Malam di Pengayuan, RT 02, Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, tak lagi sama sejak banjir merendam kawasan itu hampir sepekan terakhir.
***
Lampu-lampu rumah di Pengayuan kini redup. Suara air menggenang pun menggantikan bunyi langkah kaki. Udara juga lebih dingin dari biasanya.
Radar Banjarmasin, Senin (5/1) mendatangi permukiman yang dilanda banjir di Pengayuan. Seorang warga yang tempat tinggalnya terendam tampak duduk di teras rumahnya.
Ia tak mau menyebutkan nama aslinya. "Panggil saja Mama Riani," katanya.
Selama rumahnya terendam, Mama Riani mengaku setiap malam harus tidur dengan suhu dingin yang datang dari lantai rumah yang terendam air keruh.
Tidur di atas dipan yang ditinggikan, ia bersama suami dan anaknya berusaha beristirahat, meski tidur tak pernah benar-benar lelap. “Kalau malam itu paling berat. Dinginnya beda, sampai menggigil. Tidur cuma sebentar-sebentar,” ujar Mama Riani.
Hampir satu pekan air mengepung rumahnya, bersama puluhan rumah warga lainnya. Air tak hanya menutup halaman, tapi juga masuk ke ruang tamu, kamar, hingga dapur.
Setiap pagi, Mama Riani memulai hari dengan kehati-hatian. Langkah kakinya pelan menyibak air, khawatir menginjak benda tajam atau sesuatu yang tak terlihat.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Beberapa hari lalu, ujar Mama Riani, seekor ular tiba-tiba muncul di dalam rumah, terbawa arus banjir. “Saya trauma. Sejak itu, saya enggak berani ke dapur. Takut ada ular lagi,” tuturnya.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief