Second account bukan sekadar akun cadangan. Bagi Generasi Z, akun kedua di media sosial—terutama Instagram—adalah ruang paling “jujur” untuk menjadi diri sendiri.
******
Di balik akun utama yang rapi, estetik, dan penuh pencitraan, ada akun lain yang lebih apa adanya. Di sanalah Gen Z berbagi keluh kesah, keresahan, hingga sisi rapuh yang tak berani ditampilkan ke publik.
Second account menjadi tempat melepas lelah dari tuntutan tampil sempurna. Aksesnya pun terbatas, hanya untuk orang-orang terdekat yang dipercaya.
Fenomena ini menunjukkan satu hal: media sosial tak selalu ramah untuk kejujuran. Banyak anak muda justru harus “bersembunyi” demi bisa jadi diri sendiri.
Akun utama ibarat topeng digital. Second account adalah ruang kejujuran. Tekanan sosial, standar hidup, hingga rasa takut dinilai orang lain sering kali dilampiaskan lewat akun kedua.
Di tengah era keterbukaan, ini jadi refleksi bersama. Generasi hari ini, membutuhkan ruang aman. Bukan untuk terlihat hebat, tapi untuk tetap manusiawi.
Namun, second account juga lahir dari realitas lain: dunia digital yang nyaris tanpa batas privasi. Aktivitas online—unggahan, komentar, lokasi, hingga pencarian—semuanya meninggalkan jejak.
Tak heran, banyak orang menciptakan identitas ganda agar tetap nyaman bersosial media.
Jejak Digital Makin Mudah Dilacak
Mahasiswi Psikologi Islam UIN Antasari Banjarmasin, Dhiya Az Zahrah menilai second account sebagai ruang aman untuk menyimpan momen tanpa takut dihakimi. “Mau media sosial, marketplace, atau sekadar pernah ikut webinar dan namanya tercantum di Google, semuanya bisa muncul kalau dicari,” ujar cewek berusia 21 tahun tersebut, Minggu (15/2).
Menurut Dhiya, banyak orang tak sadar bahwa aktivitas kecil di internet bisa membentuk citra diri. “Orang lain tinggal ketik nama. Lalu pelan-pelan bisa tahu kita sekolah di mana, kerja di mana, pergaulannya seperti apa. Bahkan cara kita berpikir dari postingan yang pernah dibuat,” tekannya.
Ia menambahkan, mesin pencari kini makin canggih. Data dari berbagai platform bisa saling terhubung dan membentuk satu cerita utuh tentang seseorang. Karena itu, second account terasa lebih melegakan. “Saya bisa bebas apapun hal yang saya mau share untuk menyimpan momen-momen berharga dalam hidup saya. Selain itu rasanya safety,” katanya.
Baginya, akun kedua juga seperti “Google Drive gratis”: tempat menyimpan kenangan dan berkomunikasi dengan lingkaran terbatas.
Antara Ekspresi dan Risiko
Guru muda di SMK Farmasi Mandiri Banjarmasin, Achmad Syaiba melihat second account sebagai tren penggunaan media sosial yang lebih terkontrol. Akun utama digunakan untuk personal branding. Sedangkan akun kedua menjadi ruang ekspresi yang lebih tertutup.
Namun, ia mengingatkan adanya sisi gelap. “Sebagian orang menggunakan sosial media dalam tahapan personal, menggunakan second account sebagai bentuk ujaran kebencian kepada orang yang tidak disukai,” beber pria 22 tahun ini.
Menurut Syaiba, akun kedua bisa membuat pengguna lebih bebas berekspresi, tetapi juga rawan disalahgunakan untuk stalking atau mencari keburukan orang lain. “Karenanya, kembali lagi bagaimana individu menggunakan sosial media dengan bijak atau tidak. Tetapi saya kadang-kadang perlu waktu istirahat dari sosial media,” ucapnya.
Dua Versi Diri di Dunia Maya
Pandangan serupa disampaikan Mas’udah Muyassar. Ia menilai second account adalah hal wajar. “Di kehidupan nyata saja kita beda sikap ke teman dekat, keluarga dan rekan kerja. Jadi di media sosial pun rasanya normal kalau ingin ruang yang lebih kecil dan lebih aman,” ucap karyawan swasta ini.
Menurutnya, akun kedua membuat orang lebih lega untuk curhat, menyampaikan opini jujur, dan menjadi diri sendiri tanpa banyak beban. Namun, ada konsekuensinya. “Meski capek juga kalau harus mikir cocoknya posting di mana ya?,” ungkap Mas’udah.
Cewek 22 tahun ini juga menyoroti sulitnya menghapus jejak digital. “Jadi wajar sih kalau orang pengen punya akun yang lebih tertutup biar lebih terkontrol,” cetusnya.
Interaksi di second account terasa lebih dekat dan tulus. Tapi, pengguna juga bisa terjebak di lingkaran sempit dan kurang terbuka pada pandangan lain. “Kalau tidak pakai media sosial sama sekali, itu kaya benar-benar keluar dari keramaian. Lebih tenang mungkin, tapi juga bisa merasa terputus dari banyak hal,” jelasnya.
Second account akhirnya menjadi jalan tengah. Tetap terhubung dengan dunia digital, tapi dengan batas yang bisa dikendalikan sendiri.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief