Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Berkebun di Gang Sempit, Begini Kisah Eboy Si Petani Hidroponik di Banjarmasin

Riyad Dafhi Rizki • Jumat, 29 Agustus 2025 | 11:57 WIB
OTODIDAK: Akhmad Fujyantoni alias Eboy (36) sudah berkebun hidroponik sejak tahun 2019.
OTODIDAK: Akhmad Fujyantoni alias Eboy (36) sudah berkebun hidroponik sejak tahun 2019.

Bercocok tanam tidak selalu harus di lahan yang luas. Ilmu dari YouTube, pupuk dari sampah organik, dan kemauan sudah cukup.

 

        *****
GANG Bambu Indah di Jalan Pekapuran Raya, Banjarmasin Timur, nyaris tak menyisakan ruang. Rumah-rumah berdiri rapat, lorong sempitnya dan hanya cukup dilalui dua sepeda motor.

Namun di salah satu sudut gang, sebidang halaman berukuran 10x6 meter tampak hijau dan segar.

Di atas tiga meja panjang yang dibuat dari baja ringan, sekitar 30 pipa paralon tersusun rapi. Tiap pipa memiliki lubang—jumlahnya kurang lebih 540—dipenuhi selada hijau yang tumbuh sehat.

Seorang pria mondar-mandir di sana. Sesekali berhenti, menunduk, memeriksa tanaman.

Namanya Akhmad Fujyantoni, sejak 2019 ia menyulap halaman sempit rumahnya menjadi kebun hidroponik.

"Semuanya saya pelajari sendiri," ujarnya, Kamis (28/8). "Dari video YouTube, cerita teman, sampai akhirnya berani mencoba. Selain selada, kadang saya tanam pakcoy, sawi, dan sayuran lain."

Prosesnya sederhana, benih tanaman ditanam di atas rockwool (media tanam yang terbuat dari batu tertentu).

HIJAU SEGAR: Kebun sayur hidroponik milik Eboy berada di Gang Bambu Indah, Jalan Pekapuran Raya, Banjarmasin Timur.
HIJAU SEGAR: Kebun sayur hidroponik milik Eboy berada di Gang Bambu Indah, Jalan Pekapuran Raya, Banjarmasin Timur.

Dalam beberapa hari, benih akan berkecambah, tumbuh daun pertama, dan akar mulai menembus serat-serat rockwool.

Setelah bibit cukup kuat, biasanya berusia beberapa hari, ia dipindahkan ke instalasi hidroponik. Bibit dimasukkan ke dalam netpot kecil, kemudian ditempatkan di lubang pipa paralon yang sudah tersusun rapi. Dari bawah, akar tanaman menyentuh larutan air yang terus mengalir, membawa semua zat hara yang dibutuhkan.

Menariknya, kebunnya tak bergantung pada air leding. Hanya mengandalkan air kolam di bawah instalasi tanam.

Tidak membuat tanaman rusak? Eboy, sapaan akrabnya, tersenyum. "Kuncinya ada di pupuk," katanya.

Pupuk menjaga tanaman tetap sehat dan pipa paralon bebas lumut, dengan tambahan pestisida seperlunya.

Tapi, pupuk dan pestisida ini tidak mengandung kimia. Melainkan inovasi Eboy sendiri dari sampah organik rumah tangga.

"Ini membuat operasional lebih hemat hingga 60 persen. Kita juga sekalian menerapkan prinsip zero waste," ucap pria berusia 36 tahun itu.

Hasilnya? Setiap bulan ia bisa meraup keuntungan mencapai Rp2-3 juta dari penjualan sayuran, termasuk pupuk dan pestisida buatannya.

Usahanya kini berkembang. Eboy membentuk tim bernama Hidroganik Alfa, beranggotakan tujuh orang.

Mereka menawarkan jasa instalasi hidroponik sekaligus pelatihan. "Alhamdulillah, sekarang saya sudah mengantongi sertifikat dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sebagai instruktur," ujarnya bangga.

Mereka tak pelit berbagi ilmu. Tim ini memberikan bimbingan penuh hingga klien benar-benar bisa berkebun sendiri. Berbeda dengan penyedia jasa lain, yang kebanyakan hanya merakit instalasi tanpa mengajari.

"Mau bertanya sepuasnya kami akan melayani. Bisa datang ke rumah, atau kami yang datang, terserah. Yang terpenting klien benar-benar paham," terangnya.

Saat ini mereka juga kerap diundang pemerintah desa di berbagai daerah Kalimantan Selatan untuk membimbing warga.

Namun, katanya, ini bukan semata-mata soal uang. Ia ingin menginspirasi masyarakat agar mau bertanam, terutama di kota seperti Banjarmasin yang lahannya makin sesak.

"Biar bisa punya tambahan penghasilan, sekaligus ruang hijau sendiri."

Editor: Syarafuddin

Editor : Arief
#hidroponik #kebun #banjarmasin #kerja #Sayur