Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Belajar Mandiri di Kota Orang, Begini Perjuangan Puasa Para Perantau di Banjarmasin

Zulvan Rahmatan • Senin, 16 Maret 2026 | 11:38 WIB

 

Photo
Photo

Tak semua orang bisa menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan bersama keluarga. Khususnya bagi yang sedang berjuang di perantauan.

          ****

Ramadan identik dengan hangatnya kebersamaan keluarga. Momen buka puasa di meja makan, sahur bareng, sampai obrolan santai setelah tarawih jadi hal yang paling ditunggu sepanjang bulan suci.

Tapi tidak semua orang bisa merasakan suasana itu. Bagi anak rantau—baik mahasiswa maupun pekerja—Ramadan sering kali dijalani jauh dari rumah.

Buka puasa mungkin hanya bersama teman kos, rekan kerja, atau bahkan sendirian. Menu sahur pun sering simpel, yang penting praktis agar tetap kuat menjalani aktivitas keesokan hari.

Meski begitu, semangat menjalankan ibadah tetap sama. Apalagi teknologi pun jadi “obat rindu” paling ampuh. Meski jarak memisahkan, video call saat sahur atau pesan singkat dari orang tua sering kali cukup membuat hati terasa dekat.

Belajar Mandiri di Kota Orang

Irmah menjalani Ramadan pertamanya di Banjarmasin tahun ini. Mahasiswi asal Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu itu merantau demi kuliah. “Jauh dari keluarga memang agak sulit, karena harus belajar mandiri,” ujarnya, Minggu (15/3).

Meski begitu, Irmah merasa Ramadan di kota orang ternyata tidak terlalu sepi. Cewek 18 tahun ini dikelilingi teman-teman yang juga sama-sama merantau. Selain itu, mahasiswi Ilmu Komunikasi Fisip Uniska MAB itu tetap bersyukur mendapatkan pelajaran berharga bagaimana sulitnya jauh dari rumah.

Cerita lain datang dari M Rifky Fadillah. Menurutnya, merantau cara tepat untuk melanjutkan pendidikan dan menjalani pengalaman yang tidak bisa didapatkan di kampung halaman. Cowok asal Kotabaru itu sudah empat tahun kuliah di Universitas Lambung Mangkurat. Kini, ia bekerja, dan tinggal indekos di Banjarbaru dekat kantornya. “Setelah lulus kuliah, saya tetap merantau karena kesempatan kerja yang bagus dan membantu berkembang. Utamanya membantu perekonomian keluarga,” ujarnya karyawan swasta berusia 22 tahun itu.

Menurutnya, Ramadan di perantauan memang terasa berbeda dibandingkan di rumah. “Biasanya sahur dan buka puasa ramai bersama keluarga. Di perantauan seringnya sendiri atau dengan teman,” katanya.

Meski begitu, ia tetap menjaga komunikasi dengan keluarga lewat telepon atau video call. Terutama saat sahur, atau setelah berbuka. “Hal-hal kecil seperti cerita kegiatan sehari-hari bikin hubungan tetap terasa dekat,” tambahnya.

Bagi Rifky, keluarga adalah motivasi terbesar untuk terus berjuang di perantauan. “Ada rasa rindu yang cukup kuat. Terutama ketika melihat keluarga lain berbuka bersama,” ucapnya.

Berhubung jauh, kondisi itu justru jadi lebih menghargai setiap momen kebersamaan ketika pulang ke kampung halaman. “Saya percaya, setiap usaha dan pengorbanan yang dilakukan akan membawa hasil yang baik di masa depan,” tegasnya

Berbeda lagi dengan Fahrina Nurhaliza yang kini merantau di Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Gadjah Mada. Ramadan di kota pelajar itu tidak terlalu buruk. “Ada pengalaman baru, seperti berbagi makanan buka puasa, ngabuburit bareng teman, sampai sahur di kafe karena mengejar deadline (tugas, red),” kata mahasiswi Program Magister Ilmu Farmasi Universitas Gajah Mada (UGM) itu.

Meski begitu, hampir delapan bulan di Yogya, rasa rindu kampung halaman juga muncul. Ketika pulang, ada banyak sekali hal dan pengalaman yang ingin dibagikannya kepada orang-orang di rumah.

Baginya, perempuan yang berpendidikan tinggi perlu pengorbanan. “Supaya saya bisa menjadi kebanggaan untuk diriku sendiri, orang tua dan keluarga,” kata dara 23 tahun ini.

Tantangan Ramadan di Bali

Mahpuja Nur Humaria, perempuan asal Banjarbaru, kini merantau di Bali. Ia tinggal indekos di Dalung, Kuta Utara, Kabupaten Badung. Ramadan tahun ini, menjadi pengalaman pertamanya berpuasa jauh dari rumah. “Di sini (Bali, red) jarang ada masjid. Jadi suasana Ramadan terasa berbeda dibanding di kampung,” ujarnya.

Jika di kampung ada suara orang membangunkan sahur atau masjid yang ramai, di Bali harus mengandalkan alarm ponsel. Meski begitu, komunikasi dengan keluarga tetap terjaga lewat video call setiap pekan, dan chatting hampir setiap hari.

Baginya, merantau adalah uji coba memulai hidup baru dan merasakan keluar dari tekanan sementara. “Hanya sekadar untuk mencoba hidup sendiri, tempat baru dan suasana baru. Merasakan memulai dari awal, di mana belum kenal dengan orang-orang,” tutur karyawan swasta ini.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#kalimantan selatan #kota banjarmasin #Pemuda Banjarmasin #Ramadan di Kalsel