Di lingkungan pemerintahan, Nanang Adun sudah jadi langganan. Ia sering diminta untuk mengisi berbagai macam acara.
***
Menghadiri undangan dari Disporabudpar Banjarbaru dan Forkopimda, hingga mengisi acara pernikahan dan saprah amal sudah menjadi rutinitas Nanang Adun.
Namun, dari sekian banyak pengalamannya mentas, ada satu yang paling berkesan bagi dirinya.
Yakni, ketika tampil pukul 01.00 dini hari dan penonton sudah bubar. “Tinggal panitia yang merapikan kursi. Tapi kami tetap tampil dengan semangat,” ujarnya terkekeh.
Bukan tanpa sebab. Bagi Adun, tampil profesional saat tampil membawakan madihin bukan sekadar melestarikan budaya, tapi juga menjaga identitas Banua.
“Jangan malu belajar, jangan ragu tampil. Karena lewat suara pantun, petatah-petitih, dan irama terbang, kita bisa buktikan bahwa tradisi tetap bisa eksis di zaman now,” pesannya.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief