Delapan muralis melukiskan karyanya di tembok. Dari kejauhan, dinding yang semula monoton terlihat lebih hidup dengan warna-warna cerah.
****
Suara kocokan cat semprot terdengar bersahutan di bawah terik matahari. Tampak beberapa muralis tengah mengekspresikan diri lewat tembok hijau toska yang membentang di Jalan Nadjmi Adhani, Kelurahan Loktabat Utara, Banjarbaru Utara, Minggu (2/11).
Dinding polos di sepanjang jalan itu berubah menjadi kanvas raksasa. Delapan muralis dari Banjarbaru hingga Banjarmasin ikut ambil bagian dalam Banjarbaru Mural Festival 2025 yang diinisiasi oleh Semangat Muda, mengusung tema City in Motion, Dreams in Color.
Ahmad Husairi, panitia kegiatan, menjelaskan bahwa festival ini adalah ajang tahunan yang memberi ruang bagi seniman untuk mengekspresikan mimpi mereka tentang kota. “Antusiasnya luar biasa. Banyak muralis yang ingin ikut, tapi kuota kami batasi agar kualitas karya tetap terjaga," katanya.
Dari kejauhan, tampak dinding yang semula monoton kini hidup dengan warna-warna cerah. Ada yang melukis kota dengan gedung-gedung menjulang, remaja bermain skateboard, dan bentuk grafitti lainnya.
Di sudut kanan dinding, seorang pria berkacamata menenteng kaleng cat semprot warna coklat dan pink. Tangannya cekatan menekan kepala kaleng, menciptakan dua tangan besar saling bersentuhan memegang kain biru sebagai simbol.
“Dua warna ini saya maknai sebagai simbol,” ujarnya, menurunkan kalengnya sesaat. “Orang-orang terdahulu menyerahkan Banjarbaru kepada generasi muda. Supaya kita jaga, kita rawat. Minimal, sejarahnya tetap hidup," katanya.
Namanya Mulyani. Usianya 48 tahun. Seorang muralis yang baru “resmi” bergabung ke dunia mural beberapa tahun belakangan. Tapi sejatinya, ia sudah akrab dengan cat dan kuas sejak kecil.
Editor : Arief