Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Simbol Kebanggaan Budaya, Tetap Stylish dengan Balutan Kain Tradisional

Zulvan Rahmatan • Senin, 9 Februari 2026 | 10:16 WIB
Ilustrasi fashion kain tradisional
Ilustrasi fashion kain tradisional

Berkain sering dianggap ndeso, terlalu kaku dan formal. Sekarang, anggapan itu mulai bergeser. Lebih dekat dengan tampilan berpakaian anak muda.

           *****

Rasanya baru satu dekade. Memakai kain batik, jarik dan lilit masih sering dianggap kuno, ndeso, ketinggalan zaman dan terlalu kaku.

“Mau ke seminar mana?”. “Tumben, ada acara?” atau “Mau kondangan?”. Ini kata-kata paling umum jika datang memakai kain tradisional untuk hangout bersama teman, atau pergi ke kelas perkuliahan.

Namun, kebiasaan dulu yang dianggap kaku dan terlalu formal kini bangkit dan mulai bergeser.  Banyak anak muda bikin konten tutorial styling berkain. Ini dapat dilihat dari daily outfit di TikTok dan Instagram.

Secara tidak langsung, ini juga menepis stigma berkain bukan lagi atribut formal. Apalagi drees code khusus untuk kondangan atau seminar.

Berkain bukan sekadar tren pilihan outfit. Ia muncul dan jadi bagian dari gerakan budaya dari Gen Z, yang identik mengekspresikan diri, suka dengan hal baru, dan hobi ekspose dengan konten.

Dampak baik, gerakan ini menyatukan unsur tradisional, identitas budaya, dan aktualisasi modern. Tren ini meningkatkan apresiasi terhadap budaya, dan mendukung ekonomi lokal.

Bahkan berkain sudah masuk opsi fashion sehari-hari. Casual, santai dan tetap terlihat estetik. Tentunya, cocok untuk si Gen Z yang kreatif dan melek dengan tren bergaya.

Di Instagram, 47,1 ribu postingan telah menyertakan hastag #berkainbersama. Sebuah tren yang rupaya telah berkembang sejak beberapa tahun ke belakang, tepatnya mulai 2021.

Keberadaan conten creator atau disebut influencer juga sangat berpengaruh. Sebut saja Rania Yamin. Di akun Instagram pribadi @raniaayamin, ia kerap membagikan foto estetik atau konten berkain. Bahkan sejak 2022, hingga sekarang.

Ciri khasnya, tampil dengan styling kain secara simple. Tapi tetap menunjukan sisi yang ayu, mematahkan stigma ndeso pada tren ini.

Baginya, melestarikan budaya bukan hanya dengan ceramah panjang. Cukup tunjukan dengan OOTD (Outfit of the Day alias Pakaian Hari Ini) yang fun.

Mahasiswi Manajemen di Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (Uniska MAB), Eka Nurrisma sepakat tren berkain kini lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dulu, kain bak punya aturan tertulis. Kini, lebih bebas dan mudah diterima. “Berkain mempermudah perkenalan budaya, karena bisa sambil memperkenalkan dengan ber-outfit,” ucapnya.

Menurutnya, melestarikan budaya tak selalu lewat acara. Bahkan budaya terkesan terasa jauh jika berkain hanya dipakai saat kegiatan resmi. Jadi mulailah berkain buat ke kampus, nongkrong, ataupun bikin konten sudah termasuk bentuk ekspresi pelestarian. “Budaya jadi lebih hidup, karena dipakai. Bukan cuma dipamerkan pas momen tertentu,” ungkap Risma.

Baginya, berkain memiliki perasaan nyaman dan bangga tersendiri. Tetap santai dan merasa punya identitas. Jauh dari kesan kaku karena dipakai bukan hanya dalam momen sakral.

Cewek 21 tahun ini menyebut, berkain nggak perlu ribet. Kain bisa dipakai sesimpel berselempang di pundak, atau dijadikan rok. Dipadukan dengan kaos, kemeja, atau outer santai juga tetap cocok. “Selama nyaman dan sesuai gaya, rasa pede bakal muncul sendirinya. Anggap kain sebagai pelengkap outfit. Dari situ, berkain jadi terasa ringan dan fun,” tambahnya.

Aura Syawal Aglina dari Banjarmasin juga mengatakan tren berkain ini sangat positif. Ini menjembatani budaya tradisional dan gaya kontemporer. Banyak orang mulai memodifikasi, mengombinasikan dengan pakaian modern dan desain yang lebih fleksibel. “Kain tidak lagi terkesan kuno. Ini simbol kebanggaan budaya yang relevan dengan zaman sekarang,” ucap wanita 23 tahun ini, Minggu (8/2).

Pekerja swasta di Banjarmasin ini melestarikan penggunaan kain tradisional tak selalu harus lewat acara dan agenda seremonial. Pelestarian juga bisa dilakukan melalui penerapan sehari-hari. “Misalnya mengenakan sebagai pakaian atas untuk ke kantor dengan gaya yang tetap non-formal, atau aksesori dari kain tradisional,” ujarnya. Semakin sering kain itu digunakan, semakin kuat identitas budaya yang terjaga dan berkembang.

Aura merasa berkain cukup bikin bangga dan berkoneksi dengan akar budaya. Ada kesan hangat dan elegan yang tak bisa diraih oleh pakaian lain. Ia mengaku cukup sering berkain baik itu Batik maupun Sasirangan khas Banjar ketika hangout. Bahkan menggunakannya di kelas perkuliahan. “Di lingkunganku ada beberapa yang masih pakai. Jadi keikut juga. Mama di rumah pun sampai sekarang masih memakai Sasirangan, dan banyak koleksi,” tutur Aura.

Baginya, berkain tak perlu minder. Sesuaikan cara pemakaian yang lebih santai dan praktis. Pilih warna kain yang sesuai dengan kulit agar gaya pribadi lebih merasa nyaman dan tetap percaya diri.

Davy Lysriandi Putra juga merasa ini gerakan positif. Melestarikan budaya dengan opsi fashion baru yang lebih berkolaborasi dengan pakaian modern. Selain itu, ini juga mendorong UMKM tradisional agar mengikuti dan berinovasi dalam memproduksi produk-produk bernuansa kearifan lokal.

Salah satunya Sasirangan, kain khas dari masyarakat Banjar kini mulai hadir dalam kaos dan jaket bomber. Davy memandang tren ini sudah mulai diterima. “UMKM harus mengikuti ini. Menyesuaikan outfitnya yang diproduksi, dan memaksa untuk berinovasi agar tidak stagnan,” sebutnya.

Bagi cowok 22 tahun ini, melestarikan budaya tak sekadar menunjukkannya di acara formal. Tapi bisa digunakan saat bepergian, baik jalan-jalan maupun pergi ngantor.

Memakai Sasirangan sebagai pelapis toga saat saat wisuda menjadi momen berkesan bagi Davy. Mengabadikan momen berfoto. Terlebih warna kain Sasirangan itu dibuat dengan permintaan custom. “Karena benar-benar bangga pakai baju Sasirangan,” ujarnya.

Tips darinya, Sasirangan bisa dibikin syal, atau rok untuk kaum hawa. Atau, mencoba membeli produk dengan nuansa budaya. Terlebih, Sasirangan sudah banyak mengolaborasikannya di produk jaket dan baju. “Cari yang memang sesuai selera. Pernah memakai itu supaya terlihat keren dan tidak terlalu monoton,” tutup Davy.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#kain #pakaian #ZPEAK UP #khas #banjarmasin #Fashion #tradisional