Jika Erick Thohir masih pengin memimpin PSSI, boleh-boleh saja. Asalkan ia berhenti menjadikan timnas sebagai alat penggerek elektabilitas politik.
**
INDONESIA tidak pernah sedekat ini dengan Piala Dunia. Harapan masyarakat kepada timnas tak pernah setinggi ini.
Hingga mimpi itu kandas dengan sukses. Indonesia dikalahkan Arab Saudi dan Irak di putaran keempat kualifikasi Piala Dunia 2026.
Yang membuat suporter dan pundit muntab adalah cara kalahnya. Andaikan timnas bermain bagus dan kalah karena apes, misalkan karena dikerjai wasit, kita mungkin bisa menerima.
Tapi timnas bermain tanpa arah. No game plan. Dengan permainan seburuk itu, Garuda memang pantas kalah.
Oke, Patrick Kluivert sudah dipecat. Tapi sebagian orang belum puas. Seruan "out!" kini beralih pada federasi.
Erick Thohir diminta mundur dari posisi Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).
Sebelum ini, publik sebenarnya sengaja mengerem. Menahan diri, coba memberikan kesempatan kepada ET untuk bekerja.
Pasca tersingkir dari Piala Dunia, kritik lama kembali menggema. ET kerap dikritik lantaran fokusnya yang aneh.
Ia hanya mau mengurusi timnas. Dengan mengandalkan sumber daya pemain diaspora dan naturalisasi.
Padahal, tugas PSSI tidak sesempit itu. PSSI berkewajiban membenahi liga domestik. Liga 1, Liga 2, Liga 3, hingga pembinaan pesepak bola muda sejak usia enam tahun.
Di negara maju, piramida sepak bolanya telah terbentuk dan kokoh. Timnas hanyalah dampak. Kompetisi domestiknya bagus, akademinya oke, alhasil timnasnya pun pasti kuat.
Bagaimana menurut kamu, apakah ET masih layak diberikan kesempatan membenahi sepak bola Indonesia?
Muncul wacana untuk memanggil kembali Shin Tae-yong, apakah kamu setuju pelatih asal Korea Selatan itu menggantikan Kluivert?
Bagaimana kamu melihat Liga 1 Indonesia, mengapa sepak bola lokal kita tidak maju-maju?
Muhammad Gading Dwi Pramudya, mahasiswa FISIP Universitas Lambung Mangkurat, menegaskan sepak bola Indonesia harus dikelola orang yang benar-benar cinta dan paham olahraga ini.
"Bukan yang sekadar mencari panggung politik," kata pemuda 21 tahun, Jumat (17/10).
Gading merasa, ET berhak mendapat kesempatan kedua, tapi dengan satu syarat. "Selama ini ET sibuk mengejar prestasi instan melalui naturalisasi dan timnas senior. Harusnya benahi fondasinya, yakni pembinaan pemain muda dan manajemen liga," kata Gading.
"Tapi kalau dia hanya ingin tampil di depan kamera sewaktu timnas tanding, ya percuma, lebih baik mundur saja," katanya.
Soal wacana kembalinya STY, ia setuju. "Memang STY juga punya kelemahan. Kadang keras kepala dan kurang diplomatis, tapi hasil kerjanya terlihat," ujarnya.
Masih lebih baik ketimbang Kluivert. "Gaya permainannya tidak jelas. Seperti tim yang kehilangan arah," cecarnya.
Ia menyebut STY sebagai opsi yang realistis. "Kalau gonta-ganti pelatih, tim dipaksa beradaptasi terus. STY kan bukan pelatih baru," tukasnya.
Soal Liga 1, menurutnya kompetisi ini dikelola dengan sistem yang busuk. "Klub-klub dikelola perusahaan keluarga, bukan institusi bisnis profesional," ucap Gading.
Sementara Liga 2 dan Liga 3 sering berhenti di tengah jalan. Intinya, Gading menyarankan reformasi liga dari bawah. "Saran saya, revolusi kompetisi domestik harus dimulai dari pembinaan usia muda," tutup Gading.
Sementara itu, Rizky Fadilah mencibir Liga 1 Indonesia sebagai liga amatiran.
Segi pengembangan bakat muda, ia melihat sudah mulai bergeliat. Tapi dengan satu catatan. "Bakat bukan hanya perlu dicari dan dikembangkan, namun juga harus dijaga," tegas pemuda 22 tahun itu.
Rizky melihat banyak pemain muda yang potensial tapi gagal menjaga pola hidup sehat. Contoh makan sembarangan dan senang begadang.
"Mindset mereka belum layak sebagai pemain pro," kata mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat itu. "Mengubah dan melatih mental pemain muda itu tanggung jawab klub-klub di Liga 1."
Sementara itu, Muhammad Rifki Rifani, mahasiswa Universitas Terbuka Palangkaraya, mengaku masih optimistis terhadap masa depan sepak bola Indonesia.
"Saya sebagai pecinta sepak bola tanah air tidak pernah berhenti bermimpi suatu saat Indonesia bisa tampil di Piala Dunia," ucapnya penuh harap.
Soal kualitas Liga 1, Rifki menilai pembinaan pemain muda masih lemah. "Masalah utama ada di pelatihan usia dini yang belum merata dan berkelanjutan," ucapnya.
Menurutnya, ini bukan hanya tugas federasi, tapi juga peran pemerintah daerah.
"Kalau ingin sepak bola maju, jangan hanya fokus di kota. Bibit unggul bisa tumbuh dari pelosok," tutup pemuda 21 tahun itu.
Senada dengan Hafizh Al Huda. Mahasiswa 21 tahun itu menyoroti kondisi Liga 1 yang manajemen klubnya lemah, kualitas wasitnya buruk, dan infrastrukturnya tertinggal.
Ia meminta Indonesia meniru Jepang dan Korea Selatan yang maju karena memiliki fondasi kompetisi domestik yang sehat, di mana kualitas timnas menjadi dampak
Maka ia mendorong agar PSSI membangun sistem liga yang transparan dan kompetitif. Serta memastikan adanya akademi sepak bola di setiap daerah.
Hafizh menegaskan bahwa membangun sepak bola tidak cukup dengan naturalisasi pemain atau gonta-ganti pelatih.
"Kalau fondasinya kuat, pelatih siapa pun akan mudah membentuk timnas yang tangguh," kata mahasiswa FISIP ULM itu.
Editor : Arief