GUS Yahya diminta mundur dari jabatan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Menolak mundur, akhirnya terbit surat pemecatan.
Sikap kiai 59 tahun itu mulai melunak. Gus Yahya berharap bisa menempuh islah (jalan damai) untuk menghindari perpecahan organisasi.
Desakan mundur itu berawal dari dugaan kedekatan Yahya Cholil Staquf dengan jaringan Zionisme internasional. Di tengah genosida yang terjadi di Gaza, hubungan itu menyakiti perasaan umat Islam dan dianggap menyimpang dari kebijakan luar negeri Indonesia yang mendukung kemerdekaan Palestina.
Tuduhan itu mengungkit kontroversi lama. Pada 2018, Gus Yahya melawat ke Yerusalem dan bersalaman dengan Presiden Israel Benjamin Netanyahu.
Sebelumnya, tahun kemarin, Gus Yahya juga dikritik karena dianggap berat sebelah saat Pilpres 2024.
Namun, tokoh NU kultural, mantan Menko Polhukam, Prof. Mahfud MD, mengaku mendapat informasi berbeda. Menurutnya, gonjang-ganjing itu diakibatkan persoalan perebutan konsesi tambang batu bara.
Kita tahu, pemerintah telah “menghadiahkan” izin tambang kepada ormas keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah.
Dugaan mana yang benar, keduanya sama-sama menyedihkan. Karena ini NU! Ormas terbesar di Indonesia, berumur 99 tahun, dan diklaim memiliki 40 juta anggota.
NU telah menjadi rumah besar yang menaungi muslim moderat dan nasionalis. NU tidak boleh berpecah belah seperti partai politik kebanyakan.
Menurut kamu, bagaimana seharusnya Gus Yahya bersikap?
Apakah islah saja cukup? Bagaimana semestinya konsep “kembali ke khittah” dijalankan?
Apa pesan yang ingin kamu sampaikan ke pengurus NU?
Islah Saja Belum Cukup
Ahmad Khafi berpendapat ormas kaya sejarah seperti NU perlu menyikapi konflik internal bukan hanya dengan tenang, tetapi dewasa sesuai tuntunan Muqaddimah Qanun Asasi (pembukaan anggaran dasar organisasi yang disusun pendiri NU).
“Dalam menghadapi polemik, penyelesaian damai yang berorientasi pada kemaslahatan umat menjadi langkah terbaik,” ujar mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al-Banjari (MAB), Jumat (28/11).
Islah (perdamaian) memang penting, tetapi harus dijalankan secara terbuka dan sesuai aturan organisasi.
Khafi menegaskan, NU harus kembali ke khittah, dalam artian menjaga independensi organisasi dari kepentingan duniawi, serta menguatkan fungsi dakwah, pendidikan, sosial, dan moral keagamaan.
Khafi ingin PBNU mengutamakan kepentingan umat, menjunjung tinggi etika organisasi, dan mengambil keputusan melalui musyawarah dengan keterbukaan.
“Segera respons dan selesaikan isu-isu yang beredar demi menjaga marwah dan kepercayaan umat,” tandas pemuda 22 tahun ini.
Sementara itu, Meldatun Hasanah meminta Gus Yahya dan tokoh-tokoh NU bersikap dewasa, bukan malah perang opini di ruang publik.
Meldatun melihat forum musyawarah internal bisa menjadi opsi untuk mencari solusi, bukan saling menjatuhkan hingga memperburuk citra NU.
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari ini juga meminta isu ini tidak dibikin bertele-tele.
Meldatun menegaskan, islah saja belum cukup. PBNU mesti melakukan evaluasi internal karena kisruh ini sudah berimbas ke sana-kemari.
“Yang rusak bukan hanya hubungan elite, tapi kepercayaan jemaah. NU harus independen dari politik praktis dan kepentingan bisnis. Keputusan penting harus melalui musyawarah kolektif, bukan per kelompok,” tegas mahasiswa jurusan komunikasi ini, kemarin.
“Kembalilah ke prinsip Ahlussunnah wal Jamaah: moderat, musyawarah, keadilan, dan ukhuwah (persaudaraan),” tambahnya.
Ia berharap pengurus mengingat bahwa NU adalah rumah besar umat Islam Indonesia, bukan milik individu ataupun kelompok.
Karena itu, sudah sepatutnya mengutamakan musyawarah, islah, dan tabayyun (mencari kebenaran informasi) agar perbedaan tidak memicu perpecahan.
Intinya, kata Meldatun, NU harus menjaga kepercayaan publik dengan menjadi teladan moderasi, kerukunan, dan kemanusiaan sebagaimana warisan para pendiri.
“Jujur, sedih rasanya. Semoga konflik ini menemui titik terang dan selesai, untuk kebaikan NU dan umat juga,” tutup perempuan 21 tahun ini.
Editor : Muhammad Rizky