Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Mengunjungi Stand Teman Tuli di UMKM Expo Banjarbaru, Sehari Produksi 100 Porsi Kue

Sheilla Farazela • Rabu, 17 September 2025 | 12:32 WIB
MEMASAK: Salah satu juru masak dari kalangan disabilitas tuli saat menunjukkan keterampilan memasaknya di Expo Koperasi dan UMKM di Lapangan dr Murdjani Banjarbaru.
MEMASAK: Salah satu juru masak dari kalangan disabilitas tuli saat menunjukkan keterampilan memasaknya di Expo Koperasi dan UMKM di Lapangan dr Murdjani Banjarbaru.

Aroma manis apam serabi dengan gula merah tercium dari salah satu stand di Expo Koperasi dan UMKM di Lapangan dr Murdjani, Banjarbaru.

       ****
Di balik meja saji, sekelompok anak muda tampak sibuk menata kue. Mereka bukan sembarang peserta expo, melainkan Teman Tuli yang kini piawai mengolah makanan berkat pelatihan dari LPK Marlina.

“Anak-anak ini kami latih dari nol. Dari yang awalnya ragu pegang alat dapur, sekarang bisa bikin ratusan porsi kue setiap hari,” tutur Eka, salah satu pendamping LPK Marlina, Jumat (12/9) tadi.

Pelatihan memasak untuk kalangan disabilitas tuli ini sudah berlangsung sejak 2022.

Mereka berasal dari berbagai panti sosial, termasuk Vita yang datang dari Panti Iskaya Banaran. Ia mengikuti pelatihan angkatan pertama, lalu magang pada 2023, dan kini resmi bekerja di LPK Marlina.

Berbagai jenis makanan mereka hasilkan. Mulai apam serabi, roti pisang, roti gembong, hingga brownies kukus. Beberapa dibagikan gratis, sebagian lagi dijual kepada pengunjung expo.

Dalam sehari, para peserta mampu memproduksi setidaknya 100 porsi kue. Bahkan, mereka pernah mencapai 1.000 porsi dalam sekali produksi.

Namun, perjalanan itu tidak selalu mulus. Tantangan terbesar ada pada komunikasi. “Awalnya mereka takut mencoba dan juga kesulitan berkomunikasi. Kami harus ekstra sabar dalam mendampingi,” jelas Eka.

Pendekatan personal pun menjadi kunci. Para pelatih harus mengenali karakter masing-masing anak, termasuk kebiasaan yang bisa memicu tantrum. “Misalnya ada yang tidak bisa diberi gula berlebihan karena bisa mendadak tantrum. Jadi kami harus benar-benar memahami kondisi mereka,” tambahnya.

Editor: Sutrisno

Editor : Arief
#UMKM #disabilitas #banjarbaru #kerja #usaha