Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Wajah Baru Nasionalisme di Banua, Dari Ikrar ke Gerakan Nyata

M Fadlan Zakiri • Selasa, 28 Oktober 2025 | 11:49 WIB

 

 

Foto Para Pemuda Pengurus Parindra Tjabang Bandjermasin tanggal 3 April 1938.
Foto Para Pemuda Pengurus Parindra Tjabang Bandjermasin tanggal 3 April 1938.

97 tahun setelah ikrar dikumandangkan, bara semangat Sumpah Pemuda itu belum padam. Anak muda Banua memaknai ulang Sumpah Pemuda dengan bahasa zamannya sendiri. Berupa bahasa kreativitas dan kolaborasi untuk mewujudkan ide, karya, dan aksi sosial.

           ****

Hampir seabad sejak Sumpah Pemuda 1928, semangat persatuan dan cinta tanah air terus hidup di dada generasi muda Banua. Kini, perjuangan itu tak lagi dalam bentuk mengangkat senjata. Melainkan mengangkat ide, karya, dan inovasi di tengah arus globalisasi dan digitalisasi yang deras.

Dari ruang kuliah hingga panggung komunitas, dari dunia digital hingga seni jalanan, pemuda Kalimantan Selatan menyalakan kembali bara nasionalisme dengan cara mereka sendiri. Mereka menolak diam. Mereka memilih berkarya.

Mahasiswa Sosiologi ULM, Muhammad Dicky Riyadi menilai perjuangan hari ini adalah perjuangan kontribusi bagi sesama. “Kalau dulu perjuangan lewat fisik, sekarang lewat karya,” katanya. Bisa berupa gerakan sosial, usaha lokal, maupun karya digital yang berdampak positif.

Mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Zidyah Ahadiyah (22), menegaskan bersama rekan-rekannya memilih menyalurkan keresahan menjadi karya dan gerakan nyata. Melalui komunitas seni yang dipimpinnya pada 2024, mereka rutin menggelar diskusi dan membuat karya bertema isu-isu aktual. Dari pelestarian batik, hingga kritik sosial yang dikemas dalam visual art.

“Kami sering mengangkat isu tentang Indonesia dalam karya gambar. Dari situ kami belajar mengubah keresahan jadi interpretasi kreatif. Bukan cuma curhat di media sosial,” bandingnya.

Gerakan serupa juga bermunculan di berbagai daerah Banua. Di bidang ekonomi kreatif, muncul kelompok muda yang mengembangkan produk lokal berbasis digital marketing. Di ranah lingkungan, komunitas seperti Clean River Youth gencar menggelar aksi bersih sungai dan pantai. Sementara di bidang literasi dan teknologi, berbagai start-up sosial digerakkan oleh mahasiswa muda ULM dan Poliban yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat.

Bukti nyata semangat itu tampak ketika Zidyah bersama peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) 2024 melakukan aksi sosial membersihkan pantai di Serang. Mereka tidak hanya datang untuk berkontribusi, tetapi juga mengajak pengunjung sekitar ikut turun tangan. “Awalnya kami hanya 20 orang. Tapi, akhirnya puluhan pengunjung ikut bergabung. Itu bukti kecil bahwa gotong royong masih hidup,” kenangnya.

Zidyah mengakui nilai persatuan dan gotong royong kini diuji oleh gaya hidup serba digital yang cenderung individualistik. Namun, baginya, teknologi justru bisa menjadi jembatan untuk memperluas makna kebersamaan.

“Kalau dulu gotong royong dilakukan di sawah atau kampung, sekarang juga bisa lewat kampanye digital. Seperti melakukan edukasi online, atau karya kreatif. Intinya, nilai bersatu dan berkarya itu tetap harus dijaga,” katanya.

Namun, bukan berarti jalan berkarya selalu mulus. Tantangan klasik seperti minimnya dukungan fasilitas dan dana masih sering dihadapi komunitas muda. Meski begitu, Zidyah menilai bahwa dukungan pemerintah daerah terhadap gerakan kreatif pemuda sudah mulai terasa.

“Pemerintah Kalsel sekarang cukup aspiratif. Sudah ada wadah seperti Banua Berkarya yang membantu mempromosikan karya anak muda. Tapi, semoga ke depan makin banyak kegiatan goes to school dan goes to campus untuk menanamkan nilai gotong royong sejak dini,” harapnya.

Achmad Ridhoni memilih jalan wirausaha pada bidang Food and Beverage (FnB) di Banjarmasin sebagai bentuk pengabdian membangkitkan perekonomian negara. Bila diminta menulis ulang Sumpah Pemuda versi 2025, Ridhoni mengungkapkan kalimat yang sederhana: mandiri, jujur dan berintegritas. Kalimat itu lahir karena mengingat persoalan yang sering dialami di lingkup FnB. Misalnya soal lahan parkir, izin, atau pembinaan UMKM. Sering kali mereka harus bisa cari jalan sendiri untuk menyelesaikannya.

“Saya tidak perlu dibantu, cukup jangan disulitkan. Kalau kalian (pemerintah, red) minta bayar pajak, kami bayar. Kami bisa mandiri asal sistemnya jujur,” ujarnya.

Semangat nasionalisme juga hidup di panggung musik. Musisi muda Banjarmasin, Muhammad Rifky Saputra (22) menolak arus kebarat-baratan dalam karya. “Kami ingin menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia dan daerah itu keren. Dari lirik sampai melodi, semua bisa bicara tentang Indonesia,” ujarnya.

Meski berkarya di jalur underground, Rifky dan komunitasnya tetap berpegang pada etos do it yourself (DIY). Mereka menggelar acara kecil tanpa sponsor besar, dengan tenaga kolektif, dan semangat kebersamaan. “Kami membangun jaringan lintas provinsi, membuat gigs, dan terus menyalakan api kreativitas,” ujarnya.

Berubah Bentuk Ikuti Zaman

Nasionalisme di kalangan pemuda bagi kalangan pakar tak pernah benar-benar padam. Ia hanya berganti bentuk. Bukan lagi berupa pekik kemerdekaan dan perlawanan terhadap penjajah. Melainkan aksi nyata di dunia digital, sosial, dan komunitas.

Hal itu diungkapkan sejarawan Kalimantan Selatan, Mursalin, yang juga dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin. Menurutnya, nasionalisme hari ini, hadir dengan wajah yang lebih lentur. Tapi, tetap saja berakar pada semangat yang sama: cinta tanah air dan kemauan untuk hidup bersama.

“Nasionalisme pemuda tidak hilang. Ia berubah bentuk mengikuti zaman,” ujar anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Banjarmasin ini, Kamis (24/10) sore.

Ia menjelaskan, di masa lalu semangat Sumpah Pemuda 1928 berpusat pada perjuangan politik dan kemerdekaan dari penjajahan. Kala itu, media perjuangan berupa koran, pamflet, hingga kongres organisasi. Energi kolektifnya jelas: melawan kolonialisme.

Kini, perjuangan itu bergeser ke ranah sosial. “Kalau dulu lawannya penjajahan yang konkret, sekarang lawannya lebih abstrak. Seperti korupsi, perpecahan, dan ketidakpedulian,” tegasnya.

Mursalin menilai, semangat nasionalisme modern justru lebih kaya dan beragam. Pemuda masa kini memperjuangkan nilai kebangsaan lewat isu-isu kekinian seperti lingkungan, kesetaraan, literasi digital, hingga inovasi sosial.

“Ruang geraknya banyak di media sosial, komunitas lokal, dan kolaborasi lintas kota. Mereka membangun Indonesia dari ruang-ruang kecil yang sering tak terlihat kamera,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi ini sejalan dengan pandangan dua pemikir besar, yakni Ernest Renan dan Benedict Anderson. Renan memandang bangsa sebagai hasil kemauan untuk hidup Bersama. Sedangkan Anderson melihatnya sebagai ‘komunitas yang terbayangkan’, rasa sebangsa yang terhubung lewat bahasa, media, dan simbol yang sama.

“Dua gagasan itu saling melengkapi. Renan bicara soal niat, Anderson bicara soal medium. Keduanya masih relevan sampai hari ini,” ucapnya.

Namun, di balik peluang besar yang dibawa era digital, Mursalin mengingatkan ada tantangan baru yang tak kalah berat. Polarisasi, misinformasi, dan kesenjangan akses digital bisa menjadi racun yang perlahan mengikis rasa kebersamaan.

“Kalau dulu, media memperkuat persatuan. Sekarang, (medsos, red) justru bisa memecah kalau tidak bijak digunakan,” katanya.

Meski begitu, ia tetap optimistis terhadap generasi muda Banua dan Indonesia secara umum. Di tengah derasnya arus globalisasi, masih banyak anak muda yang memilih menghidupkan nasionalisme lewat aksi nyata, bukan sekadar seremoni.

“Menjaga lingkungan, menolak hoaks, bersikap antikorupsi, berkarya dan berbagi pengetahuan. Itulah bentuk baru nasionalisme hari ini,” sebutnya.

Bagi Mursalin, meski berubah karena gerusan zaman, tujuan akhirnya tetap sama sejak 1928. Mempertahankan Indonesia yang bersatu, berdaya, dan bermanfaat bagi semua.

Kepala Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP ULM, Husein Abdurahman juga menegaskan nasionalisme tetap menjadi fondasi moral bangsa. Tapi, kini bentuknya perlu disesuaikan dengan zaman.

“Tanpa rasa nasionalisme, kemerdekaan tak akan pernah ada. Dan sampai sekarang, nilai itu tetap sakral,” ujarnya.

Husein mengakui sebagian pemuda memang ada yang cenderung memaknai Sumpah Pemuda hanya sebatas seremoni tahunan. Padahal, semangatnya harus diwujudkan dalam tindakan nyata, dan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Teknologi seharusnya menjadi alat untuk menanamkan semangat nasionalisme, bukan malah mengikisnya,” tegasnya.

Pandangan itu diamini Dosen Sosiologi FISIP ULM, Sri Hidayah. Ia mengingatkan bahwa nasionalisme sejati bukan sekadar mengeluh, tapi bertindak. “Hei, para pemuda, ambillah kesempatan yang sudah disediakan negara. Bangun nasionalisme dari ide sosial dan karya nyata,” ujarnya lugas.

Sri menegaskan bahwa semangat nasionalisme hari ini dapat diwujudkan melalui karya yang menggerakkan masyarakat, baik melalui foto, lukisan, film, maupun inovasi sosial yang membangun kesadaran publik. “Nasionalisme itu lahir dari ide ide sosial. Jiwa nasionalis tumbuh ketika anak muda menuangkan pikirannya untuk kemajuan,” tuntasnya.

Wajah Baru Nasionalisme di Banua

- Kolaborasi menggantikan individualisme.
- Kreativitas menjadi wujud cinta tanah air.
- Digitalisasi jadi ruang perjuangan baru.

Pemuda Harus Tetap Kritis

Di era serba digital, nasionalisme tak lagi cukup diucapkan dengan slogan. Menjelang Hari Sumpah Pemuda, sejumlah aktivis mahasiswa di Banua mengingatkan pentingnya sikap kritis agar semangat kebangsaan tak larut dalam arus pragmatisme dan budaya ikut-ikutan.

Dari perspektif gerakan mahasiswa, Satria Bima Agatha menegaskan bahwa nasionalisme progresif harus diwujudkan dalam sikap kritis terhadap ketidakadilan sosial. Komisaris DPK GMNI ULM itu percaya bahwa nasionalisme bukan sekadar kebanggaan simbolik. “Tetapi keberanian untuk berpihak pada rakyat dan memperjuangkan keadilan sosial,” ujarnya.

Satria menilai tantangan utama generasi muda saat ini adalah menurunnya kesadaran kritis akibat banjir informasi digital. Karena itu, GMNI berupaya menciptakan ruang intelektual dan dialektika agar pemuda memiliki dasar ideologis yang kuat.

Pimpinan Cabang IMM Banjarmasin, Yardie Rahman Heriyanto juga menyoroti bahwa semangat nasionalisme di Banua masih perlu diperkuat. “Banyak organisasi eksternal kini lebih fokus pada pengembangan keilmuan dan tokoh individu. Nilai nasionalisme kerap terabaikan,” ujarnya.

Menurut Yardie, digitalisasi membawa peluang sekaligus tantangan. “Banyak anak muda yang terjebak budaya ikut-ikutan (fear of missing out). Padahal, nasionalisme sejati menuntut kesadaran, bukan sekadar mengikuti tren,” jelasnya.

Ia menegaskan pentingnya literasi kepemudaan agar generasi muda mampu menyaring informasi, mempertahankan idealisme, dan tidak mudah terpengaruh oleh arus pragmatisme. “Harapan saya, pemuda tetap menjunjung tinggi semangat patriotisme dalam menjaga idealisme nasionalisme,” harapnya.

Ketua UKM Sanggar Seni Demokrat (SSD) FISIP ULM, Najla ‘Un Nisa menilai bidang seni juga memiliki peran penting dalam melakukan kritik sosial dalam menyalurkan semangat kebangsaan.

“Berkarya itu lahir dari keresahan. Dari situ muncul teater, musik, dan karya yang menyuarakan keadilan dan kemanusiaan,” ujarnya.

Najla mengakui tantangan terbesar adalah keterbatasan dana dan dukungan. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat berkarya di kalangan seniman muda Banua. “Banyak pegiat seni muda yang aktif. Tapi dukungan pemerintah masih perlu ditingkatkan agar semangat mereka tidak padam,” tambahnya.

Kepala Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP ULM, Husein Abdurahman menambahkan, wajah baru nasionalisme dapat terlihat dari gerakan sosial mahasiswa yang aktif menyuarakan keadilan dan perubahan. “Saya sangat mengapresiasi mahasiswa yang turun ke lapangan memperjuangkan aspirasi rakyat. Itu bentuk nyata cinta tanah air,” tuntasnya.

Tim Peliput:
- M Fata Shiddiq Rinaldi
- Muhammad Zalky Abdillah
- Kristo Meidi
- Gladys Anugrahni
- Gabriella Novita Dwi Astuti

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#banjarmasin #pemuda #nasionalisme #Sejarah