Film Kapuhunan menambah deretan karya lokal Banjar yang lahir dari pengalaman nyata. Sebuah bukti bahwa horor paling menyeramkan sering kali bukan berasal dari imajinasi, tapi dari kejadian yang benar-benar pernah dialami.
****
Mitos Kapuhunan bagi sebagian orang Banjar mungkin sekadar cerita warisan nenek moyang. Tapi bagi Aditya Rahman, sutradara muda asal Kotabaru, mitos itu adalah kenyataan yang menghantam hidupnya secara langsung.
Gara-gara rasa penasaran yang menabrak batas, ia mengaku pernah “diikat” makhluk gaib hingga lumpuh selama dua bulan.
Kini, kisah yang membuat bulu kuduk berdiri itu ia tuangkan ke layar lebar lewat film keduanya berjudul Kapuhunan, sekuel dari film pertamanya yang sukses, Bagandang Nyiru. “Ini bukan fiksi semata. Ini pengalaman pribadi saya sendiri,” tutur Aditya saat ditemui Radar Banjarmasin, Kamis (16/10).
Ia mengenang peristiwa itu terjadi pada 2009 di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Saat itu, Aditya—yang masih muda dan penuh rasa ingin tahu—tanpa sadar bercanda di area tempat ibadah Kaharingan. “Pulangnya saya merasa seperti diikat dan dipukuli. Besoknya tak bisa berjalan. Lumpuh dua bulan. Baru di bulan ketiga saya bisa belajar jalan lagi,” ujarnya dengan tatapan kosong.
Pengalaman itu menjadi trauma sekaligus titik balik hidupnya. Dari sanalah lahir ide Kapuhunan—bukan sekadar film horor, tapi refleksi atas rasa ingin tahu manusia yang sering melampaui batas adat dan kepercayaan. Menurut Aditya, kapuhunan bukan hanya soal “menolak makanan” atau pantangan. “Lebih dalam dari itu. Ini soal menghormati yang tak terlihat, menjaga laku, dan tidak mengambil yang bukan hak kita,” jelasnya.
Film Kapuhunan digarap selama enam bulan penuh, dari Juni hingga Oktober. Prosesnya intens, dengan tim produksi yang seluruhnya melibatkan talenta lokal Kotabaru. Beberapa pemain lama dari Bagandang Nyiru kembali tampil, disandingkan dengan wajah-wajah baru.
Aktris muda Keyco Cira Tabina (Cici), pemeran utama, mengaku film ini memberi pelajaran besar. “Peran saya mengajarkan bahwa apa yang kita lakukan bisa menyakiti orang lain, walau tanpa sadar,” ungkapnya.
Bagi Aditya, film ini adalah pelajaran spiritual sekaligus pesan moral.
“Kapuhunan mengingatkan agar manusia selalu beingat kepada Allah. Jangan serakah, jangan terlalu mencintai sesuatu berlebihan, dan jangan melanggar batas,” ujarnya lirih.
Dari Gunung Angker ke Kapuhunan
Sebelum Kapuhunan, Aditya lebih dulu mencuri perhatian lewat film debutnya, Bagandang Nyiru, yang tayang 2 Mei lalu. Film itu juga diangkat dari kisah nyata lima sahabat yang tersesat di Gunung Jambangan—kisah yang ternyata terinspirasi dari pengalaman pribadi keluarganya. “Keluarga saya pernah hilang dua hari di gunung itu. Alhamdulillah, ditemukan selamat,” kisahnya.
Melihat antusias penonton di film pertama, Aditya merasa tak punya pilihan selain melanjutkan kisahnya. “Film pertama masih menggantung. Banyak yang menunggu kelanjutannya,” ujarnya tersenyum.
Film Kapuhunan dijadwalkan tayang akhir Oktober ini, dengan dua kali peluncuran. Pertama, atas nama Gekrafs Kotabaru di Halte Food. Kedua, bersama Disdikbud Kotabaru.
Selain pemutaran film, acara juga akan menghadirkan pameran budaya Banjar dan diskusi tentang makna Kapuhunan dalam kehidupan sehari-hari. “Film ini bukan sekadar hiburan, tapi juga cermin agar kita belajar menghormati adat dan keyakinan,” tutup Aditya Rahman.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief