Selain tampil membaca puisi, Ali juga membawa beberapa karyanya untuk diluncurkan bersamaan dengan ratusan buku dari berbagai penyair lainnya di FSIGB 2025.
****
Ali mengaku empat tahun terakhir rutin mengirim karya ke ajang sastra FSIGB di Riau. Kadang ia tidak bisa hadir, tapi karyanya tetap masuk dalam buku besar. "Tahun ini saya bisa hadir langsung, jadi kesempatan untuk bersilaturahmi dan berbagi pandangan sastra,” ujarnya.
Setiap kali melangkahkan kaki ke Tanjungpinang, Ali selalu merasa seperti pulang ke rumah besar para penyair Melayu. Di sana, setiap lorong dan taman menyimpan sejarah panjang puisi. “Saya sering membacakan puisi ‘Kucing’-nya Bang Tarji kalau tampil di luar daerah. Beliau salah satu inspirasi besar bagi saya,” tuturnya.
Ia menilai pemerintah daerah Kepulauan Riau punya komitmen kuat dalam menjaga dan mengembangkan sastra. FSIGB menjadi contoh konkret bagaimana pemerintah, komunitas, dan masyarakat bisa bersinergi melahirkan ruang apresiasi bagi para penyair.
"Pemerintah mereka luar biasa dalam mendukung kegiatan sastra. Dukungan seperti ini perlu kita tiru di Banjarbaru maupun Kalsel. Karena budaya dan sastra adalah sumber daya yang tak akan pernah habis,” tegasnya.
Sebagai sastrawan yang lama berkecimpung di dunia literasi, Ali punya harapan besar agar Banjarbaru ke depan bisa menjadi kota budaya yang terbuka bagi para seniman dan penulis.
Ia melihat perhatian pemerintah terhadap kegiatan seni-budaya yang mulai meningkat, merupakan sinyal positif bagi perkembangan ekosistem kesenian di daerah.
"Kegiatan seperti ini seharusnya juga bisa digelar di Banjarbaru. Kota ini punya potensi besar, banyak seniman muda dan penulis berbakat. Kalau difasilitasi dengan baik, Banjarbaru bisa jadi pusat kegiatan budaya di Kalsel,” katanya.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief