Langkah kaki bocah itu menyusuri gang kampung di Kotawaringin Barat. Di atas kepalanya, tumpukan plastik berisi donat hangat buatan sang ibu terlihat rapi.
****
Seusai pulang sekolah, ia menjajakan kue manis itu dari rumah ke rumah. Kadang laris, kadang justru pulang dengan hati nelangsa karena ditipu pembeli.
Bocah itu adalah Irfan. Kini, ia bukan lagi anak penjual donat. Irfan tumbuh menjadi Kasubbag Keprotokolan Pemko Banjarbaru, sosok yang akrab di lingkaran pejabat kota. Namun, perjalanan hidupnya jauh dari kata mulus.
“Dulu saya pernah ditipu dua kali saat jualan donat. Tapi ibu selalu menenangkan, katanya itu pelajaran supaya saya lebih hati-hati,” kenang pria kelahiran Banjarmasin 33 tahun lalu itu kepada Radar Banjarmasin.
Di bangku SMP, Irfan menyimpan mimpi besar: masuk Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Tetapi mimpi itu justru jadi bahan ejekan teman-temannya. “Mereka bilang, orang seperti saya hanya cocok jadi buruh. Tapi saya percaya, mimpi tidak boleh dibatasi oleh tempat kita dilahirkan,” tegasnya.
Keyakinan itu jadi bahan bakar. Irfan terus belajar, berdoa, dan berusaha. Hingga akhirnya, pintu IPDN Jatinangor terbuka untuknya. Ia menempuh pendidikan di sana dan resmi lulus sebagai aparatur sipil negara (ASN) pada 2016.
Kariernya dimulai sebagai CPNS di Kementerian Dalam Negeri. Setahun kemudian, ia ditempatkan di Banjarbaru. Dari staf Disdukcapil, Irfan dipercaya menjadi ajudan Sekda Banjarbaru Said Abdullah selama empat tahun. Posisinya membuatnya sering berada di garis depan kegiatan resmi, menyiapkan segala keperluan protokoler.
Kini, selain menjabat Kasubbag Keprotokolan, Irfan juga kerap diundang menjadi narasumber. Dari Direktorat Jenderal Pajak Kalselteng, Pemkab Balangan, hingga sekolah-sekolah di Banjarbaru. Di setiap forum, ia tak sekadar mengajarkan teknis protokoler, tapi juga menanamkan nilai penghormatan, ketertiban, dan budaya lokal.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief