Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kisah Wahidah, Perempuan Tangguh Pengrajin Bakul

Jamaludin • Senin, 26 Januari 2026 | 09:04 WIB
Sosok Wahidah (48) bertahan hidup dengan menjadi pengrajin bakul Bamban.
Sosok Wahidah (48) bertahan hidup dengan menjadi pengrajin bakul Bamban.

Siang itu pintu rumah yang lapuk menganga menghadap jalan. Di dalamnya tinggal tiga perempuan yang hidup dari kerajinan Bakul dari bahan dasar Bamban.

 

****

 

Wahidah (48) seorang pengrajin Bakul Bamban tinggal di Desa Pandawanan Rt 4, Kecamatan Amuntai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Sejak remaja ia sudah mahir menganyam dan berlanjut sampai sekarang.

 

Wahidah memilih membuat bakul sebagai sumber utama penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Meskipun di Desa Pandawanan masih memungkinkan untuk mencari ikan untuk dijual.

 

“Tetapi karena yang biasanya mencari ikan kebanyakan adalah laki-laki, jadi saya tidak memilih pekerjaan tersebut karena tidak memiliki seorang suami karena lama cerai,” kisahnya, Minggu, (25/1/2026).

 

Untuk membuat bakul, Wahidah harus membeli bahan utamanya yaitu Bamban dari kebun milik orang lain. Bamban yang dibelinya seharga Rp7 ribu per 100 batangnya.

 

Selain bamban, ia juga harus membeli tali khusus untuk mengikat hasil akhir pembuatan bakul yang dibuatnya.

 

Tali yang dibelinya seharga Rp6 ribu per gulungan. Satu gulungan tali tersebut hanya cukup untuk 5 buah bakul besar atau biasa disebut inanan.

 

Dalam satu minggu Wahidah hanya mampu membuat bakul maksimal satu kodi atau 20 buah bakul, itu pun jika cuaca panas.

 

Membuat bakul tidaklah mudah, meskipun ia sudah mahir sejak kecil. Tahapan yang paling susah dan membutuhkan energi yang sangat banyak adalah saat membelah batang bamban sehingga menjadi kecil.

 

Kerajinan tangan yang ia buat ada 3 jenis ukuran. Ukuran yang paling kecil sering disebut dengan sebutan bakul dan biasanya digunakan untuk mencuci beras.

 

Ukuran yang kedua adalah ukuran sedang yang seringkali disebut kandutan, kandutan juga digunakan untuk mencuci beras tapi dengan takaran yang lebih besar.

 

Ukuran yang terakhir adalah besar, seringkali disebut inanan, biasanya digunakan untuk memindahkan padi yang sudah terpisah dari tangkainya ke dalam karung.

 

Proses pengeringan bamban memerlukan waktu dua hari untuk mendapatkan bamban yang kering dan siap untuk dianyam. Belum lagi proses penganyaman dan pengikatan tali di akhir pembuatan yang memerlukan waktu lumayan lama.

 

Meskipun pembuatannya sulit, harga bakul yang dijual hanya Rp5 ribu per 1 buahnya. Harga yang tak sebanding dengan proses pengerjaannya.

 

Selain membuat bakul, Wahidah juga menerima jasa untuk mengikat tali khusus yang diikat diakhir pembuatan bakul. Upah yang ia terima hanya sebesar Rp25 ribu per 20 buah bakul.

 

Harga bakul tak pernah mengalami kenaikan. Lelah, penat, dan bosan menjadi satu, tetapi ia tidak berhenti bekerja demi menghidupi anak dan saudarinya.

 

Namun, Wahidah menjadi seseorang pengrajin sekaligus meneruskan kearifan lokal dan warisan budaya anyaman bakul yang terbuat dari tumbuhan bamban.

 

Meskipun harganya murah tapi dipasaran lain harganya lumayan mahal, karena menurut beberapa sumber anyaman bakul adakah hal yang unik dan khas.

 

Hanya saja Wahidah bingung kemana memasarkan kerajinannya itu.

 

Anyaman bakul yang dianyam langsung tentu memiliki kualitas yang bagus, berbeda dan kuat. Selain Bamban sebenarnya kerajinan anyaman tak hanya berbahan itu, bisa juga dengan bahan lainnya. Misalnya dari eceng gondok, purun, dan rotan.

        

Ini yang menjadikan Kalimantan Selatan (Kalsel) sebagai wilayah yang memiliki banyak kerajinan tangan seperti anyaman.

 

Selain sebagai pengrajin bakul, aktivitas lain yang digeluti Wahidah adalah petani. Setiap pagi Wahidah pergi ke sawah, melihat tanaman padi di lahannya sendiri.

 

Kemudian sore hari mulai menganyam hingga malam. Kegiatan seperti ini diulang-ulang sudah bertahun-tahun.

 

Wahidah mampu bertahan hidup dan membesarkan putrinya seorang diri. Ia mampu menahan luka di badan dan di hati dengan sangat luar biasa. Wahidah mampu bangkit dan berdiri sendiri.

 

Dari kisah Wahidah kita belajar bahwa bertahan hidup dengan terus meneruskan warisan budaya itu punya tantangan hebat. Namun warisan ini tetap harus dijaga. Sebab di daerah lain kerajinan ini sudah mulai pudar.

Editor : M Oscar Fraby
#HSU #anyaman #Bakul