Untuk kebutuhan sehari-hari, ayahnya Syifa, Riduan mengandalkan bengkel kecil miliknya. Usaha itu dulu buka rutin, namun kini jam operasionalnya tak menentu.
*****
Riduan membuka bengkelnya kadang siang, kadang sore, bahkan sering tutup karena harus mendampingi Syifa berobat. “Sehari paling dapat uang sekitar dua ratus ribuan. Itu pun dicukup-cukupkan,” katanya.
Penghasilan menurun drastis, pelanggan pun mulai berkurang karena bengkel sering tutup. “Kalau bukanya enggak menentu, ya orang cari tempat lain,” ucapnya jujur.
Di tengah himpitan itu, musibah lain datang. Suatu subuh, ketika kelelahan membuat Riduan dan Mirna terlelap usai begadang merawat anak, rumah mereka pun kemalingan. Peristiwa itu diperkirakan terjadi antara pukul 03.30 hingga 06.00 Wita.
“Jam tiga masih kasih susu anak. Tidur setengah empat, bangun-bangun motor, dua handphone, sama uang tunai sudah hilang,” ujarnya.
Barang-barang yang tersisa menjadi saksi betapa rapuhnya kondisi mereka saat itu—pintu rumah yang tak lagi layak, rasa aman yang ikut terkikis.
Riduan mengaku tak pernah menyangka hidupnya akan sampai di titik seperti ini. Awalnya ia merasa masih sanggup bertahan. Namun kenyataan perlahan menguji batas. “Kalau dibilang nyangka, enggak nyangka. Jadi ya dijalani pelan-pelan,” katanya.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief