Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Mempersembahkan Semangat Literasi Banjarbaru Pada Festival Sastra Internasional, Ali Arsi: Saya Tak Ingin Sekadar Datang Membaca Puisi

Sheilla Farazela • Sabtu, 25 Oktober 2025 | 22:12 WIB
TAMPIL: Penyair Banjarbaru Ali Arsi saat membacakan puisinya dalam sebuah pertunjukan.
TAMPIL: Penyair Banjarbaru Ali Arsi saat membacakan puisinya dalam sebuah pertunjukan.

Ali juga menyinggung pentingnya dukungan kebijakan yang lebih terbuka terhadap ruang-ruang kesenian.

      ***
Menurutnya, seni dan sastra bukan sekadar hiburan, tapi juga wadah refleksi dan pendidikan karakter masyarakat.

“Kesenian dan sastra itu aset yang tak mudah punah. Kalau sumber daya alam bisa habis, tapi karya budaya akan terus hidup selama manusia masih berpikir dan merasa,” ucapnya lirih.

Meski sudah lama menulis dan tampil di berbagai forum, Ali mengaku tak pernah bosan dengan dunia puisi. Ia menyebut, setiap bait yang lahir dari tangannya adalah bentuk perjalanan batin, bukan sekadar karya.

“Menulis puisi itu seperti berbicara dengan diri sendiri. Kadang soal cinta, kadang tentang harapan, atau tentang situasi sosial di sekitar kita. Puisi adalah cara saya menafsirkan kehidupan,” ujarnya.

Ia juga berharap kehadirannya di FSIGB 2025 bisa membawa inspirasi bagi penyair muda di Kalimantan Selatan agar lebih berani menembus panggung nasional dan internasional.

“Saya tentu tidak bisa sendiri. Saya ingin ke depan lebih banyak kawan dari Kalsel ikut berpartisipasi. Panitia FSIGB selalu memantau karya dari berbagai wilayah, jadi peluang itu terbuka lebar,” tuturnya.

Di penghujung percakapan, Ali tersenyum saat ditanya apa makna keberangkatannya kali ini. Ia tak menyebutnya sebagai kebanggaan pribadi, melainkan tanggung jawab moral untuk membawa suara Kalimantan ke panggung sastra Melayu.

“Saya tidak ingin sekadar datang membaca puisi. Saya ingin menunjukkan bahwa di Kalsel juga ada penyair, ada semangat literasi, ada jiwa yang terus menulis. Ini bentuk kecil dari cinta saya terhadap Banjarbaru,” ujarnya menutup perbincangan.

Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2025 akan menjadi momentum penting bagi para penyair untuk saling belajar dan berbagi. Dari Tanjungpinang, dari tanah Gurindam, gema sastra kembali bergaung ke seluruh Nusantara, dan kali ini, salah satu suaranya datang dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Editor: Ramli Arisno

Editor : Arief
#puisi #banjarbaru #sastra #Sosok