Meski dikenal luas sebagai guru mengaji, Ali sebenarnya lebih dulu menekuni jalan sebagai pekerja sosial.
***
Ali aktif di berbagai organisasi kemanusiaan, hingga kini dipercaya menjabat Ketua Koordinator Kecamatan Liang Anggang di Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Banjarbaru.
“Kalau ada urusan sosial yang sifatnya mendesak, saya harus mencari pengganti untuk mengajar. Tapi kalau bisa ditunda, saya tetap mendahulukan anak-anak,” ujarnya.
Ia menyebut dirinya “mewakafkan" diri untuk umat. Baginya, baik mengajar Al-Qur'an maupun membantu masyarakat yang kesusahan adalah bagian dari ibadah yang tak bisa dipisahkan.
Di balik aktivitasnya yang padat, Ali menyimpan mimpi besar. Ia ingin suatu hari bisa membangun sebuah kawasan terpadu untuk masyarakat kurang mampu: hunian layak yang dilengkapi lahan pertanian agar mereka bisa hidup mandiri.
“Mimpi saya membuat satu kompleks khusus untuk mereka. Bukan untuk dimiliki, tapi tempat mereka bisa menumpang, tinggal bersama, dan dibina. Baik secara ekonomi maupun keagamaan,” ucapnya penuh harap.
Sosok Ali Ridho menunjukkan bahwa pengabdian tak selalu lahir dari orang-orang besar dengan fasilitas berlimpah. Dari sebuah rumah kecil, ia menyalakan cahaya untuk anak-anak agar bisa membaca Al-Qur'an. Dari kerja sosial yang senyap, ia berusaha meringankan beban mereka yang kesulitan.
Ali percaya, hidup akan lebih bermakna bila dijalani untuk orang lain. Dan dari sosok sederhana inilah, masyarakat Banjarbaru belajar arti pengabdian yang sesungguhnya.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief