Mulyani tergabung dalam komunitas pelukis Banjarbaru, ia menganggap mural adalah ruang berekspresi yang baru.
***
Mulyani menyebut, tembok sebagai “panggung publik” yang tak pernah sepi. Setiap warna yang ia semprotkan menjadi pesan terbuka bagi siapa pun yang melintas.
Namun mural Mulyani menarik perhatian tersendiri. Di balik kesederhanaan dua tangan yang beradu warna itu, tersimpan narasi panjang tentang warisan dan tanggung jawab. Tentang Banjarbaru yang terus tumbuh, tapi tak boleh lupa akar sejarahnya.
“Seperti kincir komet dan tugu simpang empat,” katanya pelan. “Itu semua penanda perjalanan kota ini. Kalau tak diingat, lama-lama bisa hilang," tambahnya.
Ketika matahari bergeser ke barat, warna-warna di dinding mulai berkilau tertimpa cahaya sore. Mulyani menatap karyanya sekali lagi, lalu menghela napas. “Setiap goresan di sini bukan sekadar warna. Ini cara kami merawat Banjarbaru, dengan cinta dan cat," ujarnya.
Di tembok yang semula bisu itu, kini tersisa pesan: kota yang hidup bukan hanya yang bergerak, tapi juga yang masih ingat dari mana ia berasal.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief