Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Gaya Nongkrong Gen Z Berubah: Dulu Dugem, Sekarang Ngopi Hingga Dini Hari

Zulvan Rahmatan • Senin, 5 Januari 2026 | 09:41 WIB
Photo
Photo

Kopi kini bukan lagi sekadar minuman pengusir kantuk. Nongkrong sambil ngopi bersama teman-teman juga bisa menyelamatkan generasi Z dari dugem, mengonsumsi narkoba hingga mabuk-mabukan.

       ***** 

Kota Banjarmasin mulai berubah pada malam hari. Kalau dulu, anak mudanya banyak yang terlihat pergi ke diskotek. Joget-joget diiringi musik berdegup kencang. Kini, dengan menjamurnya kedai kopi, jadi tempat nongkrong anak muda. 

Itu terlihat jelas hingga dini hari, di sepanjang Jalan Ahmad Yani, Jalan Hasan Basri, hingga Kawasan Banjarmasin Tempoe Doloe. Tidak hanya kedai kopi lokal bermunculan. Namun, coffee shop nasional hingga dunia juga ikut menancapkan kaki di Kota Seribu Sungai.

Fenomena ini menegaskan, industri kopi bukan lagi sekadar urusan minuman. Ia telah menjelma rutinitas, identitas sosial, sekaligus ruang berkumpul anak muda. Kopi juga memberi alternatif ruang gaul yang lebih aman. Gen Z tak lagi bingung mencari tempat nongkrong, apalagi sampai “tersesat” ke dunia gemerlap hiburan malam.

Media sosial ikut menguatkan tren ini. Secangkir kopi menjadi elemen visual gaya hidup. Dipotret saat nongkrong, sambil buka laptop, hingga memperlihatkan sudut estetik meja barista. Mesin kopi elegan pun tak lagi sekadar alat, tapi bagian dari dekorasi.

Namun, benarkah kopi bisa “menyelamatkan” anak muda dari dugem? Riana Ayu Ningsih menyebut kopi lebih tepat disebut ruang alternatif. Bukan penyelamat tunggal.

“Dulu orang cari pelarian ke dugem karena pengen suasana ramai, ngobrol, ketemu orang atau sekadar kabur dari penat,” ujar karyawan swasta muda yang baru berusia 22 tahun itu.

“Sekarang kebutuhan itu banyak ketemu di coffee shop. Nongkrong dapat, ngobrol dapat, musik ada, tapi lebih aman, lebih sadar, dan besoknya masih bisa bangun pagi,” tambah dara 22 tahun itu.

Riana berharap, industri kopi tidak berhenti pada estetika dan latte art demi konten swafoto. Ia ingin coffee shop menjadi ruang ngobrol lama tanpa diusir, tempat diskusi, kerja, sekaligus berani mengangkat nama dan identitas lokal.

“Banjarmasin itu panas, santai, dan ramah. Barista mesti ramah, cekatan, bukan jutek jadi sok keren. Coffee shop-nya juga harus ikut vibes itu, bukan maksa jadi Jakarta versi mini,” bandingnya.

Baginya, pengalaman ngopi paling berkesan justru sering bukan dari rasanya, melainkan momennya. “Ngopi dari sore sambil nunggu hujan reda. Ngobrol random sampai lupa waktu, atau duduk sendirian sama laptop. Kopi sudah dingin, tapi kepala jadi lebih tenang,” katanya.

Pendapat senada disampaikan Ahmad Hidayat. Mahasiswa Ilmu Komunikasi, FISIP Uniska MAB ini menilai nongkrong di kedai kopi memberi pilihan ruang berkumpul yang lebih positif dan aman. Anak muda bisa ngobrol, diskusi, mengerjakan tugas, atau berkreasi tanpa harus ke tempat hiburan malam. “Tentu kopi bukan solusi utama. Tapi setidaknya jadi alternatif yang lebih sehat untuk mengisi waktu dan bersosialisasi,” ungkap cowok berusia 24 tahun itu.

Pengalaman paling berkesan baginya justru sederhana: menikmati kopi di pinggir jalan, berbincang dengan penjual, sambil menyaksikan hiruk-pikuk kota dan lalu lalang kendaraan.

Sebagai Barista, Muhammad Fajari menilai kopi memang tidak sepenuhnya menjauhkan anak muda dari dugem. Namun tetap menjadi tren positif. “Anak muda sekarang suka ngopi, bahkan (dilakukan, red) sebelum jogging dan berolahraga. Ini justru lebih positif,” jelasnya.

Ia mendorong industri kopi lokal berani berinovasi seperti di Jawa dan Jakarta. Konsep sederhana, minimalis, tapi dikemas dengan kesan mewah. “Konsep mereka sederhana, tapi dibungkus dengan mewah,” tutur Fajari.

Baginya, secangkir kopi mampu membuat pikiran lebih rileks dan fokus. “Kopi adalah pendamping yang tepat untuk aktivitas berat maupun ringan,” pungkasnya

Nongkrong Ngopi vs Dugem

Perubahan Gaya Nongkrong Anak Muda
- Dulu: diskotek & hiburan malam.
- Kini: kedai kopi hingga dini hari.
- Titik ramai: Jalan Ahmad Yani, Hasan Basri, Banjarmasin Tempoe Doloe.

Kopi Jadi Gaya Hidup
- Bukan sekadar minuman.
- Ruang kumpul, diskusi, dan kerja.
- Identitas sosial Gen Z.

Alternatif Gaul Lebih Aman
- Nongkrong tanpa alkohol & narkoba.
- Musik, ngobrol, tetap sadar.
- Besok tetap bisa bangun pagi.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Mabuk #ZPEAK UP #kafe #banjarmasin #Kopi #pemuda