Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tempat Menemukan Buku Langka, Begini Suasana Taman Bacaan Masyarakat Nostalgia di Banjarbaru

Sheilla Farazela • Rabu, 18 Februari 2026 | 10:16 WIB
FOKUS: Para pengunjung sedang fokus membaca buku di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Nostalgia.
FOKUS: Para pengunjung sedang fokus membaca buku di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Nostalgia.

Sejumlah buku yang kini sulit dijumpai tersedia di TBM Nostalgia. Mulai dari serial Wiro Sableng, komik Petruk, hingga majalah anak legendaris seperti Bobo.

              *****

Sore itu, suasana di sebuah rumah sederhana di Jalan Jafri Zamzam, Perumahan Shafwah Al Zafri, Banjarbaru Selatan, terasa berbeda.

Di rak-rak kayu yang tersusun rapi, deretan buku bersampul pudar seolah menyimpan cerita yang tak hanya tertulis di halaman, tetapi juga dalam ingatan para pembacanya.

Di tempat itulah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Nostalgia berdiri. Bukan sekadar tempat membaca, melainkan ruang waktu yang membawa pengunjung kembali ke masa ketika buku menjadi teman akrab di sela-sela hari.

Kepala TBM Nostalgia, Musa Bastara mengatakan, taman bacaan ini lahir dari keinginan sederhana yakni membagikan semangat membaca sekaligus menghadirkan pengalaman yang berbeda dari taman bacaan pada umumnya.

Ia menyebut, di sana pengunjung bisa menemukan buku-buku yang kini sulit dijumpai. Mulai dari serial Wiro Sableng, komik Petruk, komik silat, hingga majalah anak legendaris seperti Bobo. Koleksi-koleksi itu bukan dipilih karena tren, melainkan lantaran nilai kenangannya.

“TBM Nostalgia bukan hanya tempat membaca. Kami ingin menghadirkan ruang yang mengarsipkan ingatan, sekaligus memberi kesempatan generasi baru berdialog dengan masa lalu lewat buku,” ujar Musa.

Baginya, taman bacaan ini juga berangkat dari kerinduan pribadi. Kerinduan pada sensasi membuka buku bersampul menguning, mencium aroma kertas tua, menemukan coretan di pinggir halaman, hingga menikmati gaya bahasa yang kini jarang ditemui.

Kerinduan itulah yang coba dirawat di TBM Nostalgia. Pengunjung tidak hanya membaca, tetapi juga berbagi cerita—tentang masa kecil, tentang buku pertama yang dibaca, atau tentang tokoh-tokoh yang dulu menemani imajinasi mereka. 

MEMBACA: Anak-anak sedang membaca buku di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Nostalgia.
MEMBACA: Anak-anak sedang membaca buku di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Nostalgia.

Santai, Tak Formal Seperti Perpustakaan

Suasana membaca di TBM Nostalgia dibuat santai. Tak ada kesan formal seperti perpustakaan.

 

Pengunjung bisa duduk, membuka halaman demi halaman, bahkan berbincang dengan sesama pembaca yang memiliki kenangan serupa tanpa ada batasan.

Untuk menjaga kondisi koleksi, TBM Nostalgia sementara belum membuka layanan peminjaman umum. Pengunjung didorong membaca di tempat karena sebagian besar buku sudah berusia tua dan rentan rusak.

Meski begitu, peminjaman terbatas tetap dibuka bagi peneliti atau penulis dengan sistem pencatatan sederhana. “Kami bukan perpustakaan pada umumnya. Yang penting, bahan bacaan ini tidak hilang ditelan waktu,” kata Kepala TBM Nostalgia, Musa.

Di tengah derasnya arus literasi digital dan bacaan serba cepat, TBM Nostalgia justru memilih berjalan pelan. Tempat ini diharapkan menjadi ruang singgah bagi siapa saja yang ingin sejenak beristirahat dari hiruk pikuk informasi.

“Kalau banyak taman bacaan berlomba menyiapkan masa depan literasi, kami ingin memastikan masa lalunya tidak hilang,” imbuhnya.

Salah satu pengunjung, Soraya Naila Hasibuan, merasakan pengalaman berbeda saat berkunjung. Menurutnya, keberadaan buku-buku lawas di TBM Nostalgia membantu melestarikan bacaan lama sebagai bagian dari sejarah dan warisan budaya.

“Berkesan sekali. Bisa melihat dan membaca buku yang sudah jarang ditemukan, dengan suasana sederhana. Pengalamannya berbeda,” ringkasnya.

Editor: Sutrisno

Editor : Arief
#feature #banjarbaru #buku #Literasi