Lahan sempit bukan alasan tak bisa bertani. Di Kompleks Puskopad, Karang Rejo, pekarangan rumah jadi sumber pangan yang hidup dan produktif.
***
Sore itu, matahari tertutup awan mendung, tanah pekarangan masih lembap oleh sisa bekas hujan.
Terlihat Suliyat dan beberapa rekannya memetik daun singkong satu per satu di pekarangan rumahnya di Kompleks Puskopad, Karang Rejo, Kelurahan Guntung Manggis, Landasan Ulin.
Tangannya cekatan, matanya jeli memilih daun yang masih muda. Kantong plastik putih di tangan kirinya perlahan terisi.
Pekarangan-pekarangan di kompleks itu tampak hijau dan hidup. Tanaman tumbuh tanpa sekat kaku. Singkong tumbuh subur dengan daun lebar, pepaya berdiri di sela terong dan cabai. Sayur-mayur tumbuh rapat.
Sebagian ditanam langsung di tanah, sisanya lagi memanfaatkan botol plastik bekas yang disusun rapi, bahkan ada yang membentuk bedeng melingkar, dicat merah-putih.
Beberapa emak-emak menyusuri kebun kecil itu. Kerudung dililit sederhana, punggung tas kecil menggantung di bahu.
Mereka memetik cabai yang mulai memerah, memeriksa terong, lalu berhenti sejenak untuk berbincang. Obrolannya ringan, seputar tanaman mana yang siap dipanen hari itu.
Semua berawal dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Galuh Mandiri. Kelompok ini berdiri sejak 2015. Kini, ada tujuh dasawisma yang aktif mengelola pekarangan rumah masing-masing.
Sosialisasi Lewat Yasinan hingga Arisan
Tak ada lahan ataupun kebun luas, yang ada hanya kemauan memanfaatkan ruang sisa di pekarangan.
Suliyat, Ketua KWT Galuh Mandiri, mengingat betul awal berkebun. Ia memulai dari pekarangan rumah sendiri, lalu mengajak ibu-ibu lain bergabung.
“Karena di kompleks kita tidak bisa punya lahan luas, jadi memanfaatkan pekarangan rumah,” ujarnya.
Ia tak henti melakukan sosialisasi. Dari pertemuan PKK, yasinan, hingga arisan. Ajakan itu perlahan berbuah. Tanaman pangan di pekarangan warga makin beragam.
Kini, KWT Galuh Mandiri mengembangkan tiga jenis unggulan: tanaman karbohidrat, tanaman obat keluarga (toga), dan sayur-mayur.
“Paling banyak sayuran. Ada kacang, buncis, pare sampai jagung. Tanaman toga juga ada,” jelas Suliyat.
Hasilnya memang tak selalu melimpah. Namun cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,.
Cabai untuk sambal tersedia di halaman sendiri. Daun singkong tinggal petik. Terong dan sayur daun bisa dipanen sesuai kebutuhan. “Mau nyambel, cabainya sudah ada. Jadi bisa hemat belanja,” kata Suliyat.
Lebih dari sekadar urusan dapur, berkebun memberi kepuasan batin. Ada rasa dekat dengan alam yang tumbuh dari proses menanam dan merawat. “Dengan menanam, ada ikatan emosional antara manusia dan alam,” ungkapnya.
Kesibukan Membuat Aktivitas Sempat Vakum
Perjalanan KWT Galuh Mandiri tak selalu mulus. Beberapa bulan terakhir, aktivitas sempat vakum. Kesibukan masing-masing membuat kegiatan bersama melambat.
Untuk kembali membangkitkan semangat, digelar lomba yang melibatkan para emak-emak.
Jenis lombanya beragam. Mulai dari kebersihan lingkungan, tertib administrasi, pengolahan limbah rumah tangga, hingga partisipasi anggota. Lomba sederhana itu menjadi pemantik. “Alhamdulillah, dari situ semangat anggota kembali membara,” ujar Ketua KWT Galuh Mandiri, Suliyat.
Ke depan, KWT Galuh Mandiri siap bersinergi dengan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Banjarbaru. “Kalau sering dapat kunjungan dan dukungan, tentunya kegiatan ibu-ibu terus berjalan dan dikenal lebih luas,” ujarnya.
Kepala BPP Landasan Ulin, Frins Usifarina, menilai KWT Galuh Mandiri memiliki keunikan tersendiri. Dari 78 kelompok tani yang dibina, yang menonjol bukan semata dari hasil panen.
“Di Guntung Manggis ini bukan hasil panennya yang ditonjolkan, tapi kekompakan warganya membentuk dasawisma,” katanya.
Tak hanya bertani, warga sekitar juga mulai menerapkan smart farming dengan konsep integrated farming. Pertanian, perikanan, hingga ternak dikelola bersama dalam satu kawasan. “Beda sekali di sini. Kesadarannya membentuk sendiri dasawisma sangat bagus,” ujar Frins.
Ia menilai, di pekarangan yang tak seberapa itu, KWT Galuh Mandiri menanam lebih dari sekadar sayur.
“Mereka menanam kebiasaan, kebersamaan, dan rasa cukup yang tumbuh pelan-pelan, dan mengakar di tanah pekarangan rumah,” pungkasnya.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief