Nama Wakidi sebagai pandai besi menyebar dari mulut ke mulut. Ia kini ramai menerima pesanan.
**
Tak hanya mengolah peralatan pertanian, sesekali ada warga yang datang langsung ke tempat Wakidi hanya ingin mengasah alat agar lebih tajam.
Sebagian pesanan dicicilnya untuk pengerjaan. Kini ia sudah terbiasa membuat berbagai ukuran olahan besi, baik itu kecil, tipis, besar atau tebal. “Awalnya cuma bisa bikin dua biji sehari. Sekarang paling mentok lima. Banyak petani bilang hasilnya bagus,” katanya tersenyum.
Tak jarang, petani lainnya yang sekadar melintas pun ikut pesan. Benda yang kerap dianggap tak lagi bernilai, bisa disulapnya menjadi alat yang kembali berguna.
Bahkan menjelang Iduladha, ia kebanjiran pesanan pisau dari panitia kurban. Dua bulan sebelum hari H, pesanan sudah berdatangan.
Meski usahanya berjalan, Wakidi tak menampik jika ada harapan lebih. Ia berharap keahlian yang ditekuninya secara otodidak ini mendapat perhatian atau pembinaan dari pemerintah—setidaknya untuk menambah wawasan, memperbaiki peralatan, atau memperluas jangkauan usaha.
“Yang penting sehat saja dulu, supaya bisa terus bekerja. Kalau ada dukungan pemerintah, saya siap menerimanya,” ucapnya pelan.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief