaman di lapangan menjadi bahan utama. Kompleksitas persoalan rumah sakit justru memantik kegelisahan intelektual yang terus berkembang.
Dari situlah tulisannya lahir. Ia memadukan pengalaman empiris dengan norma hukum yang hidup di masyarakat. Baginya, menulis bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi cara merawat akal sehat.
Menulis juga menjadi medium komunikasi yang melampaui batas ruang. Ia dapat menyampaikan gagasan tanpa harus bertatap muka. Jika harus memilih, ia tetap akan menulis sebagai ruang ekspresi dan kontribusi.
Baginya, di situlah rasa syukur atas akal sehat menemukan bentuk. Kegelisahan yang ia rawat tidak berhenti, tetapi terus berkembang menjadi gagasan baru.
Saat ini, ia tengah menyiapkan buku berikutnya yang merupakan pengembangan dari tesisnya tentang revitalisasi peradilan medik. Fokusnya mengarah pada upaya menghadirkan kepastian hukum sekaligus perlindungan profesi dalam sengketa kesehatan.
Sam meyakini proses berpikir dan menulis tidak pernah benar-benar selesai. Setiap gagasan akan terus tumbuh seiring pengalaman. Ia pun berpesan agar tidak takut mencoba.
Menurutnya, kegagalan sesungguhnya adalah ketika seseorang tidak berani melangkah untuk maju.
Editor: Ramli Arisno
Editor : Arief