Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Masih Ada Taksi Kuning Mangkal di Sentra Antasari, Syamsudin Terkenang Masa Jaya dan Tetap Setia

Zulvan Rahmatan • Sabtu, 17 Januari 2026 | 18:11 WIB
Syamsuddin, sopir taksi kuning yang masih setia menunggu penumpang di bawah ketatnya perkembangan zaman.
Syamsuddin, sopir taksi kuning yang masih setia menunggu penumpang di bawah ketatnya perkembangan zaman.

Di sudut pangkalan yang kian sepi, Syamsuddin tetap duduk setia. Ia mengingat kembali kala Pasar Sentra Antasari jadi urat nadi transportasi umum Kota Banjarmasin dahulu.

 

          **

Peluit bersahut-sahutan. Petugas berteriak menyebutkan nama jurusan kepada siapapun yang melintas. “Pal enam, pal enam”. Itu salah satu contohnya. Penumpang yang dinanti pun datang. Lantas naik satu persatu hingga menunggu semua kursi panjang penuh. Baru berangkat.

Penumpangnya dari anak sekolah, masyarakat yang pergi ke pasar, hingga ke tempat kerja. Taksi kuning, sebutan angkot khas Banjarmasin, benar-benar menggambarkan angkutan kota pada masa jayanya.

Kini, penumpang tak seramai dulu. Namun, pria 65 tahun ini tetap setia memarkirkan taksi kuningnya. Berharap ada penumpang yang memerlukan jasanya.

Jika ada jemaah pengajian, ia sedikit lebih senang. Taksi tuanya bisa beli bahan bakar minyak, dan tetap dapat untung dari hasil narik. Jika tidak, ia hanya pasrah. Mangkal tanpa ada satupun penumpang untuk diantar.

Menurutnya, ini sudah risiko pergesaran zaman dan kemajuan teknologi. Syamsuddin sadar tak mampu lagi mengejar itu. “Jauh enak dulu. Sekarang dari jam 08.00 pagi, saya parkirkan taksi kuning, sampai siang ini belum ada penumpang. Pegang saja mesin itu pasti dingin,” ujarnya, Jumat (16/1).

Taksi kuning sudah tersingkir dari persaingan driver online. Apalagi dengan adanya Bus Trans Banjarbakula jadi opsi yang mudah dan praktis.

Syamsuddin sudah jadi sopir sekitar tahun 1980-an. Ini dilakukan sebab tak ada lagi pekerjaan lain. Lapangan kerja sangat sempit untuk lansia seusianya. “Kadang terpikir mencari pekerjaan lain, tapi mana ada yang mau mempekerjaan orang setua saya. Kalau ada pun pasti cari yang muda,” ucapnya, lantas tertawa memaklumi keadaan.

Soal penghasilan, Syamsuddin bilang sudah ada yang mengatur. Ia tak terlalu khawatir. Jika ada disyukuri. Kalau kurang tetap bersyukur. “Pendapatan tak menentu. Kalau ada, Alhamdulillah. Apa lagi yang mau disesali,” tuturnya.

Sopir taksi kuning di pangkalan pasar tetap setia mengadukan nasibnya. Syamsuddin berharap profesi ini tak segera punah. Walau masa jayanya yang pernah dialami tak semenjanjikan seperti ia masih muda.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Taksi #banjarmasin #Transportasi #Sosok