Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kiai Hasan Effendi dan Jejak Perlawanan Porkas di Tanah Bumbu

Zulqarnain RB • Rabu, 25 Maret 2026 | 14:43 WIB

ZIARAH: Seorang peziarah berdoa di makam Kiai Hasan di Desa Al Kautsar, Kecamatan Satui, Tanah Bumbu. (Foto: Zulqarnain/Radar Banjarmasin)
ZIARAH: Seorang peziarah berdoa di makam Kiai Hasan di Desa Al Kautsar, Kecamatan Satui, Tanah Bumbu. (Foto: Zulqarnain/Radar Banjarmasin)

BATULICIN - Porkas (Pekan Olahraga dan Ketangkasan) pernah menjangkau hingga Sungai Danau, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu. Di warung-warung kecil hingga perbincangan warga, kupon undian ini sempat menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

Di masa puncak operasional Porkas pada akhir 1980-an, Kiai Haji Hasan Effendi menjadi salah satu tokoh yang paling lantang menentangnya. Ia merupakan ulama dan pendidik kelahiran Banua Hanyar Sungai Pandan, Alabio, 27 Juli 1954, yang sejak 1977 mengabdi sebagai guru di Pagatan dan aktif berdakwah di Tanah Bumbu dan sekitarnya.

Dalam setiap ceramah, Kiai Hasan tak ragu menegaskan bahwa mekanisme Porkas sejatinya adalah praktik judi yang hukumnya haram, meski saat itu memiliki legalitas dari negara.

Porkas sendiri diluncurkan oleh pemerintah Orde Baru pada 10 Desember 1985 melalui SK Menteri Sosial Nomor BSS-10-12/85. Beroperasi penuh sejak 1986 hingga awal 1990-an, instrumen ini dikelola sebagai sarana penggalangan dana atau Sumbangan Olahraga Berhadiah (SOB) untuk membina prestasi atlet melalui tebakan hasil pertandingan sepak bola.

Meski dikemas sebagai program resmi negara, praktiknya memicu perdebatan panjang. Pemerintah bersikeras menolak label judi, namun di tingkat akar rumput, banyak kalangan ulama memandangnya sebagai bentuk maisir yang dilarang dalam Islam.

Sikap Kiai Hasan kala itu sempat memicu keheranan di tengah masyarakat setempat. Ahmad Fuady, putra almarhum, mengenang betapa ayahnya menjadi figur yang berani menyuarakan penolakan secara terbuka. Banyak warga bahkan menganggap hanya Kiai Hasan satu-satunya penceramah yang secara spesifik melarang keterlibatan dalam kupon undian tersebut.

“Waktu itu masyarakat heran, kenapa Porkas sampai dilarang oleh Abuya. Tapi beliau tegas soal ini,” ujar Fuady.

Ketegasan Kiai Hasan muda dalam ceramah bahkan membuatnya dijuluki “singa podium” oleh Habib Sholeh, ulama sekaligus pendiri Pondok Pesantren Al-Kautsar di Satui yang menjadi rujukan spiritual bagi Kiai Hasan.

Sikap tegas itu bukan tanpa tantangan. Fuady menceritakan, sang ayah bahkan pernah diadang saat hendak berdakwah. Namun, hal ini tidak menyurutkan langkahnya, mengingat saat itu jumlah mubalig masih sangat terbatas dan ia harus berkeliling dari satu tempat ke tempat lain demi menyampaikan ceramah.

Selain berdakwah, Kiai Hasan juga aktif membina masyarakat melalui pendidikan. Ia mendirikan Majelis Taklim Nurul Islam pada 1990 dan menyusun berbagai kitab sebagai bahan ajar. Dalam perjalanannya, ia sempat meniti karier di birokrasi pendidikan sebelum akhirnya memilih fokus mengabdi di Pondok Pesantren Al-Kautsar.

Sementara itu, penolakan terhadap Porkas perlahan menemukan gaungnya. Arus protes masyarakat di berbagai daerah terus menguat hingga akhirnya pemerintah menghentikan Porkas dan seluruh praktik lotre serupa pada November 1993.

Kiai Hasan wafat pada 18 Juli 2018, meninggalkan sejumlah karya keislaman serta jejak dakwah di Bumi Bersujud.

Editor : Arif Subekti
#Tanah Bumbu #Marak #Perlawanan #batulicin