Rifky, anak punk Banjarbaru yang mematahkan stigma lewat kerja tangan. Dari tato hingga sablon, ia membuktikan punk bukan sekadar gaya, melainkan sikap hidup dan etos kemandirian.
*****
Bagi Rifky, bertambah usia bukan alasan untuk jinak. Di usia 33 tahun, seorang anak punk Banjarbaru itu justru semakin setia pada satu prinsip, yaitu hidup dari kerja tangan sendiri.
Dari jarum tato hingga mesin sablon, ia membuktikan bahwa punk bukan sekadar gaya, melainkan cara bertahan.
Prinsip itu terlihat setiap kali ada acara komunitas punk di Kalimantan, terutama Kalimantan Selatan. Nama Rifky hampir selalu muncul.
Ia bukan vokalis band, bukan pula penggerak panggung. Rifky hadir dengan cara membuka lapak kecil berisi kaus, emblem, sabuk, dan berbagai aksesori punk.
Semuanya hasil karyanya sendiri. Di dunia yang kerap dipandang berisik dan semrawut, Rifky justru menemukan jalannya menuju hidup mandiri.
Dulu Menato, Kini Menyablon
Rifky memulai hidup jalanannya sejak 2008. Ia belajar tanpa pelatihan resmi, berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Sebelum dikenal sebagai penyablon, Rifky lebih dulu menekuni seni tato. Lima tahun penuh ia bergelut dengan jarum dan tinta.
Namun, seiring perkembangan zaman, waktu membuatnya ingin berpindah. Ia merasa perlu mencari media lain untuk berkarya. “Saya ingin ganti media. Dari kulit (tato) ke kain (sablon),” ujarnya
Keputusan itu tak langsung membuatnya percaya diri. Awalnya Rifky hanya berani memproduksi emblem. Sedangkan saat itu ia merasa kalau kaos terasa terlalu berisiko. “Takut enggak laku,” bebernya.
Keberanian tumbuh perlahan. Rifky mulai memproduksi kaos, tote bag, tas pinggang, sabuk, hingga berbagai aksesori punk lain.
Ia memilih kain combed. Jenis kain ini menurutnya lebih banyak yang suka karena bertekstur lembut, mudah disablon, dan lebih bisa diterima masyarakat luas.
Semua teknik ia kuasai secara otodidak. Termasuk sablon raster, teknik yang memanfaatkan titik-titik kecil untuk menciptakan gradasi halus seperti foto. “Kalau warnanya banyak, memang lebih sulit. Tapi hasilnya juga lebih bagus dan mahal,” jelasnya.
Lapak Rifky kini dikenal lintas kota. Ia menjajakan karyanya dari satu event ke event lain. Bahkan wilayah Penajam, Balikpapan, Samarinda, Tenggarong, Bontang, hingga Singkawang dan Palangkaraya pernah ia singgahi. “Kalau ada event punk, kami buka lapak,” ujarnya.
Hasilkan Jutaan Rupiah Sebulan
Rifky ingat betul, Tahun lalu ia bersama teman-temannya membantu mendatangkan band-band punk, salah satunya Begundal Lowok Waru dari Malang.
Di setiap acara semacam itu, lapaknya nyaris tak pernah sepi. “Emblem paling murah lima ribu. Ikat pinggang bisa sampai ratusan ribu,” katanya.
Pendapatan bersih dari sablon bisa mencapai jutaan rupiah per bulan. Saat sepi pun masih cukup untuk bertahan hidup. Itu belum termasuk penghasilan dari tato dan melukis.
“Waktu Covid sempat turun. Tapi tato enggak pernah sepi. Selalu ada orang mau ditato,” ungkapnya.
Lahir di kawasan religius Sekumpul, Martapura, Rifky tumbuh dengan kesadaran akan stigma. Penampilan bertato dan gaya hidup punk pun kerap dipandang negatif.
“Kalau orang sana lihat orang tatoan kayak saya, pasti stigma jelek. Jadi kalau ada yang tanya, saya bilang dari Banjarbaru,” ujarnya pelan.
Kini, ia tak lagi peduli tentang hal itu. Ia merasa tak perlu menjelaskan diri kepada siapa pun. Karyanya sudah lebih dulu bicara.
Saat tak ada pesanan, Rifky melukis. Karyanya ia unggah ke media sosial. Tak jarang, lukisan itu langsung berpindah tangan.
Hidupnya mungkin tak mapan menurut ukuran umum, tetapi cukup dan merdeka dengan caranya sendiri.
Bagi Rifky, punk bukan soal rambut mohawk atau jaket penuh patch. Punk adalah sikap hidup.
“Kalau bisa dikerjakan dengan tangan sendiri, kerjakan, itulah punk. Kami anti kemapanan, tapi bukan tak mau mapan,” tandasnya
Editor: Sutrisno
Editor : Arief