Waladun merupakan alumni Pondok Pesantren Darul Ilmi Banjarbaru. Ia sehari-hari mengabdikan diri sebagai guru honorer di SLB-C Pembina dan MTs Ponpes Darul Ilmi.
*****
Di sela aktivitas mengajar, Waladun tetap konsisten mendampingi pemuda berdiskusi dan memproduksi karya-karya kreatif berbasis budaya Banjar.
Penghargaan yang diraihnya di tingkat provinsi tidak ia maknai sebagai puncak perjalanan. Justru sebaliknya, Waladun melihatnya sebagai pengingat akan tanggung jawab yang lebih besar.
“Ini bukan hanya tentang saya, tapi tentang semangat pemuda Banua. Harapannya, semakin banyak anak muda yang percaya bahwa budaya lokal bisa tumbuh, berkembang, dan memberi manfaat ekonomi tanpa kehilangan jati diri,” ujarnya.
Waladun membuktikan bahwa menjaga budaya tidak harus terjebak romantisme masa lalu. Dengan kreativitas dan keberanian berinovasi, tradisi justru bisa menemukan ruang hidup baru di layar digital, di tangan generasi muda, dan di masa depan Kalsel.
Seni tradisi tidak lagi diposisikan sebagai peninggalan masa lalu, melainkan jadi potensi masa depan. Madihin dikemas dalam format konten digital, Sinoman Hadrah diperkenalkan melalui pendekatan visual dan produksi kreatif yang relevan dengan zaman.
“Budaya harus dibawa ke ruang yang sedang dihuni anak muda hari ini,” begitu prinsip yang kerap Waladun pegang. Baginya, teknologi bukan ancaman, melainkan jembatan agar kearifan lokal tetap berdenyut.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief