Kisah Faizah Jadi Guru Anak Berkebutuhan Khusus
Khawatir Saat Siswa Lulus Sekolah
Di balik kepribadian Faizah yang lembut, tersimpan kegigihan seorang perempuan yang memikul misi besar: memastikan anak-anak disabilitas mampu berdiri di atas kaki mereka sendiri.
Sosok Faizah Abdiah dikenal sebagai penggerak Teras Inklusi di Banjarbaru. Banyak perjuangan yang ia berikan selama lebih dari satu dekade di garis depan pendidikan anak berkebutuhan khusus.
Lahir di Surabaya 44 tahun lalu, perjalanan panjang Faizah dimulai ketika ia memutuskan memulai hidup baru di Kalimantan Selatan pada 2009 silam.
Pada tahun itu pula ia memantapkan langkah sebagai guru di SLB Pembina. Belasan tahun berlalu, dari ruang-ruang kelas sederhana hingga bangunan SLB Negeri Banjarbaru tempatnya kini mengajar, dedikasinya tak pernah surut. “Pada tahun 2020 saya pindah ke SLB Banjarbaru,” ucapnya sembari mengingat fase baru dalam perjalanan kariernya.
Hari-hari Faizah dipenuhi pertemuan dengan beragam karakter anak berkebutuhan khusus. Sebagai ASN yang berkali-kali mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG), ia mengaku bahwa mendidik anak-anak disabilitas adalah dunia yang tidak pernah selesai dipelajari.
Namun ada satu pertanyaan yang terus menggantung di hati seorang pendidik sepertinya—apa yang akan terjadi setelah para siswa disabilitas meninggalkan bangku sekolah? “Meskipun sudah kami latih dari SD sampai SMA, masih ada rasa bimbang, sanggup atau tidak mereka survive di masyarakat,” tuturnya lirih. (bersambung)
Editor : Muhammad Rizky