Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ustadz Arifin Ja'far: Tak Pernah Jauh dari Buku, Wariskan Ilmu Lewat Tulisan

Endang Syarifuddin • Jumat, 13 Maret 2026 | 12:49 WIB

Photo
Photo

BANJARMASIN – Jejak pengabdian Ustaz Abidin Ja’far, Lc tak pernah jauh dari ilmu dan dakwah. Meski dikenal sebagai akademisi, ahli hadis Banua itu justru lebih dikenal sebagai ulama yang mengabdikan hidupnya untuk membumikan Alquran dan Sunnah di Kalsel.

Perjalanan intelektualnya dimulai dari Kairo, Mesir. Di kota itu, ia memperdalam ilmu dengan konsentrasi pada bidang hadis. Sepulang dari Timur Tengah melalui Jeddah, Ustaz Abidin memilih menetap di Banjarmasin. 

Putra sulungnya, Muhammad Irfansyah (56), mengenang sang ayah sebagai sosok disiplin yang tidak pernah jauh dari buku dan laptop. Waktu-waktunya banyak dihabiskan untuk menulis di sela aktivitas mengajar dan berdakwah. “Kalau sudah menulis, beliau tidak bisa diganggu. Tapi salat lima waktu tetap paling utama,” ujarnya.

Sebagai dosen, Ustaz Abidin mengajar mata kuliah yang berkaitan dengan hadis dan fikih, tidak salah dalam setiap ceramahnya dalil Alquran dan hadis sahih menjadi rujukan kuatnya.

Selain aktif berdakwah, produktivitasnya juga tercermin lewat karya tulis. Sejumlah buku telah diterbitkan dan beredar di tengah masyarakat. Di antaranya Sukses dalam Berdoa serta Peranan Sholat Tahajjud dan Doa dalam Kesehatan Mental.

Ada karya lainnya seperti Hadis Nabawi, Shalat Tahajjud, Pelajaran Bahasa Arab Praktis untuk Jemaah Haji, Tuntunan Shalat dan Metode Praktis untuk Memahami Bacaannya, hingga Hadis-Hadis Wa Barakatuh pada Lafaz Salam. Buku-buku tersebut menjadi rujukan bagi jemaah dan masyarakat yang ingin memahami ajaran Islam secara praktis namun tetap berlandaskan dalil.

Tak berhenti di situ, Ustaz Abidin juga meninggalkan satu karya terakhir yang belum sempat dirilis karena beliau keburu wafat. Buku tersebut berjudul Salam Menurut Tuntunan Alquran dan Hadis-Hadis Nabi SAW. Naskahnya disebut telah rampung dan tinggal menunggu proses penerbitan. “Rencananya tetap akan kita terbitkan, karena isi tulisannya sudah selesai,” kata Ifan.

Pengabdian Ustaz Abidin tidak hanya sebagai akademisi dan juga penulis saja tetapi juga di masjid. Pada era 1980-an, ia dipercaya menjadi Ketua Umum Masjid Al-Jihad. Di tangannya, masjid berkembang menjadi pusat pembelajaran agama, pelatihan keislaman, hingga manasik haji dan umrah. Dari sana pula lahir program Taman Kanak-kanak Alquran yang hingga kini masih berjalan di Masjid Darul Arqam.

Sepanjang hidupnya, Ustaz kelahiran Kalua, 9 Agustus 1940 itu juga dipercaya memimpin Majelis Tarjih Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalsel. Amanah tersebut diemban sejak era 1980-an hingga akhir hayat.

Di forum-forum tarjih, ia dikenal tegas namun santun dalam menjelaskan persoalan fikih yang kerap memunculkan perbedaan pandangan di tengah masyarakat. “Itu juga akhirnya beliau tidak diganti-ganti,” tambahnya.

Usia tak menghalangi langkahnya. Meski harus berjalan dengan tongkat, ia tetap memenuhi undangan ceramah. Hingga usia 85 tahun, semangat dakwahnya tidak pernah surut. Kini, sosok itu memang telah berpulang, namun jejaknya tetap hidup sepanjang masa. Lewat tulisan, lembaga pendidikan, serta generasi yang dibinanya, Ustaz Abidin benar-benar mewakafkan hidupnya untuk ilmu.

Baca kumpulan berita terpopuler RADAR BANJARMASIN di Google News. Klik di sini

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#kalimantan selatan #kota banjarmasin #Ulama Kalsel #Literasi Kalsel