Drama China kini bukan sekadar tontonan. Ia menjelma fenomena global yang menyusup diam-diam lewat layar ponsel, terutama melalui video pendek di media sosial.
*****
Dalam waktu singkat, drama asal Negeri Tirai Bambu ini meroket popularitasnya, termasuk di Indonesia. Padahal, ia bukan film layar lebar. Bahkan bukan serial televisi konvensional. Produk ini hadir dalam bentuk video pendek dengan episode padat, konflik cepat, dan emosi yang diperas habis-habisan.
Polanya nyaris seragam. Tokoh utama selalu berangkat dari titik terendah: anak buangan, selir rendahan, murid tanpa latar belakang, atau rakyat kecil yang diinjak-injak. Paling ikonik, sosok CEO superkaya yang menyamar, sabar menahan hinaan, lalu membalikkan keadaan secara dramatis di akhir cerita.
Plotnya mudah ditebak. Tapi justru di situlah candunya. Penonton dibuat greget, emosinya diaduk, lalu dipuaskan dengan akhir epik ketika semua tokoh tunduk mengakui kekuasaan sang protagonis.
Fenomena ini tak hanya mengguncang Indonesia. Negara-negara Barat mulai meniru format serupa. Ironisnya, di negara asalnya sendiri, pemerintah China justru mulai memasang rem.
Administrasi Radio dan Televisi Nasional China (NRTA) kini membatasi genre romansa dengan tokoh CEO superkaya. Era cinta instan antara gadis biasa dan miliarder perlahan ditutup. Alasannya bukan semata soal selera, tapi dampak sosial jangka panjang.
Pemerintah China khawatir generasi muda membangun ekspektasi tidak realistis. Seolah kekayaan adalah solusi semua masalah. Nilai kerja keras, kejujuran, dan realitas hidup dianggap perlu kembali ditonjolkan.
Lalu bagaimana dampaknya bagi anak muda Indonesia?
Mahasiswi Psikologi FKIK Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Rina, mengakui drama China memang terasa menarik, baik versi pendek maupun panjang. “Untuk istirahat dari dunia nyata yang tidak sesuai dengan ekspektasi dan banyak gedebak-gedebuknya,” ujarnya, Sabtu (24/1).
Meski klise dan mudah ditebak, Rina menilai drama ini sukses menyedot emosi penonton. “Tak hanya menikmati, tapi menarik emosi penonton larut dalam cerita tersebut. Visualnya juga memanjakan mata (CGI) dengan variasi genre yang membuat penonton tidak mudah merasa bosan,” tuturnya.
Ia mengaku sempat ikut berkhayal. Namun menurutnya, batas antara hiburan dan realita tetap harus dijaga. “Berkhayal itu boleh, asal seimbang yaitu dengan melihat realitas yang kita alami,” tegas perempuan 23 tahun ini.
Pandangan senada disampaikan Salia, mahasiswi Bimbingan dan Konseling FKIP Uniska MAB. Menurutnya, drama China memang seru dan bikin penasaran. “Saat nonton itu sangat ngena, sesuai sama apa yang kita inginkan,” ucapnya.
Namun, ia mengingatkan fiksi berlebihan bisa berbahaya jika membentuk ekspektasi hidup yang keliru. Karena itu, ia menilai pemerintah perlu berperan aktif. “Perlu edukasi, literasi media dan pengawasan konten. Bukan hanya sekadar melarang,” ungkap dara 19 tahun ini.
Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB), Aulia Noor Asufie melihat fenomena ini dari sudut psikologis yang lebih dalam. Menurutnya, drama China bukan sekadar hiburan, melainkan delusi realita yang dibungkus manis. “Seolah mengeksploitasi cara kerja otak kita. Secara psikologis, menonton drama ini memberikan sensasi Vicarious Gratification (kepuasan perwakilan, red),” ungkapnya.
Ia menyebut istilah justice porn, momen memuaskan ketika tokoh tertindas tiba-tiba menang telak. Namun, durasi pendek dan konflik padat justru membuat penonton terus mengejar lonjakan dopamin. “Kesannya mungkin ‘absurd’, namun otak kita sulit menolak sensasi justice porn,” tambah Aulia.
Ia khawatir, paparan berlebihan dapat menurunkan daya tahan generasi muda menghadapi realita hidup yang jauh lebih lambat dan kompleks. Bahkan berpotensi menciptakan Cinderella Complex—keyakinan bahwa masalah hidup akan selesai lewat keberuntungan, bukan usaha.
Jika pemerintah China saja bertindak, Aulia menilai Indonesia tak boleh abai. “Daripada melarang, lebih baik pemerintah memberikan literasi dan edukasi agar mampu membedakan fantasi dan realita logika yang terjadi melalui dukungan produksi lokal yang sehat,” pungkasnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief