Rumah Disabilitas Borneo adalah ruang di mana kemauan tak pernah mengenal kata terbatas.
**
BANJARMASIN - Seorang perempuan sibuk menjelaskan. Di sampingnya, seorang penerjemah meneruskan setiap kata yang diucapkan dengan bahasa isyarat. Belasan pasang mata menatap serius, menyimak tanpa suara.
Mereka adalah anggota Komunitas Rumah Disabilitas Borneo yang sedang mengikuti pelatihan menjahit kain sasirangan di bekas kantor Kementerian Sosial di Jalan Batu Besar Nomor 9, Teluk Dalam, Banjarmasin Tengah, Senin (25/8).
Program kali ini digelar dengan dukungan dana BUMN, untuk membekali para penyandang disabilitas dengan keterampilan yang dapat menjadi sumber penghasilan.
"Banyak dari mereka yang setelah lulus sekolah tidak tahu harus ke mana. Orang tuanya khawatir anak-anaknya tidak bisa hidup mandiri. Dari keresahan itu, saya mendirikan komunitas ini," tutur Norhidayah, inisiator sekaligus pendiri komunitas, yang sehari-hari mengajar di SLBN 3 Banjarmasin.
Bagi Dayah—begitu ia akrab disapa—tantangan terbesar para penyandang disabilitas adalah dunia kerja yang belum inklusif.
"Masih kurang menerima penyandang disabilitas. Semestinya perlu ada ruang khusus untuk mereka," ujarnya.
Sementara ia menilai, program Balai Latihan Kerja (BLK) milik pemerintah sering kali tidak efektif. "Setelah selesai program, pembinaan juga selesai. Bantuan alat usaha yang diberikan pun sering akhirnya dijual karena mereka tidak tahu harus diapakan," imbuhnya.
Sedangkan di Rumah Disabilitas Borneo, mereka telah menyusun program jangka panjang sehingga para anggotanya benar-benar bisa hidup berdaya.
Didirikan pada 2021, Rumah Disabilitas Borneo kini membina 25 anggota, sebagian besar tunarungu dan tunagrahita.
Menjahit kain sasirangan hanya satu dari sekian keterampilan yang diajarkan kepada para anggota.
Selain itu, ada pula pembuatan kerajinan manik-manik, perakitan tas, beternak ikan lele, hingga bercocok tanam sayuran dengan sistem hidroponik.
"Tergantung assesment, mereka cocoknya belajar apa. Nanti kami bantu fasilitasi," terang Dayah.
Hasil karya mereka dipasarkan ke berbagai tempat. Manik-manik dipasarkan di kawasan wisata Siring Menara Pandang setiap akhir pekan, kain sasirangan dijual langsung di sekretariat komunitas yang berlokasi tak jauh dari tempat pelatihan, sementara sayuran dan hasil ternak ikan didistribusikan kepada orang yang memerlukan.
Keuntungan dari penjualan produk sepenuhnya diberikan kepada anggota, sebagian lagi diputar untuk modal usaha berikutnya.
Di sudut ruangan, seorang perempuan muda tampak terampil mengoperasikan mesin jahit.
Namanya Dea. Usianya 23 tahun. Ia mengaku senang bergabung di komunitas ini karena bisa banyak belajar hal baru.
Ditanya keinginan, jawabannya tak muluk-muluk. "Ilmu ini pengin saya bagi ke teman disabilitas lain. Kalau bisa buka usaha sendiri," katanya, melalui penerjemah.
Hari itu, Harkanah, guru dari SLBN 2 Banjarmasin, juga hadir membawa dua muridnya.
"Program ini sangat bagus. Banyak anak disabilitas yang punya minat tinggi belajar keterampilan, tapi jarang ada pelatihan seperti ini. Saya juga bisa belajar cara menangani anak-anak berkebutuhan khusus," ujarnya.
Meski banyak sambutan hangat, perjalanan komunitas ini tidak mudah. Keinginan merekrut lebih banyak anggota terhambat minimnya dana.
"Jarang ada yang mau jadi sponsor. Kami harus ke sana kemari mencari dukungan," ungkap Dayah.
Kendala lain adalah kurangnya tenaga pendamping. Saat ini hanya ada delapan relawan yang membantu, itu pun sebagian besar merupakan ASN yang harus membagi waktu dengan pekerjaan utama mereka.
Karena minimnya support, Dayah bahkan mengaku sempat putus asa dan berpikir untuk menghentikan seluruh program komunitas ini.
"Tapi ketika melihat mata anak-anak, saya jadi kasihan. Kepikiran bagaimana nasibnya kalau komunitas ini bubar," tuturnya.
Namun, di balik segala keterbatasan membayangi, semangat tak pernah padam. Mereka menolak diam, terus bergerak, membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya.
"Harapan kami, mereka bisa mandiri dan percaya diri. Disabilitas bukan halangan untuk berkarya," tutup Dayah.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief