Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tren Make Up Buat Gen Z, Pelengkap atau Tekanan?

Zulvan Rahmatan • Senin, 23 Februari 2026 | 11:10 WIB

 

Ilustrasi makeup
Ilustrasi makeup

Dulu, makeup identik dengan acara khusus. Dipakai saat kondangan, wisuda, atau momen penting. Jarang dipakai untuk aktivitas harian. Tampil polos bukan masalah. Percaya diri tetap ada.

           ****

Kini, situasinya berubah. Bagi banyak Generasi Z, makeup sudah jadi “teman wajib” ke kampus, kerja, bahkan sekadar nongkrong. Minimal foundation dan lipstik, agar terlihat segar dan rapi.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan belanja online masyarakat terus naik pada kuartal III-2025. Nilainya mencapai sekitar Rp200 triliun. Produk personal care, termasuk skincare dan kosmetik, menyumbang terbesar, sekitar 17–18 persen.

Angka ini mencerminkan satu hal: skincare dan makeup kini jadi kebutuhan penting. Skincare untuk merawat, makeup untuk berhias. Dua-duanya saling melengkapi.

Namun, di balik tren ini, muncul pertanyaan besar. Masihkah makeup sekadar pelengkap? Atau sudah berubah menjadi tekanan sosial?

Tak sedikit anak muda yang merasa kurang percaya diri saat tampil polos. Ke kampus, kerja, atau keluar sebentar pun, makeup jadi “tameng” agar tetap merasa pantas dilihat.

Makeup juga bisa menjadi media ekspresi, seni, sekaligus perawatan diri. Masalah muncul ketika makeup berubah dari pilihan, menjadi kewajiban.

Ketika rasa percaya diri bukan lagi datang dari diri sendiri, tapi dari lapisan kosmetik.

Raina Rahmi mengakui makeup bisa meningkatkan kepercayaan diri. Membuat penampilan lebih segar dan rapi. Namun, Raina kebetulan yang jarang bermakeup untuk harian. “Makeup bisa jadi pendukung, tapi bukan penentu utama. Yang paling penting tetap bagaimana diri sendiri merasa nyaman,” ujarnya, Minggu (22/2).

Menurut Raina, makeup juga bisa terasa seperti tekanan. Ada yang pakai makeup karena memang suka, bikin mood naik, dan merasa lebih rapi. Namun, ada juga yang merasa harus pakai karena takut dibilang kusam, capek, atau kurang menarik kalau tampil polos. “Nah, di situ makeup bukan lagi pilihan. Tapi, terasa seperti kewajiban dari persepsi lingkungan sekitar,” ungkap karyawan swasta berusia 24 tahun ini.

Pandangan serupa disampaikan Muhlisa Rahmiati. Ia menilai makeup berada di antara kebutuhan dan tekanan sosial. “Sekarang standar visual itu tinggi. Banyak yang full makeup, jadi yang nggak pakai makeup kadang takut dibilang kusam, capek atau nggak niat. Akhirnya makeup terasa seperti tekanan,” tuturnya.

Bagi Muhlisa, makeup penting untuk menunjang aktivitas, meski tak harus lengkap. “Kalau aku, minimal pakai lipstik. Itu bikin nggak kelihatan pucat, dan menambah rasa percaya diri. Makeup juga bikin terlihat lebih profesional, apalagi kalau kerja atau ketemu orang,” jelasnya.

Ia juga mengakui, makeup bisa jadi mood booster. “Kadang lagi nggak mood, tapi setelah makeup jadi lebih semangat. Selain itu, juga jadi bagian dari identitas diri,” tambah karyawan swasta 24 tahun itu.

Meski begitu, Muhlisa menegaskan pentingnya kebebasan memilih. Ada yang merasa makeup penting, ada juga yang nyaman tanpa makeup. Itu nggak masalah. “Makeup bukan musuh, tapi juga jangan sampai jadi tekanan. Yang penting itu bagaimana kita merasa nyaman dan percaya diri dengan diri sendiri,” terangnya.

Thalia Putri melihat makeup masih sebagai pelengkap. Meski kadang terasa seperti tuntutan. “Fungsinya untuk mempercantik dan menambah percaya diri. Tapi di beberapa situasi, seperti kerja atau standar sosial, kadang terasa seperti tuntutan. Tergantung lingkungannya,” jelasnya.

Menurutnya, makeup bukan penentu utama rasa percaya diri. “Makeup membantu penampilan terlihat lebih rapi dan segar, tapi tanpa makeup pun aku tetap bisa beraktivitas dengan nyaman. Jadi bukan hal yang wajib,” yakin karyawan swasta 23 tahun itu.

Fenomena makeup di kalangan Gen Z mencerminkan perubahan zaman. Standar sosial kini bukan hanya lahir dari dunia nyata, tapi juga dari media sosial.

Di tengah banjir konten “perfect look”, tampil tanpa makeup kadang terasa “kurang niat”. Padahal, percaya diri seharusnya datang dari dalam diri, bukan dari standar yang dibentuk bersama-sama. Pada akhirnya, makeup seharusnya tetap menjadi pilihan pribadi. Dipakai karena suka, bukan karena takut dinilai.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Gen Z #Kecantikan #makeup #banjarmasin #pemuda