Bulan Ramadan selalu membawa cerita tersendiri bagi Anindya. Bukan hanya tentang ibadah, namun juga kesibukannya menyiapkan parsel untuk dijual.
****
Rumah Anindya perlahan berubah menjadi ruang kerja dipenuhi kotak, pita, keranjang, hingga aneka bingkisan cantik yang siap dikirim ke berbagai penjuru kota.
Bagi pedagang parsel ini, datangnya bulan puasa selalu menjadi penanda dimulainya musim paling dinanti.
“Kalau sudah masuk Ramadan, pesanan pasti meningkat. Biasanya kami buka pre-order lebih dulu dengan harga promo sebelum puasa. Tujuannya untuk mengamankan slot barang, karena nanti tukang parsel biasanya rebutan stok,” ujarnya.
Strategi itu bukan tanpa alasan. Menjelang Lebaran, bahan isian parsel seperti makanan kemasan, perlengkapan ibadah, hingga kemasan dekoratif sering kali menjadi barang langka. Banyak perajin berburu produk yang murah namun tetap berkualitas.
Meski demikian, Anindya mengaku lonjakan pesanan tahun ini belum bisa dipastikan. Ramadan baru memasuki hari-hari awal.
“Ini baru hari keempat puasa, belum sampai seminggu, apalagi pertengahan. Jadi belum bisa diprediksi. Tapi tahun lalu omzetnya Alhamdulillah lumayan. Mudah-mudahan tahun ini bisa lebih banyak,” katanya penuh harap.
Pada hari biasanya, usaha Anindya sebenarnya lebih banyak bergerak di bidang katering. Secara hitung-hitungan bisnis, ia mengakui katering lebih menjanjikan dari sisi margin, tenaga, dan efisiensi waktu.
Namun, Ramadan menghadirkan sesuatu yang tidak bisa diukur dengan angka. “Kalau soal keuntungan, katering memang lebih menjanjikan. Tapi momentum Lebaran itu suasananya yang dikangenin. Rumah jadi penuh parsel, penuh stok barang. Kita bikin karya sendiri yang lucu, cantik, dan bagus. Itu rasanya beda,” tuturnya.
Pelanggan Banyak dari Perusahaan
Di rumah Anindya, aktivitas merangkai parsel menjadi pemandangan sehari-hari selama Ramadan. Kardus menumpuk dan pita warna-warni berserakan.
Bagi Anindya, bukan sekadar jual beli. Ada kebahagiaan tersendiri saat melihat hasil kreasinya menjadi bagian dari momen berbagi orang lain.
Pelanggan terbesar datang dari kalangan perkantoran. Biasanya, perusahaan memesan dalam jumlah banyak untuk dibagikan kepada karyawan atau relasi bisnis.
Selain itu, permintaan juga datang dari keluarga yang ingin mengirimkan bingkisan kepada orang tua, saudara, atau sahabat.
Jenis parsel pun menyesuaikan kebutuhan. Untuk kantor, paket makanan ringan atau sembako menjadi pilihan utama. Sementara untuk relasi pribadi, isi yang lebih personal seperti mukena, sajadah, atau peralatan keramik lebih diminati. “Kalau untuk orang tua atau keluarga, biasanya yang terasa lebih di hati," ujar Anindya.
Harga yang ditawarkan sangat beragam, mulai dari Rp100 ribu hingga Rp150 ribu untuk paket sederhana. Sedangkan parsel premium senilai Rp4 juta hingga Rp5 juta.
Wilayah pengiriman masih didominasi Banjarbaru, Martapura, dan Banjarmasin. Namun, beberapa pesanan juga dikirim hingga ke Batulicin.
Di balik ramainya pesanan, tantangan terbesar adalah soal ketersediaan barang. Anindya mengaku kerap menghadapi situasi ketika pelanggan memesan mendekati Lebaran, sementara stok yang tercantum di katalog sudah habis di pasaran.
Meski begitu, setiap perubahan di katalog selalu dikomunikasikan kepada pelanggan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief