Film Agak Laen 2 sudah ditonton 9,1 juta penonton per 25 Desember 2025. Itu melampaui rekor film pertamanya. Namun, Agak Laen adalah fenomena. Sebuah pengecualian. Sebab industri film dalam negeri masih didominasi genre horor.
*****
DI ATAS dan di bawah Agak Laen, di tahun 2025 ada dua film laris non horor yang mengejutkan industri hiburan tanah air.
Pertama, Jumbo, film animasi yang ditonton 10,2 juta pasang mata. Kedua, Sore, yang meraih 3,1 juta penonton.
Namun, kesuksesan Jumbo, Agak Laen 2, dan Sore rupanya belum cukup untuk meyakinkan industri layar lebar untuk beranjak dari genre horor.
Di tingkat lokal saja, dari urban legend Banjar, ada dua film yang bakal dirilis pada awal 2026 nanti. Yakni Kuyank, kelanjutan dari film Saranjana, kota gaib yang konon berada di ujung Kotabaru. Lalu Pirunduk yang mengangkat ajian mistis.
Sebenarnya, film horor adalah "main aman" yang logis. Genre horor punya penonton loyal. Secara kultural, masyarakat Indonesia juga dekat dengan narasi kuntilanak, pocong, tuyul, genderuwo, dan kuyang.
Dari segi ongkos produksi, film horor dianggap lebih murah dan lebih cepat balik modal.
Tren ini juga didukung faktor global. The Conjuring: Last Rites meraih 3 juta penonton Indonesia. Mengalahkan film action seperti Mission Impossible: The Final Reckoning.
Kegemaran akan tontonan horor ini juga terkonfirmasi di YouTube. Podcast seperti Lentera Malam, RJL 5, dan Do You See What I See tidak pernah sepi pendengar.
Menurut kamu, mengapa film horor masih sangat laku di Indonesia?
Apa kritik kamu untuk plot cerita film horor lokal?
Apa film genre lain yang kamu nantikan untuk digarap sineas lokal kita?
Kurang Dalam dan Berani
Nur Yasmin, kreator konten asal Kandangan, Hulu Sungai Selatan (HSS), mengaku senang menonton film horor.
Apalagi jika diangkat dari urban legend masyarakat setempat yang masih kental dengan logika mistika.
"Film horor berkolaborasi dengan budaya lokal. Jadi rasa takutnya terasa dekat dengan kehidupan nyata, sehingga penontonnya jadi loyal," ujarnya kepada Radar Banjarmasin, Jumat (26/12).
Ia menilai, permasalahan plot cerita film horor lokal bukan terletak pada seram atau tidak seram. Melainkan ketegasan seluruh aspek cerita, supaya tak terlalu ketinggalan dengan film horor nasional dan internasional.
"Masalah utama horor lokal bukan kurang seram, tapi kurang berani bercerita dengan dalam dan berbeda," singgung perempuan 22 tahun ini.
Namun, Yasmin juga khawatir dengan dampak sosialnya. Tanpa filter, film horor akan kian membenarkan logika klenik yang masih kental di tengah masyarakat Indonesia.
"Untuk menyeimbangkan itu, perlu film genre komedi horor, agar bisa mengajak kita berpikir secara logis," pesannya.
Senada dengan mahasiswa jurusan film Universitas Dian Nuswantoro, Semarang, Dimas Eddy Djaunari.
Menurutnya, film horor laku karena terasa dekat dengan kehidupan penonton. "Hampir setiap daerah memiliki horornya sendiri, dengan versi dan bentuk yang berbeda-beda," jelasnya, kemarin.
Pemuda 21 tahun ini berpendapat, ketakutan hadir dan hidup di sekitar kita, seperti pamali yang diwariskan secara turun temurun, padahal sejarah asal usulnya masih kabur.
"Film horor bekerja sangat efektif sebagai pengalaman kolektif. Ia seperti dirancang untuk ditonton bersama," katanya. "Dan, banyak produser berlomba-lomba pada genre ini karena dianggap komersil paling aman."
Dimas mewanti-wanti, framing Kalimantan sebagai "wilayah mistis" adalah sudut pandang warisan zaman kolonial.
"Padahal di tanahnya sendiri, mitos dan horor bukan sesuatu yang menakutkan, melainkan cara masyarakat menjalani hidup," tegasnya.
Mahasiswa asal Barito Kuala ini juga menyinggung horor yang hanya berfungsi sebagai alat eksploitasi ketakutan terhadap ritus atau kepercayaan.
"Bukan sebagai medium untuk memahami makna sosial dan kultural yang melatarinya. Akibatnya, eksplorasi cerita menjadi dangkal. Karakter hanya menjadi karakitur untuk memunculkan ekspeksi ketakutan tanpa dasar yang jelas," tukasnya.
Menurutnya, fiksi ilmiah seperti sci-fi bisa menjadi terobosan dan penyeimbang. Fiksi ilmiah menurutnya masih jarang digarap, padahal ini cara baru untuk membongkar narasi film lokal yang sudah terlalu sering direproduksi.
"Tapi, bukan berarti harus futuristik ala barat. Ia bisa saja membumi dan kontekstual. Misal berangkat dari pengalaman daerah, mitologi, atau persoalan sosial, lalu diproyeksikan ke masa depan atau dunia alternatif," tutup Dimas.
Dalam bahasa berbeda, lokal kita tidak berhenti di masa lalu, tapi juga berhak membayangkan masa depan.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief